Thursday, March 19, 2015

Merindukan Jepang (Part 1)

Dari dua minggu lalu gatel pengin nulis tentang Jepang, tapi kegeser ide lain terus. Akhirnya baru ditulis sekarang.

Kangen Jepang. Jadiiii, Ru pengin nulis pengalaman Ru waktu di Jepang dulu. Duluuuu banget. Nggak deh, boong. Nggak dulu-dulu banget. Cuma ... lebih dari 3 tahun yang lalu. Udah lama, ya? Kapan bisa balik lagi ke sana, ya? Tapi maunya umroh dulu ah sebelum balik ke sana. Hehehe...

Okay, here we go.... 

22 Juli 2011, pertama kalinya Ru dan kawan-kawan menginjakkan kaki di Jepang, tepatnya di kota Osaka. Sampe di Jepang sekitar jam 9 pagi. Muka kuyu kelamaan di pesawat. Ngomong-ngomong, untungnya kebetulan banget kita sepesawat sama Yokoyama-sensei yang mau pulang kampung. Yokoyama-sensei itu orang Jepang yang ngajarin kaiwa (percakapan) di kampus. Kenapa untung? Soalnya pas turun dari pesawat tuh rute keluar dari bandaranya ngebingungin. Mana sepi dan penunjuk arahnya cuma dikit. Ru bilang bingungin karena kita emang nggak aware sama sekali sih, tinggal ngebebek sensei aja. Kalo nyari jalan sendiri mungkin sebetulnya nggak ribet-ribet banget?


Dari bandara ke Kansai Kokusai Kikin Center (atau biasa kita sebut Sentaa), kami berenam naik shuttle bus. Isinya kami doang sama sopir karena ternyata yang dari negara lain udah pada sampe. Yang dari Indonesia ini yang terakhir sampe. Sepanjang jalan--yang sepi banget itu--Ru merhatiin pemandangan. Masih antara percaya nggak percaya. Wow, kita di Jepang nih?

Kucel-kucel baru sampe. Eli nggak kefoto krn dia yg motoin. lol

Flashback sedikit, sebelum Juli itu, kami sebetulnya was-was. Masalahnya, sebenernya kami dijadwalin ke Jepang bulan April, waktu sakura lagi mekar. Sayangnya menjelang bulan April, ada kejadian tsunami. Inget kan? Yang PLTN Fukushima meledak itu lho. Sempet ngira  nggak jadi berangkat, tapi alhamdulillah, berangkat juga walau jadinya musim panas.

Sampai di Sentaa, kami dikenalin ke para resepsionis--yang sayangnya Ru lupa semua namanya, termasuk bapak botak yang gayanya kayak pelawak itu--terus dipersilahkan ke kamar. Ru pernah nulis satu postingan sendiri tentang kamar nomor 405 yang jadi kamar Ru selama di Sentaa.

Acara pembukaan dimulai setelah makan siang. Kumpul di aula, kenalan sama temen-temen baru. Di sebelah Ru duduk seorang cowok Thailand yang namanya susah dibaca. Pas perkenalan awal itu, yang Ru inget banget adalah seorang cewek Vietnam yang ngenalin diri dengan bilang, "Kalian bisa panggil aku Minami. Atau 'Kirei' juga boleh." Hahaha... Percaya diri banget itu anak. Tapi betul sih, si Minami ini emang kirei (cantik), dan dia supel banget. Selain Minami, Ru juga inget seorang cewek Myanmar yang bahasa Jepangnya lancar banget. Namanya Mo.

Setelah perkenalan resmi dan pembukaan, kami diajak ice breaking. Kenalan lagi sambil main. Ngomong-ngomong, karena ini program emang khusus buat mahasiswa jurusan bahasa Jepang, jadi semuanya ngomong pake bahasa Jepang.

Waktu ice breaking, Ru nandain nama Rin (waktu itu tampangnya masih lupa-lupa inget), seorang cewek Vietnam yang suka anime--sayangnya favorit dia Ao no Exorcist, yang ga gitu Ru ikutin. Dan akhirnya, kami (ng...kalo ga salah jumlah selurunya 37 orang ya?) dibagi jadi kelompok-kelompok kecil sebanyak 4-5 orang. Setelah dibagi kelompok, kami dikasih peta + jalur kereta kota Osaka, ditambah tiket gratis naik kereta seharian (kereta ekspress nggak termasuk), plus satu amplop berisi daftar tiga tempat yang harus kita datengin.

Bayangkan, Teman-teman, kami-kami yang (hampir semuanya) baru pertama kali ke Jepang ini disuruh keliling Osaka cuma berbekal tiket dan peta! Pergi satu grup tanpa ada orang Jepang yang nemenin. Dan lagi, itu dilakuin di hari kedua kita sampai di Jepang. Wow~ Okay, challenge accepted!

