Saturday, May 7, 2016

[Fanfiction: ON/OFF] Oniichan

Inget Oren aka Ayame udah nggak punya blog, jadi pengen posting ulang fanfic dia yang ini. Ini adalah balesan dari fic ON/OFF Ru yang judulnya Otouto yang dibuat dari sudut pandang Kazuya. Ini tulisan lama, tahun 2009. Hahaha.... 
===================
Tokoh : Sakamoto Naoya & Sakamoto Kazuya (ON/OFF)
Genre : General, Brotherly love (?) ^__________^
Rating : K+
Summary : ‘Dunia’ dari kacamata seorang kakak kembar (Naoya) yang mudah emosi dan sebenarnya dia juga sama naïfnya  ^_____________^
A/N : Yeeeiy! XD Saya buat juga fic ON/OFF inih XD
Dari POV-nya Naoya, sang kakak kembar. Setting-nya pas si kembar ini masih anak SMP ^_______^
Dedicated to : Rupyon semoga kaw sukaaa~ ~ XDXD *siap dilempar kaleng*

#####################################################################
Kazuya           Naoya


~ Niichan ~

“Eh lihat! Ada anak kembar!”
Ratusan, bahkan ribuan kali kudengar komentar seperti itu dalam hidupku. Hidupku yang baru 14 tahun ini sangat menyebalkan. Sungguh.
Sepatu kets-ku beradu dengan aspal basah. Rintik hujan tidak menghentikan langkahku.
“Ni-Niichan! Tunggu!”
Aku melenguh, menoleh sekilas “Jangan panggil aku Niichan!”
Kupandangi sosok kecil di belakangku. Dua meter di belakangku kurasa sebuah cermin. Dibilang ‘sosok kecil’ juga, sosok itu tidak jauh beda denganku. Bukan hanya itu, sama! Sama persis. Ya, dia itu saudara kembarku. Kazuya.
“Niichan…” Kazuya sedikit terengah. Aku kembali memutar badanku, siap melangkah kembali. “Sudah kubilang Jangan panggil aku Niichan!” ucapku ketus.
“Kakiku pegal~” dia merengut.
Oh, Tuhan.
Kuedarkan pandangan dan kutunjuk trotoar, “Istirahat disitu.” ujarku.
“Kamu?” tanyanya.
“Aku pulang duluan,” jawabku cuek.
“Eh—ga jadi deh,” dia melompat dan menyusul langkahku.
Aku mengerling sebal, “Katanya pegal?”
“Tapi aku tidak mau ditinggal. Mendingan jalan saja terus..” dia mempercepat langkahnya mengimbangiku yang semakin cepat.
“Makanya kubilang juga naik kereta saja~” sungutku.
Dia menendang batu kerikil di bawah kakinya, “Yang tidak mau pulang naik kereta kan kamu” serunya balas bersungut.
“Tapi aku tidak menyuruhmu ikut jalan kaki!” seruku tak mau kalah.
Dia cemberut dan menggembungkan pipinya. “Kenapa sih, sebegitunya tidak mau pulang bareng aku?”ujarnya sambil mencibir.
Aku tidak menjawab.
Ok, pertama, aku malas ngoobrol sama dia. Kedua, aku malas jalan sama dia. Kenapa sih kami musti pulang satu arah? Benar juga, kami kan serumah. Uugh.
Ah, ya. Mungkin kalian bertanya, kenapa aku sebegitu sebalnya pada dia. Ok, Ok, kuceritakan satu persatu kejadian minggu lalu. Nih kuceritakan:

* * *
Minggu 1 Desember
Lokasi : di rumah
Pelaku : Ayah, Ibu, Paman

Hari minggu hari yang cerah. Aku sedang tiduran mendengarkan musik ketika kudengar Ibu mengetuk pintu kamarku—yang ugh TIDAK ADA PEMANAS RUANGANNYA!—
Singkat cerita, ternyata Pamanku datang dan bawa oleh-oleh dari Indonesia.
Dan kalian tahu?
Miniatur Candi Prambanan itu sudah ada di tanganku ketika Kazuya datang dan memandangi miniatur candi itu lama. Firasat burukku jadi kenyataan ketika:
Papa : “Wah, Kazuya mau ya?”
Mama : “Hm, coba berikan, Naoya.”
Papa : “Ya, ya. Naoya mengalah ya.”
Tang benarsaja!
Paman : “Benaaar. Kan ‘Niichan’~ ~”
Yang benar sajaaa!!

