Friday, October 28, 2016

Jualan Online

Di zaman yang makin praktis kayak sekarang, internet udah jadi salah satu kebutuhan primer. Karena itu, nggak heran kalau penjualan online juga makin banyak. Mulai dari yang buka toko online sendiri, sampai sekadar jadi reseller barang tertentu.

Selama ini, saya kurang tertarik sama dunia jual beli barang karena merasa diri ini nggak ahli jualan. Hahaha… Makanya, meskipun saya lebih suka cari kerjaan yang bisa dikerjain di rumah dengan bantuan internet, saya lebih milih kerjaan yang berhubungan dengan jual-beli jasa. Nulis, nerjemah, dan semacamnya. Tapi kejadian kemarin yang berkaitan dengan penjual online bikin saya senyum-senyum.

Beberapa hari sebelumnya, saya nggak sengaja lihat video yang dishare teman di Facebook. Videonya tentang kesalahan yang sering dilakukan oleh penjual online dan bagaimana yang benar. Video itu bikin saya ketawa sambil bilang, “Rese.” karena saya tau, tekniknya betul banget. Hehehe….

Sayang saya nggak nemu videonya lagi karena lupa siapa yang share dan apa judul pastinya. Inti yang saya dapat dari video itu adalah, penjual jangan cuma menjawab pertanyaan calon pembeli saya, tapi juga harus memberi umpan. Misalnya saat ditanya satu produk, si penjual bisa dengan cerdik bertanya, “Barangnya mau dipakai sendiri atau untuk keluarga, Mbak?” Tujuannya apa? Untuk menggiring ke arah promosi lain. “Ada diskon kalau beli 3 produk,” misalnya. Hehehe… Menggiurkan buat calon pembeli kan?

Menurut saya, ini teknik penjualan yang cerdas. Dan yang lucu adalah, selang beberapa hari setelah nonton video itu, saya mengalami sendiri berhadapan dengan dua jenis penjual yang ada di video.
Jadi, ceritanya saya sedang cari buku. Kebetulan waktu browsing, saya nggak sengaja nemu paket buku dari penulis yang sedang saya incar (1 paket 3 buku). Akhirnya saya menghubungi toko online ini.

Sayangnya, buku yang paling saya incar justru lagi kosong. Tapi dengan cerdiknya, si penjual mengarahkan saya untuk beli 4 buku penulis tersebut yang ready stock. Nggak tanggung-tanggung, dia langsung ngasih list harganya berserta diskon, juga nomor rekening untuk transfer. Tapi nih, sebelum saya transfer, saya sadar kalau ternyata ongkirnya 19.000, artinya penjual bukan dari jabodetabek dong? Akhirnya saya bilang di-hold dulu karena mau cek di toko online yang lebih deket. Kan lumayan irit ongkir gitu…. Eh, langsung diingatkan kalau diskonnya waktunya terbatas. Hehehe… Asli langsung keinget video tentang contoh penjual yang baik itu deh.

Meskipun di dunia marketing dibilang bahwa 80% pembeli membeli barang berdasarkan emosi (saya abis ngintip teori tentang marketing nih), sayangnya saya tipe pembeli yang 20%: membeli berdasarkan logika. Jadi saya mikir untung-untungan aja. “Besok mungkin harga sudah naik” means belom tentu juga harga beneran naik. Dan meskipun buku-bukunya dibilang fast moving (saya rasa ini betul sih), saya tetep keukeuh tanya-tanya di toko lain dulu.

Toko online kedua yang saya tanya tentang ini ternyata adalah contoh penjual yang tidak baik (menurut video yang saya tonton itu), karena dia cuma jawab apa yang saya tanya.

“Bukunya ada nggak?”

“Stocknya kosong.”

“Oh… Buku beliau yang lain ada?” Ya kan kalo stoknya sama kayak toko buku sebelumnya dan diskonnya sama, jatuhnya lebih murah juga karena ongkirnya lebih kecil.

“Cuma ada 2. Buku A sekian rupiah. Buku B sekian rupiah.”

Hm… Rupa-rupanya di toko kedua ini cuma ada dua buku, salah satunya bukan yang jadi prioritas saya, dan nggak ada diskon. Hm… Hmmm....

