Thursday, August 25, 2016

Gemetarku

18 April 2015.

Menunggu di kamar, aku masih berusaha tetap tenang saat rombonganmu datang. Kegugupan itu mulai menyerang saat kamu selesai mengucap akad.

Aku sudah resmi jadi istri orang, nih? Rasanya antara percaya-nggak percaya saat itu.

Namaku dipanggil, aku pun diantar beberapa orang menuju ke panggung kecil tempat kamu dan orangtua kita berada. Naik ke atas panggung, seseorang (aku lupa tepatnya siapa) memberi isyarat agar aku menyalamimu. Dan kegugupan menyerangku. Parah. Dengan tangan gemetar, aku menyalamimu. Secara formal dan canggung. Seperti saat salam-salaman di waktu Lebaran. Singkat.

Ketika diberi isyarat untuk menyalami orangtua, mamaku berbisik setengah memarahiku. "Kok tadi kamu nggak cium tangan ke suamimu?" katanya.

Duh, Mama nggak ngerti orang lagi gugup nih. Tapi saat itu aku tersadar, benar juga yang dibilang mamaku. Wajarnya kan istri cium tangan suami saat selesai akad. Aku langsung sadar kalau salam yang kulakukan tadi bodoh banget. Untungnya nggak ada satu pun teman akrabku atau teman akrabmu yang datang sejak akad, jadi nggak ada yang lihat. Kalau ada, kita pasti diledek habis-habisan.

Ketika selanjutnya mas kawin yang berupa cincin diperlihatkan, MC memintamu memakaikannya ke jariku. Saat itulah kulihat kegugupanmu. Tanganmu yang gemetar saat bersusah payah berusaha melepaskan cincin dari rantai yang melilitnya. Hampir saja kamu (mencoba) memutuskan rantai yang ternyata kalung itu. Melihat kamu sama gugupnya, aku mulai tenang.

Sewaktu kita naik mobil menuju gedung, sepanjang jalan kita hanya diam, tidak tahu harus berkata apa. Dalam hati aku bertanya-tanya, kapan kamu akan menyentuhku? Bukankah kita sudah menjadi muhrim? Tapi kamu terlihat masih gugup. Aku yang akhirnya berinisiatif lebih dulu. Memukulkan tanganku pelan pada telapak tanganmu. Inginnya sih menggenggam langsung, berbagi gugup yang masih terasa. Tapi saat itu aku malu. Akhirnya, kamu menyambut tanganku, menggenggam hingga kita tiba di tujuan. Kali ini dengan senyum terkulum meski tetap tanpa suara.

Mengingat hal-hal kecil itu selalu membuatku tersenyum.

Kamu, membuatku melakukan hal-hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Menggenggam tangan laki-laki yang bukan keluarga, menulis 'surat cinta', berdandan untuk seseorang, membuat surprise kecil, dan lain-lain. Meski biasanya aku tidak akan berani menatapmu langsung selama beberapa lama setelah melakukan hal-hal itu pertama kalinya.

Mungkin kau juga sama. Banyak melakukan hal-hal baru karenaku.

Semua dimulai dari salam canggung dan gemetar di atas panggung pelaminan itu.

3 comments: