Tuesday, March 24, 2015

Miskin


Laras terdiam di tempatnya tatkala matanya menemukan si hijau yang menjadi incarannya. Matanya tiba-tiba mengisyaratkan keraguan.

"Mau beli apa, Bu Laras?" Bang Udin, si pemilik toko yang menyadari keberadaannya segera menyapa.

"Ng, mau beli gas, Bang."

"Oh. Sebentar, Bu." Bang Udin dengan sigap mengambil salah satu tabung hijau dan memberikannya pada Laras, membuat Laras bisa melihat jelas tulisan itu.

"Sekarang semuanya ditulisin begini, Bu. Katanya biar orang kaya pada malu belinya," jelas Bang Udin saat menyadari mata Laras masih terpaku pada tulisan itu.

Laras meringis. Dengan berat hati, ia membawa tabung itu pulang.

*


"Ha … nya. U … ntuk. Ma…. Mas…. Masya … rakyat. Miskin."

Satria, anak bungsu Laras, baru saja bisa membaca tanpa mengeja satu per satu. Masih belum terlalu lancar, tapi tulisan apapun yang dilihatnya akan ia baca. Termasuk tulisan yang tertera di badan tabung berwarna hijau yang ditinggalkan sang ibu di dekat kompor, belum terpasang karena ditinggal pemiliknya yang bergegas menyelamatkan jemuran dari hujan yang turun tiba-tiba.

"Hanya untuk masyarakat miskin," ulang Satria, menyimpulkan bacaannya yang masih terbata. "Emangnya kita miskin ya, Mas?" Ia bertanya pada kakaknya, Lintang.

Siswa SD yang sedang serius belajar untuk mempersiapkan ujian nasional itu langsung menoleh ke arah Satria sambil mengernyit. "Kata siapa?"

"Tuh!" Tangan Satria menunjuk si hijau. Lintang pun membaca sendiri tulisan di tabung itu.

Miskin. Betulkah keluarganya miskin? Keluarganya jelas bukan keluarga kaya, tapi selama ini ia tidak pernah tahu kalau keluarganya mengalami masalah keuangan.

"Kita nggak miskin, kok," jawab Lintang, meski terdengar ragu. "Udah sana kamu belajar lagi!" tambahnya cepat, untuk mengalihkan perhatian. Dalam hati ia berjanji untuk lebih banyak berhemat, demi membantu orangtuanya.

*

"Tang! Lo mau ikutan nggak? Katanya di kelurahan ada pembagian sembako lho. Gratis!"

"Gratis?" Mata Lintang langsung membulat saat mendengar kata-kata temannya itu. Baik sekali pemerintah, membagikan sembako gratis.

"Iya. Tapi, lo pake baju yang paling jelek ya. Biar meyakinkan," pesan temannya lagi.

Kali ini Lintang mengernyit. "Meyakinkan kenapa?" tanyanya.

"Iyalah. Itu kan buat orang miskin. Kalo pake bajunya bagus nanti nggak meyakinkan."

Kerutan di dahi Lintang semakin dalam. "Tapi, lo kan bukan orang miskin, Hal." Si hijau yang ada di rumahnya memang membuatnya merasa keluarganya miskin, tapi temannya yang bernama Sahal itu jelas-jelas orang kaya.

"Alaaah... Nggak apa-apa, Tang. Kata bokap gue, ini hak kita juga kok. Masa ngasih setengah-setengah? Pilih kasih." Sahal memanyunkan bibirnya. "Pokoknya, pulang sekolah nanti, lo ganti baju yang paling jelek. Kita ketemuan deket kelurahan. Yang lain juga ikutan, kok."

Lintang hanya mengangguk pelan meski sejujurnya tidak setuju perkataan Sahal. Memberi bantuan pada orang miskin kok disebut pilih kasih? Bukankah adil itu tidak berarti memberi dengan sama rata? Lintang bingung.

*

"Lho, kamu mau ke mana, Tang? Kok pakai baju jelek begitu?" tegur Laras.

Langkah Lintang segera terhenti. Ketahuan, deh. Padahal tadinya dia ingin pergi tanpa sepengetahuan ibunya. Ternyata ibunya sedang duduk di sofa kecil di ruang depan. Agak tersembunyi dari arah dalam, makanya Lintang tidak menyadarinya tadi.

