Tuesday, April 14, 2015

Pohon Keramat



Kata orang-orang di kampungku, pohon di atas bukit itu pohon keramat. Angker.

Mungkin betul juga sih. Lihatnya saja sudah seram. Kayak berbentuk manusia gitu. Aku dan teman-teman sering main di atas bukit, dekat pohon itu, tapi pasti kami pulang sebelum hari gelap. Hari itupun sama. Bedanya, saat di tengah jalan pulang, aku sadar harus kembali lagi ke sana karena titipan belanja ibu tak sengaja kutinggal di sana.

Aduuuuh! Nggak ada teman yang mau menemaniku pula! Mereka juga pasti takut deh sama pohon itu! Tapi aku lebih takut kalau ibu marah, sih.

Dengan enggan, aku berlari kembali ke bukit. Makin dekat dengan pohon itu, kecepatanku makin berkurang.

Kalau nanti ada apa-apa gimana? Ah, tapi, ini kan belum betul-betul gelap. Lari saja mumpung masih ada cahaya!

Betapa kagetnya aku saat makin dekat dengan pohon itu. Ada sosok seseorang si sana. Anak seumuranku.

Memincingkan mata dari jauh, aku mengenali anak itu sebagai Bella, teman sekelasku yang pendiam, yang tinggal di kampung sebelah.

Ngapain dia di sini? Jangan-jangan … dia menyembah hantu?

Aku takut, tapi rasa penasaranku lebih besar. Akhirnya, setelah menelan ludah, aku mendekati Bella. Ia sedang mengelus pohon itu dengan sayang.

"Bella? Kamu ngapain di sini?" tanyaku. Sengaja kutanya namanya karena siapa tahu, ternyata dia bukan Bella.

"Awan?" Ia balas bertanya, kelihatan agak kaget.

Syukurlah. Tandanya ia betul-betul Bella, bukan hantu.

"Aku mau ngambil belanjaan ibuku yang ketinggalan," Aku menjelaskan tanpa diminta.

"Oh, ini ya?" Bella mengambil sebuah plastik di sisinya, lalu memberikan padaku.

"Makasih…" kataku setelah memastikan itu benar-benar titipan ibu. "Kamu ngapain di sini?" tanyaku lagi, penasaran.

"Nungguin ibuku. Biasanya beliau pulang jam segini. Aku selalu nunggu beliau di sini," katanya.

Wah? Berani sekali dia!

"Kamu nggak takut? Ini kan pohon keramat. Lihat deh. Kayak muka manusia kan?" kataku. Mengatakan seperti itu di depan pohonnya langsung, apalagi saat hari sudah hampir gelap, membuatku jadi merinding.

Tetapi Bella malah menatapku heran.

"Menurutku dia nggak menyeramkan. Iya sih, kayak muka manusia. Tapi kalau kulihat, malah menyedihkan… Kupikir ia kesepian sendirian di sini," kata Bella.

Aku melongo, tidak menyangka Bella berpikir seperti itu. Iya juga ya. Bisa juga dianggap seperti itu.

Tak lama, ibu Bella muncul. Dan setelah berpamitan, kami berpisah. Kusempatkan menatap pohon itu sekali lagi.

Benar juga, ia kelihatan kesepian.

Saat itu kuputuskan bahwa aku akan lebih sering bicara dengan Bella. Selain pemikirannya menarik, ternyata ia cukup menyenangkan. Dan siapa tahu, ia juga seperti pohon itu … kesepian menunggu temannya.

Ruru
13.04.15


=====

Ini juga hasil tulisan tengah malem, ikutan Malam Narasi OWOP. Malam narasi bergambar itu, kita dikasih satu gambar, terus nulis apapun tentang tulisan itu. Dan jadilah tulisan saya yang aneh ini. lol.


Semangat nulis terus, OWOPers!

No comments:

Post a Comment