Gimana? Sudah jelas? Apa? Tidak penting? Itu penting sekali tahu! Ini menyangkut harga diri lho, harga diri sebagai laki-laki! Lihat saja nanti, kalau sudah besar, bakal kubeli candi-nya yang ASLI sekalian! Kazuya lihat sajaaa!!

Senin 2 Desember
Lokasi : di rumah (lagi)
Pelaku : Ayah, Ibu, Paman (lagi-lagi!) 
Karena Paman menginap, aku harus merelakan kamarku dipakai Paman. Dan kalian tahu? Aku disuruh Ibu tidur di ruang tamu! Bayangkan, seorang anak imut sepertiku, harus tidur di ruang tamu! Sementara si Kazuya teteeeep tidur nyenyaak asyik meringkuk di kamarnya—yang ADA PEMANAS RUANGANNYA!—

Rabu 3 Desember
Lokasi : Toko aksesoris
Pelaku : Penjaga Toko, Ibu-ibu gendut (pembeli kurang kerjaan)
Lusanya Kasumi-chan ulang tahun! Uwaa~ tak sabar aku~! Hari itu aku berniat pergi ke toko aksesoris untuk membeli hadiah. Entah bodoh atau apa, Kazuya mengikutiku!
Yah, memang sih, aku-nya juag salah karna bohong dengan bilang mau beli hadiah untuk Ibu. Tapi dianya juga bodoh, hari Ibu kan masih lamaa!

Dan, dimulailah.
Penjaga toko : “Wah, kembar ya?”
Aku : “Hmm” (bete)
Kazuya : “Iya..” (senyum)
Kenapa juga musti senyum-senyum? Bikin aku sebal sajaa!

Tiba-tiba muncullah Ibu-ibu kurang kerjaan.
Ibu-ibu itu : “Kyaah! Manisnyaa! Anak kembar yaa??”
Kazuya : “Ah, iya.” (senyum lebar dia)
Ibu-ibu itu : Aiih, kamu baik sekali, ramaaah... Kakak? Adik?”
Kazuya : “Adik.”
Ibu-ibu itu : “Waw! ‘Kakak’nya kalah sama adik nih! Adiknya imut begini, ramah dan murah senyum~”

Gimana? Bete kan?
Hah? Wajar?
Jelas tidak dong!
Ibu-ibu itu orang asing tak dikenal. Seenaknya saja banding-bandingkan aku dengan Kazuya. Mana yang dimenangkan Kazuya pula! Hmph!

Kamis 4 Desember
Lokasi : di rumah
Pelaku : Ibu, Tetangga baru sebelah rumah
Kemarin aku tidak sempat beli hadiah buat Kasumi-chan gara-gara keburu bad mood. Kemudian lengkap sudah penderitaanku ketika tetangga baru sebelah rumah datang berkunjung dan mengajak Ibu belanja bareng. Ternyata, tetangga baru itu si Ibu-ibu kemarin! Tidaaaakk!!
Dan, seperti dugaanku, dia celoteh terus ini-itu muji-muji Kazuya terus. Dan ujung-ujungnya mengajak Kazuya makan siang sama-sama di Mall.
Sana pergi aja sana, ga butuh~ huh!
Dan setenagh jam kemudian baru kusadari, jaga rumah disaaat Ibu dan saudaramu pergi bersenang-senang bukanlah hal yang menyenangkan.

