Thursday, April 30, 2015

Pacaran?

"Kakak pacaran ya?" tanya sepupu kecilku saat melihat dua foto yang bersandar di meja kursi. Fotoku dan suamiku. Entah kenapa ia tiba-tiba bertanya begitu. Mungkin heran melihat beberapa hari belakangan aku tak lepas dari laki-laki yang akhirnya resmi jadi suamiku itu.

"Bukan pacaran tahu. Udah resmi," kata mamanya. Aku bingung sendiri. Memangnya anak umur tiga tahun mengerti maksudnya 'sudah resmi'?

"Emang pacaran apa sih?" Aku bertanya balik, mencoba mencari tahu apa makna pacaran yang dimaksud sepupu kecilku itu.

"Menikah…" jawabnya ragu-ragu. Manis sekali. Aku jadi tertawa mendengarnya.

"Pacaran sama menikah itu beda," kata sang mama lagi.

"Kalau pacaran rumahnya sendiri-sendirinya?" tanya bocah kecil itu lagi dengan polosnya. Ya ampuuuun! Lucu banget sih kamu. Aku jadi tertawa lagi.

Itu sepintas percakapanku dengan sepupuku minggu lalu. Heran juga aku, kenapa ia bisa berkesimpulan kalau aku pacaran. Dan, sebetulnya pacaran yang dia maksud seperti apa ya? Memangnya dia tahu apa itu menikah?

Hm…. Entahlah. Yang jelas sih, aku nggak pacaran.

Aku dan suami kenal sudah lama. Mungkin sekitar 9 tahun. Tapi, selama ini kami lebih banyak berkomunikasi via SMS dan WA.

Dia temannya teman masa kecilku. Perkenalan kami aneh. Tiba-tiba saja dia mengirimkan SMS ajakan berkenalan. Tahu nomorku dari teman masa kecilku, katanya. Memang beberapa hari sebelumnya aku mampir ke Bekasi untuk menemui teman masa kecilku itu. Entah apa yang membuatnya memberikan nomorku pada orang yang kini menjadi suamiku.

SMS kami biasa saja. Aku biasanya paling malas meladeni SMS orang, apalagi orang yang tiba-tiba mengajak kenalan. Tapi anehnya, aku ladeni saja tukang SMS yang satu ini. Dan dengan ajaib, itu berlangsung terus hingga tahun-tahun setelahnya.

Isi SMS kami bukan "Lagi apa? Di mana? Sama siapa? Udah makan belum?" seperti kebanyakan teman SMS lainnya, walau kadang ada juga pertanyaan-pertanyaan seperti itu sih. Kebanyakan SMS kami membicarakan tentang sekolah atau keseharian.

Kegiatan saling SMS itu di luar dugaan berlangsung terus selama bertahun-tahun. Tidak terus menerus tanpa henti sih, terkadang berminggu-minggu kami tidak bertukar kabar. Pernah juga berbulan-bulan.

Kalau disebut suka, selama masa SMS-an itu rasanya biasa saja. Ada rasa ketertarikan, tetapi bukan rasa suka yang berdebar-debar sampai ingin melompat-lompat. Aku tidak tahu sejak kapan rasa itu datang, yang kusadari, saat salah seorang temanku dengan usil bertanya tentang rencana menikah, kukatakan rasa-rasanya aku tidak keberatan menikah dengan laki-laki ini.

Nyaman. Mungkin itu kata yang tepat.

Jumlah pertemuan kami sebelum menikah masih bisa dihitung jari. Maksimal sepuluh kali, mungkin. Tapi rasanya nyaman saja. Meski kami sering saling diam karena kehabisan bahan pembicaraan.

SMS--yang pada akhirnya berubah menjadi WA--perlahan berganti menjadi ajang lempar kode. Tapi masing-masing dari kami tidak ada yang mengalah. Saling melempar kode, tapi tidak ada yang berani mengungkapkan dengan gamblang. Sampai pada akhirnya sebuah kode tentang menikah mendorongnya mengirim pesan yang (kira-kira) berbunyi, "Kalau tunggu dua tahun lagi mau nggak?"

Berdebar. Saat itu aku merasakannya. Tapi dua tahun kan lama. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi selama dua tahun itu?

Maka kukatakan padanya, "Nggak janji ya. Kalau ada yang lebih dulu yang baik ya nggak bakal kutolak."

Aku ingat saat itu  ia berkata, "Ya udah aku berdoa aja supaya nggak ada.yang ngeduluin." Dan aku mengamininya.

