Saturday, October 8, 2016

[Flashfiction] Tafsir dan Politisasi

Tulisan di bawah ini adalah fiksi. Tapi isi percakapannya diambil dari berbagai sumber yang real. Jadi...yah, semi fiksi gitu? Silakan dinikmati.

====

Tafsir dan Politisasi


"Gue heran deh sama umat muslim zaman sekarang. Gampang banget dibegoin sama orang yang mainnya SARA."

Ucapan Doni yang tiba-tiba membuat Soleh mendongak. Ditelannya mi ayam yang ia kunyah dengan cepat untuk menanggapi ucapan sang teman.

"Maksud lo?"

"Itu lho, tentang ucapan Ahok yang diplintir orang-orang. Muslim kok mau aja dipanas-panasin," jawab Doni dengan wajah jengkel.

Soleh segera teringat kasus yang sedang ramai itu. Meski ia tak sering membuka media sosialnya, kasus itu sudah sempat ia dengar garis besarnya.

"Memang diplintirnya gimana, Bro?" Ia kembali bertanya dengan nada kalem.

"Itu lho, Ahok dibilang melecehkan Al-Quran. Padahal Ahok ngomongnya 'dibohongin pake Al Maidah', tapi orang-orang yang cari kesempatan buat jatohin Ahok bilang dia ngomongnya 'dibohongin oleh Al Maidah'. Kan itu namanya memprovokasi umat muslim!" sahut Doni emosi.


Soleh memperlihatkan wajah tertarik saat mendengar penjelasan temannya itu. Ia pun kembali bertanya,

"Emang bedanya apa, Bro?"

"Yaelah. Masa lo juga nggak paham, Leh? Kalo 'dibohongi pakai' artinya ada yang boong pake surat itu. Kalo 'dibohongi oleh' berarti yang bohong suratnya. Jadi jelas, Ahok nggak ngehina Al-Quran. Dia cuma bilang Al-Quran dipake buat ngebohongin orang!"

Soleh mengangguk-angguk mendengar penjelasan Doni sambil mengunyah mi ayamnya. "Bener juga ya lo, Don. Tumben lo pinter," candanya, yang segera berbuah keplakan Doni. Soleh cengengesan sebelum lanjut bertanya, "Terus Don, yang dia maksud berbohong itu siapa?"

"Itu orang-orang yang rasis. Yang mempolitisasi agama," jawabnya.

"Politisasi agama kayak gimana?" tanya Soleh lagi.

"Soal nggak boleh milih pemimpin kafir itu lho. Itu kan namanya membawa-bawa agama ke politik. Padahal lo tau sendiri, agama itu kan suci sementara politik kotor." Doni tetap menjawab pertanyaan-pertanyaan Soleh dengan antusias. Ia memang terbiasa berorasi di kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, jadi ia senang-senang saja dapat kesempatan bicara panjang lebar.

Giliran Soleh yang mengernyit. Memang politik identik dengan main kotor, tapi yang main kotor sebetulnya orang-orangnya kan? Bukan salah politiknya? Tapi ia berusaha mengabaikan bagian itu.

"Lho, tapi larangan milih pemimpin kafir emang ada di Al-Quran kan, Don? Emang nggak boleh ya kita ikut apa yang ada di Al-Quran?"

"Leh, Leh...." Doni berdecak sambil menggeleng-geleng. Hidungnya kembang kempis saat mulai menjelaskan, seolah sejak tadi menunggu-nunggu pertanyaan ini. "Kita nggak bisa gitu aja menerapkan apa yang tercantum di Al-Quran. Kita juga harus paham alasan ayat itu diturunkan, biar nggak salah penerapannya. Gue kira lo paham. Kan lo rajin ke mesjid."

Soleh nyengir. Justru dia yang heran. Doni yang ogah-ogahan tiap kali diajak ke mesjid kok tau-tau jadi kayak ahli Al-Quran.

"Iya, lo bener banget, Bro. Tumben banget lo ngomong kayak gini. Gue kagum lho. Terus jadinya penerapan surat Al Maidah mestinya gimana?"

"Ayat itu dituruninnya waktu perang, Bro. Arti kata 'awliya' kan nggak cuma pemimpin. Dia juga bisa berarti 'sekutu' atau 'penolong'. Nah, kalo liat turunnya ayat ini pas masa perang, jelas lah maksudnya sekutu di waktu perang. Bukan pemimpin daerah gitu lho."