Selesai merancang rute (sensei-sensei ngecekin tiap grup, mastiin rute kereta yang kami ambil bener), kami bubar. Siap-siap makan malam dan beresin kamar. Pas makan di cafetaria, enam orang asal Indonesia ini bertekad nyari temen dari negara lain. Sayangnya, pas ngedarin mata, orang-orang udah pada bergerombol, kayaknya udah pada dapet temen. Tapi akhirnya kami ngeliat tiga orang di pojok ruangan. Oh, itu anak-anak dari Thailand. Akhirnya kami nyamperin mereka.

Cowok Thailand bernama sulit dibaca, yang pas pembukaan duduk di sebelah Ru, itu panggilannya Kon. Satu cowok Thailand lagi yang duduk di sebelah Nana pas pembukaan, namanya Chin. Sedangkan satu lagi cewek, panggilannya E. Iya, singkat. "E" doang. Mereka pendieeeeem banget. Karena mereka juga belum punya peralatan mandi (orang yang ngurusin kami di Indonesia bilang mending beli peralatan mandi di Jepang aja), jadi kami janjian ke minimarket bareng-bareng. Sepanjang jalan, di antara tiga anak Thailand itu, yang paling banyak ngomong adalah si ganteng Chin. Sepertinya bahasa Jepang mereka emang kurang bagus--bukan berarti yang dari Indonesia bagus, sih. Yah, lumayan lah....

Keesokan paginya, semua anggota program udah berkumpul di Stasiun Rinku Town untuk siap menjelajah. Rupanya semua orang mikirnya sama: berangkat dari pagi biar kalo nyasar pun masih ada kesempatan jalan ke tempat lain. Nah, ini grup Ru:

Min dari Thailand, Chu dari Myanmar, Chun dari Vietnam, Ru dari Indonesia

Grup Ru dapet tugas ke Tsuutenkaku (Osaka Tower), Osaka-jou (Benteng Osaka), dan Osaka Tenmangu (salah satu kuil populer di sana). Rute kami pertama-tama ke Tsuutenkaku dulu. Isinya biasa aja sih. lol. Cuma ada diorama-diorama tentang Osaka masa lalu. Asyiknya sih pas di atas, ngeliat kota Osaka dari atas. Yang lucu ada patung dewanya di situ. Katanya kalo nyentuh kakinya, nanti keinginan kita terkabul.

Narsis di Osaka Tower (yang tengah itu replika patung dewanya)

Osaka-jou itu tamannya luaaaas banget. Dan ternyata banyak orang yang ke sana buat olahraga gitu (kayak Monas. lol). Ru dan kawan-kawan mulai kecapekan karena jalan terus. Well, di Jepang tuh stasiunnya deket-deket, jadi mau ke manapun bisa naik kereta, nggak perlu naik bus atau lain-lain lagi. Jadilah kami jalan kaki terus dari stasiun ke tiap tempat tujuan. Di dalam benteng Osaka sih kayak museum gitu, banyak barang-barang bersejarah. Terus ada juga penyewaan kostum buat foto. Si Chun gaya banget pinjem di situ. Wkwk....

Chun dengan orang random yang kebetulan nyewa kostum juga

Abis dari sana, kita ke Osaka Tenmangu. Rameee banget, ternyata katanya mau ada latihan buat acara. Ru lupa acara apa. Kami nggak lama-lama di sana karena hari udah sore sementara kami mau ke tempat belanja (HAHA!). Pas liat di peta, ternyata distrik perbelanjaan yang mau kami datengin nggak terlalu jauh. Akhirnya kami mutusin buat jalan kaki dan ternyata ... iya sih distriknya nggak jauh, sebentar doang kita udah sampe di deretan toko-toko gitu. Tapi yang Ru incer tuh Denden Town (Akihabara-nya Osaka) karena Ru mau beli kamus elektronik. Ternyata oh ternyata, itu Denden Town adanya di ujung. Walah....

Mengarungi perjalanan panjang menuju Denden Town, kami menemukan Jembatan Glico yang terkenal. Nggak deng, namanya bukan Jembatan Glico. Namanya Ebisubashi atau yang sering disebut "Pick-up Bridge". Alasannya adalah, kalo malem, banyak orang yang diem di situ nunggu ada yang ngajak kenalan (Wakakakak). Ru sebut itu Jembatan Glico soalnya di situ biasanya artis-artis Jepang suka berfoto dengan latar belakang maskot Glico. Kayaknya di situ emang jadi tempat foto favorit. Makanya, Ru dan kawan-kawan nggak mau kalah dong~

Si Min selalu berbaik hati nawarin diri buat fotoin soalnya ... dia mau difoto sendirian. lol

