Monday, March 16, 2015

Prince Riding a White Horse

Sebetulnya lagi banyaaaaak banget hal yang harus dikerjain. Tapi sebentar, izinkan saya nulis sejenak saja. Wahai kerjaan (baik kantor maupun freelance), wahai hutang-hutang review, wahai hutang proyek, dan lain-lain....tunggu sebentar ya.

=====

Prince Riding a White Horse


Hampir jam 12 siang, dan aku terpaksa berjemur di bawah sinar matahari demi menunggu sahabatku selesai dengan kegiatan ormawanya. Wall-climbing.

Dasar orang-orang sarap. Wall-climbing kok menjelang tengah hari? Kan panas! Masih untung sih cahaya matahari nggak langsung keliatan waktu mendongak ke atas dinding yang dipanjat karena ketutupan gedung-gedung lain yang lebih tinggi.

"Lama nunggunya ya?"


Aku masih menggerutu dalam hati saat kulihat seorang perempuan menghampiriku. Dia ini nih yang kusebut sahabatku tadi. Tapi bohong deh. Aku benci banget sama cewek yang satu ini.

Namanya Aurora. Wajahnya cantik, dengan rambut ikal seperti putri-putri dari dongeng. Pas sekali kan? Tapi sayangnya, ia yang cantik seperti putri dongeng itu malah hobi wall-climbing! Jarang pakai rok! Pokoknya betul-betul merusak imej Putri Aurora! Makanya, aku benci banget sama dia sampai-sampai ingin mengutuknya jadi batu! Sayang sih, aku bukan ibunya.

"Au lama!" sahutku sambil cemberut. Ya, sebagai ganti kutukan, aku panggil namanya dengan sebutan 'Au' saja. Mana rela aku memanggil dia dengan nama 'Aurora'? Kenapa juga bukan aku saja yang bernama Aurora? Aku pasti jauh lebih suka daripada nama Bintang. Tapi karena bintang juga sering disebut-sebut sebagai pengabul permohonan, aku masih senang sih.

"Sori. Keasyikan tadi. Sebagai gantinya, gue traktir es krim di Miniland deh." Au nyengir. Dan aku hanya bisa mendesah--tepatnya, pura-pura mendesah padahal mataku berbinar-binar. Au memang paling tahu cara merayuku. Kami berdua pun berjalan ke Miniland.

Miniland adalah kafe kecil yang ada tepat di samping gedung fakultasku. Hanya ada empat meja di sana, masing-masing dikelilingi dua sampai empat kursi. Betul-betul kafe mini, tapi tempat itu adalah tempat favoritku.

Miniland sepertinya terinspirasi dari Disneyland, hanya saja kebetulan tempatnya 'mini' dan nama pemiliknya pun Mbak Mini (entah yang mana yang sebenarnya menginspirasi nama itu), sehingga diberilah nama Miniland. Meskipun tempatnya kecil, dekorasinya sangat membuatku betah.

Putri, penyihir, pangeran. Unicorn, peri, kurcaci. Rumah coklat, apel beracun, sepatu kaca. Meskipun hanya stiker atau hiasan dari karton, aku sudah merasa seperti berada di negeri dongeng.

Mengikuti narasiku sejak tadi, kalian pasti bisa menebak. Ya, aku cinta dongeng. Di usiaku yang hampir mencapai dua puluh tahun ini, aku masih terjebak di negeri dongeng. Aku tidak peduli banyak yang menertawakanku. Aku suka, kok!

"Tang, si Agus nembak lo kan? Belom lo jawab?" tanya Au saat kami sudah asyik duduk di Miniland sambil menjilati es krim.

"Udah, kok. Gue tolak," jawabku cuek.

"Lho, kenapa? Kan dia ganteng. Lo sendiri juga bilang dia ganteng kan?"

"Iya sih, tampangnya lumayan. Tapi namanya nggak oke. Nggak kayak nama pangeran."

Au tertawa. "Gila lo! Hari gini masih aja lo ngarep ketemu pangeran berkuda putih?"

Aku mendengus. "Gue wanita yang menggenggam erat impiannya."

Tawa Au makin keras saja. "Terus lo maunya punya pacar yang namanya siapa? Charles? Philip?"

Aku tahu Au akan tertawa lebih keras lagi kalau aku mengangguk, tapi aku toh mengangguk juga. "Atau Alex juga boleh. Vlad, atau Henry. Pokoknya yang ada unsur pangerannya."

Benar kan, tawa Au makin keras. Sekarang dia malah terbatuk-batuk karena tersedak es krim. Rasakan!

"Tang...." panggil Au saat tawanya sudah reda. "Apa lo nggak pernah denger kata-kata Shakespeare? Apalah arti sebuah nama?" Ia berkata sok bijak, padahal aku tahu dia cuma ingin meledekku.

Biar saja. Cuma Au yang kubiarkan meledekku. Karena cuma dia yang berani menertawakanku terang-terangan tanpa terkesan meremehkanku. Sifatnya memang bertolak belakang dengan Putri Aurora, tapi pada dasarnya ia baik.

"Au.... Nama itu doa. Apa salahnya gue berdoa punya suami pangeran nantinya?"

"Kalau namanya Raja?" tanya Au lagi sambil nyengir lebar. Aku tahu ia masih usil.

"Raja! Tolong bawain laptopnya turun ya!"

Belum sempat aku menjawab, sebuah suara membuat aku dan Au menoleh. Suara itu berasal dari lapangan parkir yang ada tepat di seberang Miniland. Seorang laki-laki dengan jas almamater biru berdiri di depan pintu bus. Sepertinya ia laki-laki yang berteriak tadi. Tak lama kemudian, seorang laki-laki yang ... wow, ganteng ... turun dari bus membawa tas laptop.

"Thanks, Ja." Kudengar laki-laki berjas biru itu berkata. Lalu keduanya berjalan masuk ke gedung.

"Au... Tadi namanya Raja...."

"Ng.... Iya sih. Terus?"

"Dia turun dari White Horse...." Aku menunjuk bus White Horse yang diparkir tadi.

"Kayaknya mereka anak universitas swasta dari kota sebelah yang mau studi banding," kata Au.

Aku buru-buru berdiri dan berlari meninggalkan Miniland.

"Bintang! Mau ke mana, lo?!"

"Kenalan! Mungkin dia pangeran gue!"

"Tapi namanya Raja!"

Aku tidak menggubris. Sayup-sayup, kudengar Au tertawa keras sekali. Mungkin sekarang ia sedang berguling-guling di lantai sambil memegangi perutnya.

Masa bodo. Siapa tau pangeranku sekarang sudah menjadi raja. Bersamaan dengan kuda putih yang menjelma menjadi bus pariwisata.

Masih kudengar tawa Au sesaat sebelum aku memasuki gedung untuk mencari Raja.

"BINTANG GILAAAAA!!"

-FIN-


=====

Ini apa sih? lol.

2 comments:

  1. keren banget kak tulisannya XD mengocok peruuut...hahaha

    ReplyDelete