Monday, October 10, 2016

[Fiksi] Diskriminasi

Warning: Ada beberapa kata-kata kasar, mohon jangan ditiru ya. Hehe...

===
Diskriminasi


"Si Ipin belon selese rapat?" Datang-datang, Tegar langsung celingak-celinguk, mencari sosok Arifin di antara keramaian para siswa yang menghabiskan waktu istirahat di kantin.

Rizal mengangkat bahu sementara Andi menyahut, "Ngapain juga lo nyariin dia? Dapet konsumsi kali, jadi nggak pada ke kantin."

"Sial. Gue mau nagih utang nih. Gue lupa bawa duit. Eh, Jal, bagi duit dong!" Sadar kemungkinan ia tidak akan bisa menagih uangnya pada Arifin, Tegar pun mendekati Rizal.

"Bagi apa minjem? Gue pas-pasan nih sampe bulan depan," kata Rizal. Matanya terus mengawasi gerobak soto Pak Alif supaya bisa memberi tanda kalau si empunya usaha membawakan soto pesanannya.

"Pinjem deh, pinj.... Woi! Pin!" Wajah Tegar berubah semrigah saat melihat sosok yang ia cari-cari baru saja memasuki kantin. Mendengar seruan Tegar, Arifin pun melangkahkan kakinya menuju meja yang ditempati ketiga temannya.

"Kusut amat tampang lo. Ada masalah di rapat?" tanya Andi begitu Arifin datang. Yang ditanya tidak langsung menjawab, malah menyeruput es jeruk milik Rizal.

"Satu seruput seceng," komentar Rizal tanpa mengalihkan pandangan dari gerobak soto. Arifin mengabaikannya.

"Gue heran sama orang-orang. Pada muja-muja Ojan semua. Malesin." Akhirnya Arifin bersuara. Dari nadanya, jelas ia sedang sangat kesal.

"Pin, duit gue dulu. Gue laper," pinta Tegar tanpa peduli sikon. Meski mendelik dan berwajah super bete, Arifin mengeluarkan uangnya dan memberikan pada Tegar supaya cowok ceking itu tidak merusak moodnya lebih jauh.

"Fauzan ketua basket? Kenapa lo? Ada masalah sama dia?" tanya Andi.

Arifin kembali memperlihatkan wajah sebal. "Lo inget nggak gue pernah kasih masukan tentang ngadain iuran bulanan tiap ekskul olahraga buat bantuin OSIS ngadain pekan olahraga antar sekolah?" Andi mengangguk-angguk sementara Rizal melambaikan tangan pada Pak Alif. Arifin melengos dan memutuskan untuk fokus pada pendengar setianya saja.

"Waktu itu omongan gue ditolak mentah-mentah, dibilang OSIS nggak bener lah. Tukang palak lah. Anjrit! Padahal gue ngasih masukan bener. Emang mereka bantu banyak kalo OSIS ngumpulin dana? Nggak! Terus kalo OSIS kekurangan dana dan nggak bisa ngadain acara itu, mereka pasti ngomel-ngomel. T@i!" Arifin kembali menyeruput es jeruk Rizal. Yang punya akhirnya berinisiatif memesan segelas lagi dengan uang kembalian Arifin yang dipegang Tegar.

"Terus hubungannya ama si Ojan apaan, Pin?" Tegar yang sudah mendapat semangkuk bakso kini duduk di sebelah Arifin.

"Tadi dia nyaranin hal yang sama, dan orang-orang mulai mikir itu saran yang brilian. Jir! Giliran gue yang ngomong dianggap tukang palak, giliran dia ngomong dianggap brilian. Mentang-mentang tampangnya oke, cewek-cewek pada gelimpangan. Dikira mau gue apa punya tampang pas-pasan?" Arifin terus menumpahkan kekesalannya, sesekali mengeluarkan umpatan.

"Hm.... Tampang lo emang kayak tukang palak sih, Pin," komentar Tegar. Arifin langsung mengumpat lagi.

"Lagian si Dian kok bisa-bisanya milih lo jadi wakil? Tampang lo kan pantes buat bikin orang-orang pada kabur. Hahahaha...." Andi tergelak dan segera mendapatkan jitakan keras dari Arifin.

"Wajarlah. Dian kan lemah lembut, dia butuh sosok sangar yang bisa jadi back up dia. Lo pan sangar banget, Men. Omongan aja nggak pernah diayak. Tangan gampang ikut maen. Hahaha..." Tegar ikut tertawa. Kalau saja Arifin tidak merasa tersindir, ia pasti sudah menjitak Tegar juga.