"Ng.... Itu, Bu.... Kata Sahal, ada pembagian sembako gratis di kelurahan."

Wajah Laras jelas menyiratkan kekagetan saat mendengar jawaban anaknya. Maksudnya.... Anaknya itu akan...?

Ah, cepat-cepat ia mengucap istighfar dalam hati dan berusaha mengonfirmasi. "Terus, kamu mau ngapain?"

Lintang menunduk salah tingkah, tapi akhirnya dijawab juga pertanyaan ibunya. "Lintang ... mau ikut antri, Bu...."

"Untuk apa, Lintang?? Kamu tahu kan, itu cuma untuk orang yang kurang mampu," kata Laras, berusaha tetap tenang.

"Tapi, Bu, Ibu juga pakai gas 3kg yang khusus untuk orang miskin. Kita juga miskin kan, Bu?"

Rasanya seperti ada petir yang menyambar di kepala Laras. Ia menggigit bibirnya kuat, tidak kuasa menjawab.

"Lagian, Sahal juga mau ikut ngantri, Bu.... Padahal kan Sahal orang kaya. Katanya nggak adil kalau yang dikasih orang miskin doang."

Laras menghela napas keras. "Sini, Lintang." Laras mengajak anaknya duduk di sisinya. Lintang menurut.

"Menurut kamu, keluarga kita miskin?" tanya Laras pelan.

Lintang bingung. Ingin menggeleng, tapi ia lihat sendiri ibunya harus membeli tabung gas hijau itu. Ingin mengangguk, tapi dalam hati ia enggan juga.

"Begini, Lintang.... Jujur saja, ibu dan bapakmu nggak sanggup kalau harus beli tabung gas yang mahal. Mau nggak mau, kita harus beli yang hijau itu. Tapi ingat, Lintang, ibu nggak suka kamu bermental pengemis. Apa kamu suka disebut orang miskin?"

Kali ini dengan cepat Lintang menggeleng. Kalaupun seandainya keluarganya tidak mampu, hatinya tidak rela disebut sebagai orang miskin.

"Orang miskin itu bukan hanya harta. Banyak orang yang lebih menyedihkan daripada orang yang miskin harta. Mereka adalah orang-orang yang miskin agama, miskin kejujuran, dan miskin harga diri. Banyak orang yang kaya raya, tapi nggak malu mengaku-ngaku miskin. Mereka memang miskin, Lintang. Mereka miskin harga diri. Paham?"

Lintang mengangguk.

"Nah, ganti pakaianmu sana. Jangan ikut-ikutan antri sembako. Banyak orang yang lebih membutuhkan dari kita, yang terpaksa meninggalkan harga diri mereka sejenak karena mereka memang membutuhkan. Sembako itu hak mereka."

Lintang kembali mengangguk, kali ini sambil tersenyum tipis. "Lintang ganti baju dulu, Bu," katanya sebelum kembali ke kamar.

Sepeninggalan Lintang, tinggal Laras yang termenung.

Ia percaya seharusnya tidak ada satu pun orang yang sudi disebut miskin oleh orang lain. Banyak orang yang meski serba kekurangan, tapi tetap punya harga diri untuk tidak meminta-minta, mengusahakan yang terbaik untuk keluarga mereka. Lalu saat pemerintah dengan jelas menyebut mereka miskin, apakah harga diri mereka tidak terluka?

Ia tahu, pemerintah menegaskan kata "miskin" untuk membuat malu para orang kaya yang berlagak miskin di luar sana. Tapi, apa pemerintah tidak memikirkan bagaimana malunya orang miskin saat harus diingatkan berkali-kali bahwa mereka miskin?

Atau mungkin, memang benar kata pemimpin ibu kota, orang-orang yang punya harga diri sepertinya hanya berlagak? "Miskin aja belagu," kata mereka.

Tabung hijau itu hanya untuk masyarakat miskin, katanya.

Miskin apa? Miskin harta? Atau mungkin miskin harga diri saja?


++FIN++

2 comments:

  1. Keren Zu... kayaknya kamu nih pemenang GA.. haha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ci, berapa kali kau memanggilku Zu? *nangis*

      Delete