Thursday, October 6, 2016

[Review: Novel] The Secret of Room 403

Judul Buku: The Secret of Room 403
Penulis: Riawani Elyta
ISBN : 9786021614518
Penerbit: Indiva


Aliff larut dalam kesibukannya menulis skenario sinetron. Kala dia berencana untuk rehat sejenak, Goerge datang menawarkan sebuah proyek. Proyek yang menariknya menuju sebuah titik pencerahan. Proyek yang juga menariknya pada pusaran tragedi masa lalu.

Berbekal sebuah bundel misterius, Aliff dititahkan menulis novel biografis tentang sosok dari kalangan militer, ayah dari salah satu bakal calon presiden yang akan berlaga di pilpres mendatang. Kejanggalan demi kejanggalan dia temukan. Naluri dan nuraninya terhenyak. Terlebih saat Revi, gadis sederhana yang dia kenal di tengah liburan, menunjukkan sebuah buku catatan dengan tulisan tangan yang persis sama dengan tulisan dalam bundel itu.




Baca blurb di atas dan judul bukunya, mungkin banyak yang mengira bahwa novel ini akan banyak memacu adrenalin, berisi tentang konspirasi dan intrik. Nyatanya, saya dibuat kecele. Hehehe....

Di novel ini memang ada isu konspirasi, intrik kekuasaan, dan adegan kejar-kejaran, tapi sebagian besar isi novel ini dibawakan dengan ritme yang 'tenang'. Malah bisa dibilang menenangkan.

Bercerita tentang Aliff, seorang penulis yang kini sibuk menulis skenario sinetron. Sistem sinetron yang kejar tayang membuat Aliff biasa begadang dan baru tidur menjelang pagi. Aliff sudah melupakan idealismenya dalam menulis. Yang terpenting baginya sekarang adalah menulis sebanyak mungkin, lupakan tentang kualitasnya. Aliff merasa tak ada yang salah dengan hidupnya sampai ada seorang rekannya yang meninggal karena terlalu banyak bekerja. Mau tak mau, Aliff jadi khawatir dan berpikir untuk berlibur.

George, teman lama Aliff yang kini memiliki penerbitan sendiri, menghubungi Aliff di waktu yang tepat. Ia menawarkan pekerjaan untuk Aliff. Pekerjaan yang menurutnya akan mengembalikan Aliff pada 'kebebasan' yang diidam-diamkannya. Aliff diminta menulis novel biografis tentang sosok ayah dari salah seorang bakal calon presiden. Untuk referensinya, Aliff diberikan sebuah bundel yang ditulis oleh beliau. Tetapi Aliff harus merahasiakan pekerjaan ini dari siapa pun sebelum novelnya naik cetak.

Memutuskan untuk menulis novel tersebut sembari berlibur, Aliff membawa bundelan tersebut ke Tanjungpinang. Bundelan yang menemaninya selama beberapa lama itu ditulis dengan sepenuh hati hingga berhasil membuat Aliff selalu teringat pada hal-hal yang terlupakan olehnya. Di tengah kekagumannya pada sosok beliau, Revi, guidenya selama liburan, memperlihatkan catatan dengan tulisan yang sama dengan bundelan itu.

Jadi, berapa banyak porsi konspirasi dan intrik kekuasaan di novel ini? Hm... Sebenarnya hampir separuhnya, atau minimal seperempat, karena ditulis dengan alur maju mundur. Tapi gaya penulisan Mbak Lyta bikin novel ini terasa tenang. Bukannya soal konspirasinya nggak terasa, tapi emang dominasinya lebih ke mencari ketenangan dan juga ada unsur travelling karena Aliff pergi berlibur. Menurut saya, ini unik banget.

Selain gaya penceritaan yang unik, yang saya suka, novel ini juga terasa kental unsur Islamnya tapi tanpa kesan menggurui. Malah, cara Mbak Lyta menyampaikan perubahan pada sosok Aliff cenderung jenaka. Asyik bacanya.

Di novel ini juga ada banyak pengetahuan (dan sindiran) tentang dunia kepenulisan. Tentang penulis yang kejar tayang dan nggak peduli kualitas, tentang ghost writer, tentang dosa yang mungkin dilakukan oleh penulis. Dosa di sini maksudnya dosa secara harfiah, ya, bukan kiasan.

Konspirasi dan intrik yang ada di sini juga sering bikin ngedumel sendiri. Dan...rasanya mungkin masih banyak terjadi di Indonesia, meski nggak kelihatan.

Terakhir, aku suka endingnya. Ehehehe....

Rating berapa ya? Mungkin ... 4.5/5
Overall memuaskan ^^

No comments:

Post a Comment