Monday, October 10, 2016

[Fiksi] Karena Cinta

"Gue bingung, Leh. Kok sekarang orang gampang banget emosi gara-gara agama ya?" Jaka menghela napas, menjauhkan ponselnya.

"Hm? Lo ngomongin apa, Jek?" Soleh hanya melirik sebentar dari balik koran sebelum kembali fokus. Sinonim harapan, tiga huruf... Oh! Asa!

"Itu lho, umat kita tuh gampang banget panas kalo denger ada yang ngejelek-jelekin agama Islam. Ujung-ujungnya jadi berantem sama agama lain," keluh Jaka. "Kenapa sih umat Islam nggak kayak agama lain aja? Mereka tuh kalo agamanya dihina tetep kalem. Karena tau agama mereka ga bakal jadi ternoda cuma gara-gara dihina. Kan adem tuh."

"Hm...." Soleh berpikir keras sebelum menjentikkan jari, lalu menuliskan sesuatu pada koran. Jaka melengos.

"Elah lo... Gue kira lo mau jawab pertanyaan gue," katanya.

"Lha? Emang lo nanya sama gue?" Soleh menatap Jaka dengan wajah polos. Rasanya pengin banget Jaka mites temannya yang satu ini.


"Iyalah! Gue mau tau tanggepan lo. Kalo nggak, ngapain gue ngomong sama lo?" gerutunya.

Soleh malah tertawa. "Sori, sori. Abis pertanyaan lo terkesan retoris sih. Lagian, bukannya lo udah tau jawabannya?"

Kali ini Jaka mengernyit, "Emang apa jawabannya?"

Soleh mendongakkan wakajahnya, lalu dengan wajah bagaikan seorang penyair yang sedang khidmat membacakan syairnya, ia berkata, "Cinta...."

Jaka tiba-tiba merinding. "Geli lo!" tudingnya sambil melempar bantal.

Soleh tergelak. "Hahaha... Eh, gue serius tau," ucapnya meski masih diselingi tawa. "Kalo lo tanya kenapa umat Islam marah saat ada yang menghina agama Islam, jawabannya ya karena cinta. Gini deh, kita umpamakan ada yang ngehina motor ninja kesayangan lo itu. Apa lo ga bakal marah?"

Jaka diam sejenak, membayangkan ada orang yang menghina motor kesayangannya, yang ia beli susah payah dengan cara menabung mati-matian sampai sering kelaparan saat sekolah. Membayangkannya saja ia sudah emosi.

"Ya gue marah lah...."

"Nah!" Soleh menjentikkan jari, "Lo aja marah motor lo dihina. Masa lo nggak marah kalo agama lo dihina?"

"Eh. Bukannya gue nggak marah lho ya kalo Islam dihina," Jaka cepat-cepat mengoreksi. "Tapi kan gue yakin agama Islam itu udah suci, jadi nggak perlu koar-koar hal-hal yang memancing permusuhan sama agama lain kan?" Ia kembali minta persetujuan.

"Wah, kalo itu tergantung, Jek."

"Tergantung apa?"

"Tergantung apa yang lo maksud dengan 'koar-koar'. Bentuknya kayak apa, penyampaiannya gimana," kata Soleh.

Jaka jadi pusing. Kok ribet gini sih? "Intinya maksud gue, tanpa perlu kita bela, agama Islam tetep suci dan menurut kita paling bener gitu...." Ia mencoba menjelaskan.

"Jadi menurut lo kalo ada yang menghina Islam, kita nggak usah membela diri walau kita tau yang dia ucapin itu salah?" Soleh memastikan.

"Iya. Kan yang paling penting kita tau dia salah. Daripada menghujat orang yang menghina, tau-tau yang lain jadi kebawa-bawa."

"Hmm....." Soleh berpikir lagi. Jaka memperhatikan temannya itu. 'Awas aja kalo ternyata lagi mikirin TTS,' pikirnya.

"Kalo nggak ada contoh kasus rilnya susah sih nilainya, Jek. Yang jelas kalo menurut gue, pembelaan itu tetep penting," kata Soleh.

"Buat apa? Yang penting kan kita tau Islam nggak kayak gitu."

"Pake perumpamaan lagi deh. Misalnya si Desi, adek lo itu, dijelek-jelekin di depan umum sama seseorang. Lo tau banget Desi nggak kayak gitu. Apa lo bakal diem aja?"

Kali ini Jaka membayangkan adik sematawayangnya yang manis. Sesaat kemudian ia geram, "Nggaklah! Gue tonjok tuh orang!"

"Oke. Lo udah nonjok dia, tapi orang-orang yang nggak kenal Desi terlanjur ngecap Desi buruk. Gimana tuh?" pancing Soleh lagi.

"Gue bakal teriak keras-keras biar semua orang tau adek gue nggak kayak gitu!"

"Kalo ada orang lewat yang nggak kenal Desi tapi ikut-ikutan ngomongin Desi?"

"Gue sumpel mulutnya!"

"Nah!" Soleh lagi-lagi menjentikkan jarinya. "Kira-kira gambarannya kayak gitu, Jek. Lo bakal marah saat ada orang yang ngehina adek lo. Dan walopun lo tau dia nggak salah, lo nggak akan terima saat orang lain nilai dia salah. Apalagi kalo ada orang yang nggak paham tentang dia ikut nyerocos, pasti secara insting, lo bakal marah lagi. Itu wajar, Bro...." Soleh menepuk-nepuk bahu Jaka agar emosinya surut.

Setelah kembali tenang, Jaka mengernyit, "Jadi maksud lo apa?"

Hadeeh! Rasanya Soleh pengin nimpuk ini orang pake pulpen.

"Maksud gue, ngebela sesuatu yang kita sayangin, kita cintain itu hal yang wajar. Udah jadi insting manusia. Kalo lo nggak marah, nggak berusaha ngebela Islam saat Islam dihina, jangan-jangan sebetulnya posisi Islam di hati lo ada di bawah motor lo."

Jleb. Jaka merasa tersindir.

"Meskipun kita tau Islam itu suci, kalo kita nggak berusaha menjelaskan tentang kesucian Islam ke orang-orang yang nggak paham, bisa jadi orang-orang itu bakal terus berpikir Islam buruk. Tentunya penyampaiannya harus bener juga.

Kalo lo cuma ngancem orang-orang biar nggak ngomong jelek tentang Desi lagi tapi lo nggak menjelaskan permasalahannya, bisa jadi lo dan Desi malah bakal dicap buruk dua-duanya. Jadi, pembelaan dengan bahasa yang baik sangat perlu, Bro.

Jangan juga lo ikut-ikutan ngehina si penghina lo. Salah-salah lo bisa menyinggung orang lain. Tapi kalo lo udah nyampein sebaik mungkin terus ada orang yang malah ngebela si penghina Desi, jelas orang itu cari ribut sama lo."

Jaka diam lama sekali. Otaknya masih mencoba mencerna ucapan Soleh yang panjang lebar.

Soleh sendiri sudah kembali asyik mengerjakan TTS nya saat Jaka kembali memanggilnya.

"Leh..."

"Hm?"

"Jelasin ulang dong."

Aduh Gustiiii!!

No comments:

Post a Comment