Thursday, October 27, 2016

Ghibah

Ghibah adalah salah satu dosa yang paling sulit dihindari, terutama oleh kaum hawa. Dan, saya sendiri mengakui kalau saya pun masih sering lalai dalam hal ini.

Kumpul-kumpul, ngobrol ngalor-ngidul, kalau nggak ada topik yang menarik untuk dibahas, ujung-ujungnya biasanya ngomongin orang. Apalagi di zaman maraknya medsos kayak sekarang. Status orang diomongin, foto orang diomongin. Media buat ngomonginnya juga lebih beragam. Nggak harus ketemu langsung, bisa ngomongin via WA, LINE, BBM, PM FB, dan lain-lain.

Iya nggak sih? Masih bagus kalau yang diomongin kebaikan orang, biar bisa bikin yang lain termotivasi, tapi kenyataannya umumnya orang lebih suka membicarakan keburukan orang lain, alias ghibah.

Padahal, sering diingatkan bahwa dosa ghibah itu seperti makan bangkai saudaranya sendiri. Hm... Gimana rasanya ya? Atau karena nggak pernah terbayang rasanya makan bangkai, jadi nggak terbayang dosa ghibah?

Kalau ancaman tentang makan bangkai saudara sendiri belum ampuh menghentikan kita berghibah, mungkin kita bisa mengingat kerugian lain bagi orang yang berghibah.


Pagi tadi saya dengerin ceramah singkat Ustadz Nuzul Zikri tentang "Nikmatnya Dighibah".

Lho? Dighibah kok nikmat? Iya. Pernah dong kita dengar hadits yang bunyinya seperti ini:
"Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR Muslim no. 6522)

Siapa yang mencerca orang dan menuduh orang tanpa bukti akan memberikan pahalanya pada orang yang ia cerca. Ini termasuk orang yang dighibah atau difitnah. Menanggapi hadits ini, ada kejadian yang dialami Hasan Al-Bashri.

Suatu hari, Hasan Al-Bashri mendengar bahwa ada seseorang yang menjelek-jelekannya. Beliau pun akhirnya mengutus orang untuk memberikan sepiring kurma (sumber lain mengatakan sebaki emas) pada pencelanya. Tanpa marah, beliau menyampaikan pada pencelanya, "Terima kasih karena kamu telah memberikan pahalamu padaku. Maaf saya tidak bisa memberi hal yang sama. Saya hanya bisa memberikan ini."

Beliau betul-betul paham bahwa kita nggak akan rugi dighibahi orang. Justru orang yang mengghibah lah yang akan rugi.

Kalau udah paham kerugian ghibah yang satu ini, masihkah kita mau berghibah? Perbanyak shalat, perbanyak sedekah, dan amalan-amalan lain, tau-tau nantinya jadi orang yang bangkrut karena sering ngomongin orang. Naudzubillah....

Apa sih alasan orang berghibah? Biasanya orang ngomongin orang lain karena sebel atau malah benci sama orang itu kan, ya? Kalau kita sebel sama orang, relakah kita memberi pahala kita pada orang itu? Pastinya nggak rela, kan? Jadi, nggak ada untungnya kita berghibah.

Harus diinget baik-baik tuh. Catet di diri sendiri: Mengghibah sama dengan memberikan pahala kita pada orang yang kita ghibahi. Jadi jangan ghibah! Jangan ghibah! (Ini selfnote buat saya pribadi)

Buat temen-temen terdekat saya, yang sering ngobrol ngalor-ngidul sama saya, mohon selalu diingatkan kalau saya mulai ghibah ya. Mana tahu diri ini lupa.

No comments:

Post a Comment