Wednesday, September 2, 2015

Bukan Malaikat Rehat

Cerita klasik(?) yang paling Ru inget dan berkesan buat Ru, mungkin cerita tentang seorang ayah, seorang anak, dan unta mereka. Ru rasa hampir semua orang udah pernah dengar cerita ini. Kisahnya mungkin beberapa versi (ada yang menyebut bukan unta, tapi keledai. Latar tempat juga ada yang bilang beda, percakapan juga), tapi intinya sama:

Seorang ayah dan anak punya seekor unta. Awalnya, sang anak mempersilakan ayahnya naik unta sementara ia berjalan di sisinya.

Mereka bertemu kelompok pertama yang komentar bahwa sang ayah jahat, membiarkan anaknya jalan kaki sementara ia enak-enakan naik unta.

Sang ayah pun turun dan menyuruh anaknya naik. Mereka berjalan lagi sampai bertemu kelompok kedua. Kelompok itu bilang sang anak durhaka, membiarkan ayahnya jalan kaki sementara ia naik unta.


Akhirnya mereka memutuskan untuk naik unta berdua dan melanjutkan perjalanan mereka. Kemudian mereka bertemu kelompok ketiga. Kelompok itu bilang jahat sekali ayah dan anak itu, unta sekecil itu dinaiki berdua.

Pusing, mereka berdua akhirnya turun, berjalan kaki di sisi unta. Bertemulah mereka dengan kelompok keempat. Kelompok itu bilang bodoh sekali ayah dan anak itu, memiliki unta tapi tidak dinaiki.

Nah lhooo...

Kisah itu berkesan banget buat Ru, soalnya betul-betul menggambarkan kalau kita nggak bisa menyenangkan semua orang. Apapun yang kita lakuin, pasti adaaaa aja orang yang protes, yang nganggep kita salah. Padahal mereka nggak tau niat kita yang sebenernya gimana.

Yah, toh cuma Allah SWT yang tau niat kita sebetulnya, jadi nggak perlu terlalu memusingkan apa yang diucapin orang-orang deh.

Ambil aja contoh Profesor Severus Snape (lho?). Orang-orang udah benci dia setengah mati, nganggep dia penghianat dan blablabla, eh akhirnya ketauan kalo dia justru 'pahlawan' sebenarnya kan?

Sebetulnya, Ru suka sebel sama orang-orang yang seenaknya protes dan ngejelek-jelekin orang lain. Terutama kalo yang dijelek-jelekin itu orang yang awalnya dianggap alim, terus dijelek-jelekin cuma karena satu kesalahan. Lucuuuu banget kalo liat orang-orang yang ngejelek-jelekin itu. Rasanya pengin ketawa sambil marah. Bayangin aja, kalo 'orang biasa' ngelakuin salah, dianggapnya biasa, tapi pas 'orang alim' dianggap salah, langsung menyebaaaar, diungkit-ungkit terus, dan langsung terkesan jeleeeeek banget. Dan Ru makin bete lagi kalo yang dijelek-jelekin dan ngejelek-jelekin sama-sama orang Islam.

Tapi, cerpen "Bukan Malaikat Rehat" karya Tasaro GK ngubah sedikit persepsi Ru.

Di situ digambarkan tentang seorang laki-laki yang ikut semacam halaqah, tapi dia tetap akrab sama orang-orang yang 'liberal'. Di satu sisi dia senang belajar di kajian, di sisi lain dia juga punya sisi liberal.

Lewat laki-laki ini, diperlihatkan dua sudut pandang. Sudut pandang pertama dari teman-teman 'liberal'nya yang suka mencibir para orang 'alim' saat ada salah satu di antara mereka melakukan kesalahan. Mereka tidak suka kalau orang-orang 'alim' itu bersikap sok eksklusif seolah mereka paling suci, padahal tetap saja melakukan kesalahan. Sudut pandang kedua dari teman-temannya yang disebut 'alim'. Mereka 'mengeluh' bahwa mereka bukanlah malaikat, mereka juga manusia yang bisa membuat kesalahan.

Dua sisi yang diiyakan oleh si laki-laki, tetapi kemudian si laki-laki kembali berpikir. Memang benar, orang-orang alim bukanlah malaikat, tetapi orang lain tidak akan peduli soal itu.

Pada akhirnya satu hal yang Ru simpulkan dari cerita ini: saat kita ingin menjadi 'contoh' untuk mengajarkan kebaikan, kita tidak boleh punya cela sedikitpun.

Benar sih, orang-orang suka sekali menghakimi orang lain.
Benar sih, sebaik apapun kita, pasti ada aja yang protes.
Lalu apa kita harus cuek menghadapi ucapan mereka?
Iya, memang itu yang harus kita lakukan, tapi bukan hanya itu.
Kita harus berusaha menjadi seorang malaikat yang sedang rehat di bumi.
Suci, tanpa cela.

Sulit? Pasti. Tapi begitulah aturannya.
Kalau kau tidak mau dicela, jangan memiliki cela.


Ah, tapi bukankah Rasulullah SAW yang tanpa cela pun dicela orang?

Yah, pada akhirnya kita semua bukanlah malaikat rehat sih, tapi mungkin memang seharusnya mencoba minimal mendekati itu?

No comments:

Post a Comment