Sudah sampai kamis begini ceritanya, Gimana?? Ga adil kann??
Aku, anak imut begini, disuruh jaga rumah sendirian sementara yang lain jalan-jalan! Tidak dengan Ibu-ibu menyebalkan itu juga tidak apa-apa, aku bisa jalan-jalan sendiri, tapi aku musti jaga rumah! Yang benar sajaa! Rumah ga dijaga juga ga akan lariii!!!

Jumat 5 Desember
Lokasi : sekolah
Pelaku : Kasumi-chan, Toboe-kun
Ini adalah hari terburuk. Gara-gara dua hari sebelumnya aku tidak sempat beli hadiah buat Kasumi-chan, aku diceukin! Huwaaa!! Bagaimana iniii???
Dan tiba-tiba saja, Kazuya memberinya hadiah! Kenapa dia bisa tahu Kasumi-chan ulang tahun hari ini?! Dan yang lebih penting, kenapa Kasumi-chan tersipu-sipu begitu?!
Toboe : “Wawah, Sakamoto-adik lebih perhatian ketimbang sang kakak yaa~? Hahaha~”
‘Hahaha’ kepalamu! Kukutuk Toboe jadi banci!

Lengkap sudah kesebalanku.
Nah! Jadi, setelah cerita panjang lebar begitu, kalian sekarang mengerti kan??

‘Niichan musti begini, musti begitu.’
‘Niichan sudah seharusnya mengalah pada adiknya.’
‘Niichan kok begitu? Kalah nih sama adiknya.’

Komentar-komentar macam itu bikin aku muak saja.

Aku sama Kazuya lahir beda beberapa menit saja. Tapi tetap saja aku yang jadi ‘Niichan’ karna lahir duluan. Kenapa sih aku keluar duluan??? Jangan-jangan pas lahir Kazuya nendang-nendang aku supaya aku keluar duluan??!

“Niichan,” suara Kazuya membuyarkan lamunanku.
Aku melotot ke arahnya “Jangan panggil aku Niichan!”
“Uugh..” kulihat mukanya mengerut dan ia meringis.
Aku sedikit terkejut, “A-Ada apa?” tanyaku cemas. Eh, tidak! Aku tidak cemas lho, tidak!
“kakiku…” Kazuya terkulai lemas, perlahan duduk di bangku taman di sampingnya. Gara-gara sibuk melamun dari tadi aku sampai tak sadar ini sudah sampai taman kota.
Aku menghampirinya dan berlutut, membuka sepatunya.
Ya Tuhan!
Kakinya lecet!

“Kamu—Kok…Sampai begini?!” Aku bingung campur kaget. Sungguh aku kaget. Waktu mengeluh tadi, kupikir dia cuma mau manja-manjaan saja. Taunya…
“Sepatumu kesempitan?” tanyaku lagi saking bingung. Taunya Kazuya mengangguk.
“Bodoh! Kenapa tidak bilang?!” maki-ku setengah teriak.
“Ma-Maaf… habisnya aku tidak mau ditinggal..” ucapnya sembari menunduk.
Duh, malah aku jadi ga enak hati.
“Ya sudah, ya sudah.” Ujarku.
Segera kuambil tasnya dan berbungkuk di depannya. “Ayo naik.” Seruku.
“Eh?”
“Kugendong sampai rumah.” Ujarku sedikit kesal dengan kelambanannya.
“Tidak usah! Kan capek, aku berat lho!” sahutnya kalang kabut.
“Ga usah banyak ngomong, cepat naik! Atau kuseret kamu sampai rumah. Pilih mana?” ujarku ketus.
Kazuya terdiam sesaat. Dan ketika aku sudah hampir kembali mengomelinya lagi, kurasakan bobot tubuhnya di punggungku. ‘Nah, gitu doong~ nurut~’ seruku dalam hati, puas.
“Humph!” dengan satu pijakan kuat, aku berdiri.
Ya ampun, Kazuya berat banget! Tapi yah apa boleh buat, tinggal 1 blok lagi juga sampai ke rumah. Yosh! FIGHT!