"Bangke lo semua. Kesannya gue cuma berguna karena tampang sangar gue doang. Gini-gini banyak kemajuan di OSIS sekarang berkat gue juga tau! Perpus jadi lebih bagus juga berkat ide dan saran gue! Semprul!" Arifin kembali misuh-misuh.

"Sebenernya ya, Fin," Rizal yang sejak tadi seolah tak peduli akhirnya ikut bersuara, "menurut gue, yang salah bukan tampang lo, tapi sikap lo."

"Maksud lo?" Arifin mendelik pada cowok berambut keriting itu.

"Tuh liat Agus anak Pak Alif. Biar kerempeng dan item, orang-orang seneng ngobrol sama dia soalnya dia ramah. Lha elo? Dikit-dikit 'anjir', dikit-dikit 'semprul', nggak jarang ngatain orang bego juga," kata Rizal. Tegar dan Andi mengangguk-angguk. Mereka sih sudah biasa dengan mulut tajam Arifin.

Giliran Arifin berwajah masam. "Terus gue disuruh bermuka dua macem si Ojan gitu? Bermanis-manis di depan orang? Dih! Males banget! Yang penting kan gue kompeten. Lagian gue kalo ngomong jujur kok. Yang menurut gue bego bakal gue sebut bego. Daripada muka dua ngomongin di belakang?" Ia membela diri dengan nada meninggi.

"Noh kan. Dibilang gitu doang udah emosi," celetuk Tegar.

"Manusia tuh punya kecenderungan nggak mau dengerin sesuatu yang emang nggak mau mereka denger. Kalo mereka udah ngecap sesuatu jelek, susah buat menilai objektif," kata Rizal lagi. "Lo sendiri sadar kan kalo lo tuh kasar, terutama mulut lo? Wajarlah kalo orang-orang udah males duluan sama lo."

"Kalo gitu mereka bakal terus-terusan bego dipedaya orang-orang yang manis di mulut doang tapi hatinya busuk!" tuding Arifin.

"Mm... Gue rasa Rizal bener, Fin. Masalahnya ya, siapa yang tau hati orang? Yang mulutnya manis emang belom tentu hatinya manis juga, tapi emangnya yang mulutnya tajem pasti hatinya manis? Nggak tau juga kita," timpal Andi.

"Kan lo semua tau gue gimana." Arifin berwajah jengkel. Hampir emosi.

"Iye, kita mah udah kebal sama lo yang gampang banget naek darah, sama omongan lo yang nggak pernah diayak. Kita tau maksud lo baik. Tapi orang-orang laen kan nggak tau," sahut Tegar.

"Betul tuh. Dibanding orang yang mulutnya kasar tapi ngakunya tipe jujur dan blak-blakan, orang-orang bakal lebih gampang simpati sama yang mulutnya manis dan mereka harapin hatinya manis juga. Diskriminasi itu elo juga penyebabnya, Fin. Jangan nyalahin orang lain karena jelas orang lain cuma bertindak sesuai naluri mereka doang."

"Ibaratnya macem ini bakso." Tegar tiba-tiba mengangkat baksonya. "Andai ada dua bakso telor, satu baksonya busuk, satu lagi telornya busuk. Pasti orang udah ogah makan yang baksonya busuk duluan. Sementara yang telornya busuk, orang bakal coba makan walo kecewa. Jelas semuanya mau bakso telor yang nggak ada busuk-busuknya sih."

Andi tergelak mendengar perumpamaan yang dibuat Tegar. Mentang-mentang lagi makan bakso.

"Iya. Nggak semua orang mau susah payah cari tau lo beneran baik apa nggak, Fin. Cara termudah dapetin kepercayaan orang-orang ya dengan ngubah sikap lo. Kalo 'bungkus' lo bagus dan isinya pun bagus, orang-orang bakal lebih seneng kan?" kata Rizal lagi.

Giliran Arifin yang diam. Wajahnya masih terlihat masam. Haruskah ia betul-betul berubah supaya lebih dipercaya dan dihormati orang? Tapi sikap keras kepala dan egonya melarang.

Pikirkan nanti saja, yang penting sekarang makan siang!

"TEEEEET!!" Bel sekolah yang panjang berbunyi, menandakan waktu istirahat telah usai.

"Bangke! Gue belom makan!!"

Tiga teman Arifin cuma nyengir sebelum ngacir ke kelas masing-masing.

Fin

2 comments:

  1. Keren, Ru. Walau kata2nya nggak diayak, tapi ngena pesannya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Alhamdulillah kalo pesannya ngena, bukan kata-kata kasarnya.

      Delete