Thursday, June 7, 2018

I'm Home

Setahun lebih. Kalau blog ini berbentuk rumah, sudah pasti penuh debu saking lamanya ditinggal.

Sebetulnya saya sudah memutuskan untuk fokus di medium.com untuk tulisan umum, tapi karena aplikasi medium eror di ponsel saya walaupun sudah coba reinstall, kayaknya medium harus disingkirkan dulu. Jadi saya kembali ke sini.

Di dunia maya, adalah hal yang biasa untuk berpindah-pindah 'rumah' demi mencari kenyamanan. Buat saya, multiply masih jadi rumah paling favorit. Sayangnya rumah yang satu itu sudah ditutup. Sama dengan rumah kedua favorit saya: forum Aestera.

Sebelum ke medium, ada satu rumah yang sempat saya singgahi meski hanya sebentar. Rumah yang sempat membuat saya kagum dan berekspektasi tinggi, sampai-sampai saya dengan antusias mengajak teman-teman saya ke sana. Pada akhirnya harapan saya tergerus perlahan karena tempat itu tidak sesuai ekspektasi saya. Lalu, masalah yang menempatkan saya sebagai antagonis.

Ah, sudahlah. Toh saya tidak menyesal angkat kaki dari sana. Saya berusaha menyampaikan saran sesopan mungkin, meminta maaf karena dianggap menuntut, tapi sepertinya saya tetap dianggap melewati batas. Entah batas apa yang dimaksud, saya gagal paham. Saya tidak merasa bersalah karena sudah menjelaskan maksud saya, jadi saya pergi tanpa penyesalan. Hanya membawa kekecewaan.

Tapi biar bagaimanapun, ada hal-hal yang saya dapatkan di sana: motivasi untuk kembali menulis, teman-teman baru, dan beberapa tulisan inspiratif. Saya sangat berterima kasih untuk itu. Terima kasih untuk mengembalikan motivasi menulis saya. Terima kasih telah memberi saya teman-teman baru. Terima kasih atas tulisan beberapa anggota yang berhasil meninggalkan kesan untuk saya.

Lalu sekarang, saya memilih untuk melupakan tempat itu dan kembali ke rumah lama yang berdebu ini, hanya dengan membawa hal-hal positif.

I'm home!

1 comment:

  1. Selamat datang di rumah lama yang bebas merdeka tanpa ancaman jargon yang dibawa-bawa perisak. Saya juga gagal pahan apa maunya selain sirat kepongahan sang pahlawan yang berani menyerang karana bersembunyi di balik anonimnitas lantas mericuh dengan menuduh pihak lain bikin rusuh menyentuh ranah terlarang. Seakan ada semacam arogansi kekuasaan berkat recehan.
    Di sama tak ada asas simbosis mutualisma antata pemilik modal (kapital) dengan anggotanya. Padahal suatu platform bisa besar berkat citra baik dari mulut ke mulut. Untuk itu dibutuhkan semacam profesionalisme. Namun kita telah lihat bagaimana tanggapannya, yah, bukan tempat yang bisa dijadikan rumah. Dari awal juga ada banyak hal yang tidak kita tahu karena tidak tegas-tegas menyatakan bukan literasi. Jadi ada yang bingung. Menulis 'kan bagian dari literasi.
    Entahlah, tempat itu bisa jadi semacam eksperimen, suatu proyek percontohan akan kumpulan watak dasar manusia.
    Kita ambil positifnya saja, bisa jumpa banyak orang baik yang menghargai kita. Yang tetap menjadikan atau menganggap kita sebagai teman. Dan mungkin ada yang merasa kehilangan.
    Saya juga merasa kehilangan beberapa teman baik di sana dengan tulisan khas masing-masing. Namun hidup harus berlanjut. Barangkali jalan kita telah dipilihkan Tuhan untuk sampai mana dan akan ke mana.
    Maka, selamat datang di rumah lama ini. Rumah yang lebih menenangkan jiwa karena kita bebas mengisinya dengan cara bagaimana. Menjamu tamu yang tahu bagaimana cara berperilaku sesuai adab dengan sajian hidangan pengalaman hidup kita.
    Bukankah izzah berdasarkan hati nurani juga? :)

    ReplyDelete