"Ooh gituu.... Lo tiba-tiba jadi ahli tafsir, Don?" Soleh nyengir dengan nada menyindir. Ia dan Doni sudah biasa bercanda dengan nada itu, jadi ia tahu Doni tidak akan tersinggung.

"Sialan sindiran lo, Leh!" Doni meninju lengan Soleh sambil tergelak. "Itu bukan kata-kata gue lah. Itu kata Ustad Abu Janda Al-boliwudi. Followersnya banyak, Men."

Soleh kembali mengernyit. Abu Janda? Namanya kok begitu? Oh, al-boliwudi berarti dari India ya? Mungkin di India kata 'janda' artinya bagus? Eh, tunggu deh. Bollywood itu istilah industri perfiman India kan? Bukan nama daerah di India? Apa maksudnya dia berasal dari dunia industri film India? Soleh gagal paham deh.

"Oke, jadi kita nggak boleh bersekutu sama orang kafir ya? Lha kalo pemimpin bukannya malah lebih penting dari sekutu?" tanya Soleh lagi.

"Nah, itu lu masih salah juga, Bro. Pemimpin daerah itu, namanya doang yang pemimpin. Aslinya mereka pelayan rakyat, tugasnya melayani rakyat," jelas Doni.

"Hm...." Soleh menatap mangkuknya yang sudah tandas, lalu menyesap teh tawar miliknya. "Emang lo boleh nyuruh-nyuruh gubernur, Don? Kalo gubernur itu 'pelayan' rakyat, dia ga boleh gusur-gusur majikannya dong?"

Doni diam sejenak. "Ya nggak gitu juga...." Terlihat jelas ia sedang berusaha mencari jawaban yang tepat. Mungkin balasan ucapan Soleh tidak ada di tulisan ustad dari dunia perfilman India itu. "Lagian, ini kan masalah pilkada DKI doang. Kok jadi ributnya seantero Indonesia? Macem masalah nasional aja." Akhirnya Doni mengalihkan ucapannya.

Soleh mengangkat alis, "Oh iya, kan belum masa kampanye ya? Dia nyuri start kampanye gitu?"

"Bukaaan!" Doni segera membantah. "Dia cuma bilang kalo pun dia ga jadi gubernur lagi, proyek bakal tetep jalan."

"Ngomong gitu doang ngapain pake bilang orang-orang dibohongin pake Al Maidah?" Soleh kembali mengernyit, gagal paham. "Dan, tadi lo bilang ini masalah pilkada, tapi dibilang nyuri start bukan. Gimana sih?"

Doni mingkem. Kecele karena tadi salah ngomong.

"Lagian, gue sih bukan masalah pilkadanya, Don. Dia udah bawa-bawa Al-Quran, padahal dia kan non muslim, emang dia paham Al-Quran? Mana bilangnya Al-Quran dipake buat bohong. Itu tuduhan serius lho. Kalo emang ada yang berbohong pake Al-Quran, orang yang bohong itu bisa dipidanakan. Dan jelas, kalo nyebut-nyebut tentang Al-Quran, artinya bukan lagi masalah warga DKI doang, tapi semua umat muslim di dunia. Internasional!"

Doni misuh-misuh dalam hati. Berusaha memikirkan jawaban yang cerdas untuk ucapan Soleh tadi. Tapi sebelum ia bisa menemukannya, Soleh bangkit dari kursinya.

"Gue ada kelas nih, Don. Cabut dulu ya," pamitnya. Dan sebelum ia benar-benar pergi, ia menepuk bahu Doni, "Ngomong-ngomong, nanti gue pinjemin tafsir Ibnu Katsir punya kakak gue deh. Lo tolong liatin asbabun nuzul sekitar 10—kayaknya sih lebih—ayat lain yang ngelarang milih pemimpin kafir ya. Ntar ceritain ke gue! Assalammualaikum."

Soleh pun pergi meninggalkan Doni yang bertanya-tanya, 'Emangnya ayat yang ngelarang pilih pemimpin kafir bukan Al Maidah 51 doang ya?'


Fin?

No comments:

Post a Comment