* * *
Setelah melewati belokan itu, 3 rumah lagi dan sampailah ke rumah. Yosh! Sebentar lagi sampai! Aku mempercepat langkahku.
Semenjak dari taman itu, Kazuya diam saja di punggungku. Aku memnag sedang malas ngomong sama dia, tapi kalau kau menggendong seseorang di punggungnmu, paling tidak kau cemas kalau-kalau yang kau gendong itu kenapa-kenapa kan?

“Oi Kazuya” seruku pada akhirnya. Kutelan mentah-mentah gengsiku.
“Hm?”
Aku melirik sepasang sepatu di tangan Kazuya yang menempel di dadaku. “Kenapa kamu masih pakai sepatu kesempitan?” Ya, padahal dengan mudah dia tinggal minta saja sama Ibu atau Ayah. Pasti dikasih! Namanya juga adik, didahulukan teruuss.

“Ibu bilang…” Kazuya angkat bicara, “Ibu bilang kondisi keuangan keluarga kita sedang buruk.. Uang simpanan Ibu tidak cukup untuk beli sepatu baru untuk kita..” lanjutnya.

“He?” Aku sedikit terkejut. Aku tidak tahu itu. Aku dan Ibu jarang mengobrol. Setiap hari aku sibuk latihan basket di sekolah karena ikut ekstrakulikuler. Jarang-jarang saja aku pulang ke rumah cepat, lain dengan hari ini sehabis les.

“Kau minta uang sama Ayah pasti dikasih.” Ucapku.
“He eh. Dikasih.” Kazuya mengangguk. Tuh kan!
“Aku minta Ayah biar uangnya dibelikan sepatu baru buat Niichan.”
Eh?
“A-aa maap! Maksudku, ‘Naoya’!! Maap tanpa sadar aku suka bilang ‘Niichan’ terus..”
Aku menghentikan langkahku.
“Naoya?” Kazuya terheran.
“…….Dasar. Kau itu…Bodoh! Tau tidak? Bodoh! Bodoh!” seruku dan segera berlari menembus gerimis. Entah kenapa pipiku jadi panas, rasanya malu sekali.

“Eh? Kok aku dibilang bodoh? Naoyaaa~!!” Kazuya mengguncang-giuncang bahuku.

Aku bersyukur hari ini hujan. Mukaku basah semua. Eh? Aku nggak nangis lho! Nggak! Mukaku merah? Nggak kok! Kalian salah lihat! Lagipula…aku cuma kelilipan!

Aku sebal sama Kazuya.
Aku sebal sama dia karena aku tidak bisa benci dia.
Mau bagaimanapun, emm….. yah, emm…. dia adikku yang manis dan baik… uhuk.

“Ah! Niichan! Rumah kita kelewat! Niichan!”
“Berisik! Jangan panggil aku ‘Niichan’!!” bentakku.
“Tapi rumahnya—”

Kalau dipanggil ‘Niichan’,
Aku gemas melihat mukanya.
Kalau manggil aku ’Niichan’, dia kok tiba-tiba mendadak kelihatan imut ya?
Eh bu-bukannya aku senang dipanggil Niichan lho! Cu-cuman tanpa sadar jadi susah nolak kalau dia merajuk menyebut-nyebut 'Niichan'.. Uhuk.
Po-pokoknya,
Jangan panggil aku ‘Niichan’ ! !

+ The End +
^________________^

Note from Ayame: 
XDXD Saya dibesarkan sebage anak tunggal jadi gag ngerti jalan pikiran seorang kakak. Tapi, mungkin kurang lebih begini? Mudah marah karna hal sepele tapi pada akhirnya tetap sayang adiknya ^_______^
XDXDXD

No comments:

Post a Comment