Thursday, September 3, 2015

[Cerita Mini] #TantanganOWOP: Kembar

Ini adalah sebuah cerita mini berdasarkan kisah nyata yang dibuat untuk mengikuti tantangan di grup OWOP Land.

Tantangannya: 
Seandainya, kalau Allaah kasih kamu kesempatan mendapatkan saudara kembar, apa yang akan kamu lakukan? Cerita apa yang ingin kamu bangun bersama saudara kembarmu itu? 


PS. Tentang 'kembar' ini sebetulnya udah beberapa kali Ru tulis di blog, jadi mungkin udah banyak yang pernah baca walau sebelumnya berbentuk curhatan-curhatan aja.

========


September 2011, di depan Taman Makam Pahlawan

Handphoneku berbunyi, membuatku bernapas lega. Beberapa menit berdiri sendirian bak orang hilang di depan Taman Makam Pahlawan membuatku agak gelisah, syukurlah yang ditunggu akhirnya menghubungi.

"Lo di mana?" tanyaku langsung.

Suara di seberang memberitahu lokasinya dengan metode kira-kira. Pasalnya ia memang belum biasa ke daerah sini. Dari penjelasannya, aku segera tahu bahwa ia turun dari angkot kelewat dari tempat seharusnya. Aku memberi instruksi agar ia jalan kaki melawan arus dan aku akan menjemputnya.

Jalan kaki yang lumayan, dari depan Taman Makam Pahlawan hingga jalan raya di bagian sisi kebun yang ditinggali para kijang. Ah, akhirnya aku melihat—

Mataku melebar sesaat, kemudian diikuti keinginan untuk tertawa tetapi kutahan. Wajahku datar-datar saja, begitu juga orang yang baru saja kulihat. Aku tahu pasti ia juga merasakan keheranan dan kegelian yang sama. Mungkin juga ditambah perasaan canggung aneh yang kurasakan.

Bagaimana tidak? Kami mengenakan pakaian yang sama meski kami tidak janjian sebelumnya.

Baju itu kami beli sama-sama karena kami tertarik pada model dan warnanya. Tidak sama persis, ada sedikit berbedaan, tetapi sepintas terlihat sama.  Belum lagi warna kerudung dan celana yang kami pakai juga senada. Anak kembar sekali.

Kami ngobrol ringan sepanjang perjalanan kembali ke Taman Makam Pahlawan, lalu melihat-lihat museum di dalamnya ditemani oleh salah seorang satpam yang bersedia menjadi pemandu kami. Setelah puas, kami keluar dari museum, mencari tukang penjual minuman dan makanan untuk mengisi perut.

“Ada anak kembar.”

Entah pedagang apa yang menyeletuk, tapi aku segera berusaha mengontrol wajahku agar tidak memerah. Kemungkinan teman seperjalananku ini juga sama. Malu.

Memangnya ada ya anak kembar yang masih pakai baju samaan di usia mereka yang berkepala dua? Hm.... Atau mungin memang ada?

Aku jadi teringat kali pertama kami memakai baju ini. Kuingat, itu terjadi saat kami akan mengikuti talkshow Raditya Dika. Malam sebelumnya saat aku mengirim SMS, tiba-tiba terjadi percakapan seperti ini:

> Besok gue mau pake baju yang beli bareng itu. Lo gimana?
> He-eh. Emang niatnya mau pake besok kok. Dalemannya plus jilbabnya kau putih yak? <-- gak punya
> Abu-abu kayaknya, jilbabnya item. Lo mau pake daleman putih?
> LOOOOL!! Gw jg mau pake abu2, walopun jilbabnya masih antara ijo mirip2 itu ato item XDD;
> Jadi sebenernya ini tanpa gue kasih tau pun lo bakal make itu? 0_o

Iya, hari itu akhirnya kami memakai baju yang sama, janjian. Tapi tanpa janjian pun kemungkinan kami akan memakai baju yang sama. Dan seharian itu, seperti hari ini, kami mendapat banyak komentar soal ‘anak kembar’.  Dari teman-teman satu jurusan sih sudah biasa, tapi ada juga orang tak dikenal yang ikut-ikutan menyebut kami anak kembar. Malu. Ya, karena kami bukan benar-benar saudara kembar.

“Kayaknya nggak keburu kalau ke Musem Sasmitaloka deh. Langsung ke Lubang Buaya aja?” Pertanyaannya membuatku tersadar. Aku mengangguk. Tadinya kami ingin ke Museum Sasmitaloka lebih dulu, tapi sepertinya kami harus langsung ke tujuan utama.

Museum Pancasila atau yang lebih akrab disebut Lubang Buaya. Museum yang menggambarkan kejadian G30S/PKI. Hari berdarah yang sebentar lagi akan kembali diperingati, yang bertahun-tahun kemudian menjadi hari kelahiranku, lalu setaun selanjutnya menjadi hari kelahirannya. Tanggal yang sama. 30 September.

Sejak dulu aku selalu tertarik pada anak kembar. Aku ingin punya saudara kembar, sayangnya aku tidak punya.

Kalau aku punya saudara kembar, kami akan menulis bersama.
Kalau aku punya saudara kembar, kami akan saling melengkapi koleksi buku kami.
Kalau aku punya saudara kembar, kami akan menertawakan hal yang sama tanpa perlu kata-kata.
Kalau aku punya saudara kembar, kami akan pergi sama-sama ke tempat-tempat yang kami suka.
Kalau aku punya saudara kembar, kami akan bersaing untuk banyak hal, mulai dari hal-hal besar seperti prestasi, hingga hal-hal kecil seperti siapa-yang-lebih-cepat-memposting-buah-pemikiran-kami.
Kalau aku punya saudara kembar....

Ah, rasanya aku sudah tidak perlu kata ‘kalau’ lagi. Semua hal tadi sudah kualami dengan ‘saudara kembar’ku yang satu ini.

Tanggal lahir yang sama, minat yang sama, pola pikir yang sama.


Walau bukan saudara kembar sungguhan, entah kw berapa itu, tapi aku punya saudara kembar.

No comments:

Post a Comment