Lalu semuanya kembali seperti semula. Bahasan tentang menikah sesekali muncul, tapi hanya sebatas wacana "kalau kamu nikah nanti…". Tidak ada yang berani menyebut nama pasangan. Tidak ada yang berani mengubah 'kamu' menjadi 'kita'. Sampai dua tahun kemudian.

Dua tahun pun berlalu. Bukan tanpa apa-apa. Ada beberapa orang yang datang untuk 'berkenalan' denganku. Bukan proses taaruf via ustaz atau semacamnya, hanya kenalan dari saudara biasa. Hanya saja, aku merasa belum cocok. Gelisah juga karena laki-laki yang berjanji belum muncul-muncul juga.

'Lupakan sajalah,' pikirku saat itu. Tetapi dia malah datang.

Aku tidak menghitung pasti, tapi ya, sekitar dua tahun setelah ia memintaku menunggu. Dia datang, menyampaikan keinginannya pada orangtuaku. Ceritanya sebenarnya lebih panjang dari itu. Ada masa-masa tidak yakin, cemas, dan lain-lain. Tapi berdoa saja pada Allah agar diberi yang terbaik.

Keluarganya datang di bulan Oktober, melamar. Masih percaya tidak percaya rasanya. Lalu bulan April kami menikah.

Banyak orang yang bertanya-tanya, "Kapan pacarannya?"
Nyatanya, kami tidak pacaran.

Sepupuku bertanya, "Nanti kaget dong, Kak? Gue aja nikah setelah pacaran 3 bulan masih banyak yang bikin kaget."
Entahlah. Sejauh ini rasanya biasa saja. Natural saja. Atau mungkin justru karena tidak punya banyak ekspektasi, jadinya ya tidak kaget?

Kisah kami baru dimulai. Doakan saja semoga kami menjadi keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah. Aamiin.

3 comments:

  1. Lagi..lagi..lagi (?)
    XD baru dikit aja ceritanya udah bikin deg2an kak :p

    ReplyDelete
  2. ASSALAMU ALAIKUM.WR.WB.. SAYA TERMASUK ORANG YANG GEMAR BERMAIN TOGEL,SETELAH SEKIAN LAMANYA SAYA BERMAIN TOGEL AKHIRNYA SAYA MENEMUKAN NOMOR SEORANG PERAMAL TOGEL YANG TERKENAL KEAHLIANNYA DI SELURUH DUNIA,NAMANYA
    KIYAI_PATI DAN SAYA BENAR BENAR TIDAK PERCAYA DAN HAMPIR PINSANG KARNA KEMARIN ANGKA GHOIB YANG DIBERIKAN OLEH KIYAI 4D DI PUTARAN SGP YAITU 5467 TERNYATA BETUL-BETUL TEMBUS. SUDAH 2.KALI PUTARAN SAYA MENAN BERKAT BANTUAN KIYAI
    PADAHAL,AWALNYA SAYA CUMA COBA COBA MENELPON DAN SAYA MEMBERITAHUKAN SEMUA KELUHAN SAYA KEPADA KIYAI_PATI DISITULAH ALHAMDULILLAH KIYAI_PATI TELAH MEMBERIKAN SAYA SOLUSI YANG SANGAT TEPAT DAN DIA MEMBERIKAN ANGKA YANG BEGITU TEPAT..,MULANYA SAYA RAGU TAPI DENGAN PENUH SEMANGAT ANGKA YANG DIBERIKAN KIYAI ITU SAYA PASANG DAN SYUKUR ALHAMDULILLAH BERHASIL SAYA JACKPOT DAPAT 500.JUTA,DAN BETAPA BAHAGIANYA SAYA BERSUJUD-SUJUD SAMBIL BERKATA ALLAHU AKBAR…..ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR….SEKALI LAGI MAKASIH BANYAK YAA KIYAI,SAYA TIDAK AKAN LUPA BANTUAN DAN BUDI BAIK KIYAI, BAGI ANDA SAUDARAH-SAUDARAH YANG INGIN MERUBAH NASIB SEPERTI SAYA TERUTAMA YANG PUNYA HUTANG SUDAH LAMA BELUM TERLUNASI SILAHKAN HUBUNGI KIYAI_PATI DI NOMOR HP: 0852_1741_5657





    KLIK DISINI PESUGIHAN TANPA TUMBAL

    ReplyDelete