Sempat tanya ke teman lain yang juga jualan buku, tapi di teman saya malah kosong sama sekali. Akhirnya, setelah menimbang antara toko satu dan dua, saya pilih beli dari toko pertama. Karena toko kedua late response, saya baru hubungi toko pertama di malam keesokan harinya. Dan tebak apa! Iya, alhamdulillah stok yang ditawarin di awal masih ada, diskonnya juga belum berkurang. Hehehe….

Ilmu marketing itu menarik ya? Saya nggak keberatan sih dengan gaya penjual yang seperti penjual pertama. Dia menggiring calon pembeli supaya membeli lebih banyak, supaya merasa ‘harus beli sekarang’, supaya si calon pembeli nggak pikir-pikir lagi.

Tadi saya sempat intip-intip tentang beberapa teknik pemasaran. Sebetulnya, sebagai pembeli yang lebih banyak pakai logika, saya suka ngernyit kalau lihat promosi-promosi zaman sekarang (eh, apa ini dari dulu ya?). Secara umum, teknik jitu memasarkan produk katanya seperti ini, dengan contohnya: 
  1. Penawaran gratis. Bisa gratis ongkir, gratis produk lain, atau semacamnya.
  2. Penawaran paket. Kalau beli sepaket harganya jadi lebih murah.
  3. Penawaran jaminan. Garansi uang kembali, dijamin lulus ujian, atau bahkan dijamin omzet sekian juta.
  4. Penawaran ‘senilai’. Bonus ebook senilai sekian ratus ribu.
  5. Penawaran dengan diskon yang menggoda. Wanita hamil diskon 30%.
  6. Penawaran dengan waktu yang terbatas. Diskon 50% khusus untuk yang transfer hari ini.
  7. Penawaran dengan hadiah yang nilainya lebih tinggi dari harga produk yang dijual. Beli buku senilai seratus ribu berhadiah voucher  seminar senilai lima ratus ribu.

Kira-kira seperti itu. Lalu, apa penawaran seperti itu salah? Menurut saya nggak salah sih, selama jujur dan masuk akal. Satu buku berani menjanjikan pembacanya dapat omzet sekian juta itu ‘wow’ banget lho. Kayaknya sih kebanyakan yang kasih jaminan semacam ini nggak bohong, cuma biasanya punya ‘syarat dan ketentuan’ yang nggak disebutkan.

Ada juga yang suka memberi bonus-bonus yang banyak, tapi kalau pembelinya berpikir, sebetulnya bonusnya bukan sesuatu yang penting. Atau malah sering kali nggak kepake sama sekali.

Tapi yang paling menyebalkan dari promosi-promosi itu adalah, kebanyakan pakai bahasa yang berlebihan dan ambigu, lalu mengesankan bahwa produk yang dijual itu ‘SESUATU’ banget. Padahal kenyataannya nggak semanis itu. Itu bakal bikin pembelinya kecewa.

Soal diskon juga. ‘Hanya berlaku untuk hari ini’ itu kebohongan juga lho kalau besoknya tetap berlaku. Pakai kata ‘mungkin’? Hm… Gimana ya?

Kalau menurut saya sih, baiknya jangan suka pakai kata-kata ambigu deh untuk dapetin pembeli. Pintar menggiring boleh, tapi jangan sampai jatuhnya membohongi pembeli, meskipun dengan kata-kata yang ambigu. “Maksud saya begini kok. Pembeli aja yang nangkepnya begitu,” itu tetap NO-NO. Tetap aja sebagian besar dari kalian tahu kalau pembeli akan berpikir ke situ dan malah sengaja mengarahkan pembeli agar berpikir ke situ kan?

Dari Hakim bin Hizam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا – أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا – فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا ، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu.” (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532).

Untuk yang berjualan, selamat berjualan dengan jujur dan semoga berkah! ^^

1 comment:

  1. Satu buku berani menjanjikan pembacanya dapat omzet sekian juta itu ‘wow’ banget lho.

    WOW sambil ngakak guling-guling XD

    ReplyDelete