Kami pun melanjutkan perjalanan. Sempet berhenti sebentar di salah satu toko yang jadi inceran Min, tapi karena Min bilang kayaknya doi bakal lama, akhirnya dia ambil beberapa barang dan kami jalan lagi. Katanya nanti-nanti aja dia balik lagi sendiri. Ah, Min itu tipe orang yang bertanggung jawab. Ngomong-ngomong tentang Min, di antara teman seperjalanan Ru ini, Min yang paling banyak omong. Lawan ngomongnya ya saya. Haha.... Soalnya yang dua diem banget, kayaknya masih kurang pede sama bahasa Jepang mereka. Min bahasa Jepangnya cukup lancar sih, tapi karena terpengaruh logat Thailandnya, beberapa pengucapan jadi nggak jelas. Kayak "go" dia sebut "kho", terus "tsu" disebut "tchu". Jadi pas ngobrol sering Ru minta ulangin ucapannya ^^;

Balik ke Denden Town, saat kami sudah lelah dan nyaris menyerah, akhirnya kami melihat tulisan Denden Town!! Fiuuh.... Karena betul-betul udah capek, Min minta Ru masuk ke toko elektronik terdekat yang ada aja. Ru mengiyakan karena Ru juga udah capek. Alhamdulillah di situ Ru dapet kamus elektronik yang Ru cari, dengan harga yang sudah diperkirakan (itu yang paling murah sih). Eh dikasih bonus anti gores & touchpen gratis pas Ru bilang baru sampe kemaren. Hehehe.... Alhamdulillah....

Keluar dari toko itu, kami kompak pengin pulang. Akhirnya kami langsung ke stasiun yang nggak jauh dari situ dan naik kereta pualang ke Sentaa!

Sampai stasiun Rinku Town, kami ketemu grupnya si Hobo. Sama kayak grup Ru, jalannya udah pada gontai semua kecapekan. Hahaha.... Lucunya, pas lagi jalan pulang, Ru sama Min jalan berdua di depan, tiba-tiba Chun manggil Ru. "Ru! Achi! Achi!" katanya sambil nunjuk Factory Outlet yang kayaknya udah tutup. Achi maksudnya "sebelah sana".

Min ngira Chun ngajakin kita ke FO itu. Dengan muka capek, dia bilang, "Besok aja ke sananya."
Tapi Ru tau bukan itu maksud Chun. Bener aja, soalnya dia masih nunjuk-nunjuk. Ru paham, maksud dia harusnya belok kiri di sebelah FO itu. Emang sih, pas berangkat naik shuttle bus tuh kita munculnya dari arah FO itu, tapi Ru udah merhatiin peta dan Ru tau kalo lebih cepet lurus.

"Lurus juga bisa, kok," kata Ru. Si Chun diem tapi kayak masih nggak percaya gitu. Wahahaha... Doi emang tipe yang agak cemasan sih. Nah, pas masih setengah jalan sampai Sentaa, tau-tau shuttle bus lewat. Kami langsung mendesah karena nggak bisa naik shuttle bus (bus Jepang kan biasanya nggak berhenti sembarangan). Eh, ternyata itu bus berhenti di deket kami! Yay~ Dengan senang hati kami naik sampai ke Sentaa.

Sampai di Sentaa, ternyata temen-temen Ru yang cewek-cewek pada belom balik. Mereka pake acara nyasar-nyasar rupanya. Hahahaha....

Oh, untungnya waktu itu Ru lagi nggak shalat, jadi nggak perlu bingung cari tempat shalat. Si Nana juga beruntung karena dia bareng sama Lina, muslimah dari Malaysia. Jadi pas kunjungan mereka ke gedung, dia sama Lina cari tempat sepi di pojokan trus gantian shalat di sana. Temen-temen Ru yang lain nggak tau deh. Shalat nggak kalian, Teman-teman?

Begitulah dua hari pertama Ru di Jepang. Karena tangan ini pegel, cerita akan dilanjutkan kapan-kapan. Ng.... Ini bakal jadi berapa part ya? Satu part ini cuma cerita dua hari doang, padahal Ru di sana 30 hari. Hahahaha.... Tapi kebanyakan hari diabisin belajar di Sentaa sih, jadi mungkin nggak akan panjang-panjang.

Oke deh, kapan-kapan Ru tulis lagi~

4 comments:

  1. Wah... nice story Ru. Jd tambah pengen ke Jepang. Negara impianku dari dlu.. moga2 kesampaian ksna suatu hari nanti.. aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.... Aamiin, Ci. Semoga Cici bisa ke Jepang!

      Delete
  2. Gue.udah.lupa.

    Tadinya mau nulis semacam ini juga. Cuma setelah dipikir-pikir. Waktu hari kedua itu gue ke mana aja yah? GUE LUPA!
    Kecuali waktu ke HEP 5 yang naik biang lala super besar itu xDD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Paraaaah... Coba bongkar-bongkar album fotonya.

      Kalo ga salah Osaka-jo tuh semua grup ke sana nggak sih?

      Delete