Thursday, October 2, 2014

Vanished

Untuk kesekian kalinya hari itu, ia mengecek ponselnya.

Tak ada apapun. Aneh.

Ia memang bukan tipe laki-laki yang hobi berkomunikasi dengan menggunakan ponsel. SMS, email, chatting, sosial media, atau apapun itu, meski punya pun jarang ia buka. Awalnya sempat sih ia terbawa trend dan aktif di beberapa sosial media, tapi sekarang paling-paling diceknya seminggu sekali saja.

Tapi ini sudah lebih dari dua minggu. Dan belum ada pesan masuk dari perempuan itu.

Aneh. Sangat aneh.

Ia memang jarang membuka aplikasi itu, perempuan itu pun tahu. Tapi ia pernah berjanji akan selalu membalas pesan dari perempuan itu saat ia sempat--atau tepatnya kalau ia sedang mood. Dan biasanya tiap ia membuka aplikasi chatnya, akan ada minimal satu pesan dari perempuan itu, yang akan dibalasnya berhari-hari kemudian. Terkadang malah beberapa minggu setelahnya.

Dibukanya kembali chat terakhir mereka. Terakhir kali pesan masuk dari wanita itu tanggal 26 Maret. Ia sudah menjawabnya seminggu kemudian. Dan sekarang, tanggal 17 April, sama sekali belum ada pesan lagi dari perempuan itu. Padahal karena heran, minggu lalu ia juga mengirimkan pesan untuk menanyakan kabar pekerjaan perempuan itu.

Ia menghela napas. Di luar dugaan, ternyata ia merindukan pesan-pesan simpel itu. Padahal siapa sih mereka? Hanya teman dunia maya yang tidak pernah bertatap muka. Kadang mereka membicarakan khayalan jika suatu saat mereka bisa bertemu langsung, tapi sejauh ini pembicaraan mereka memang hanya sebatas khayalan saja. Karena jarak yang terlalu jauh. Karena dana yang tidak mencukupi. Dan mungkin sesungguhnya karena mereka memang tidak pernah benar-benar berharap bisa bertemu.

Tapi ia tidak pernah berharap putus kotak seperti ini juga.

TING.

Notifikasi pesan masuk. Ia cepat-cepat mengecek ponselnya.

Sial. Bukan dari perempuan itu.

Ia ingat tak terlalu lama sebelum pesan terakhirnya perempuan itu pernah menuliskan pesan yang memintanya untuk tidak pernah menghilang tiba-tiba. Memintanya selalu memberi kabar, meski jarang. Saat itu ia memang sedang sibuk-sibuknya. Terkadang sebulan sekali ia baru mengecek pesan baru.

Tapi, kenapa sekarang justru perempuan itu yang seolah ditelan bumi?

Apakah terjadi sesuatu? Atau perempuan itu hanya terlalu sibuk? Tapi biasanya perempuan itu selalu membiarkan aplikasinya menyala, dan menjawab pesan dengan cepat.

Ia tidak tahu kalau kehilangan teman dari dunia maya bisa membuatnya sefrustrasi ini. Kalau ada sesuatu dengan temannya di dunia nyata, ia bisa langsung mendapat kabar dari teman-temannya yang lain, atau keluarganya. Tapi perempuan ini hanya dikenalnya lewat dunia maya.

Lagi-lagi ia menghela napas, membiarkan ponselnya tergeletak di ranjangnya. Tidak ada pilihan lain selain menunggu.

.

Dan saat itu ia tidak tahu kalau ia akan terus menunggu. Bahkan hingga bertahun-tahun setelahnya.


_FIN?_

=========


Sejujurnya ini potongan cerita dari cerita yang lagi ngebet pengin Ru buat. Bisa dibilang side story. Atau malah prolog. lol. Namanya sengaja nggak disebut, karena kalo novelnya jadi, nanti bisa tebak-tebakan. :3


Ru sering berpikir gini sih. Ada beberapa temen dunia maya yang udah deket, terus ilang tanpa kabar. Mau nanya kabar ke siapa juga nggak bisa. Kadang cemas. Lebih sering kangen. Hehe.... Ru juga pernah ngilang tanpa kabar sih. Gara-gara beberapa akun nggak bisa dibuka. Jadi suka mikir, apa kabar temen-temen yang cuma tau Ru di akun itu?

Masih inget para 'niichan', dua orang Indonesia yang lama tinggal di Jepang. Bahasa Indonesia mereka kacau banget. Tapi keliatannya baik, soalnya walau mereka sempet nanya nomer hape, akhirnya mereka nggak jadi minta jawaban karena katanya takut nanti dianggap orang jahat. Mereka juga konyol. Sayangnya ilang kontak karena mereka ga online-online lagi sampe akun email Ru ga bisa dibuka lagi.

Inget juga Mi-chan, guru bahasa Inggris di Singapur yang Ru kenal di FB. Dulu FB Ru sempet Ru deactive lumayan lama. Akhirnya bikin baru. Sayangnya Ru lupa nama akunnya Michan. Dan pernah chat-email sama dia di email lama yang udah ga bisa dibuka itu (email yang sama kayak atas).

Ada lagi Sumi-chan, orang Turki yang lahir & besar di Jerman. Dia muslimah, selalu heboh kalo chat sama Ru. Malah pernah dia ngasih Ru chat sama ibunya. Ru pernah kirim surat juga, tapi dia emang ga bales sih. Mahal ato apa gitu alesannya. Ini tragis. Ru tau emailnya, tapi terakhir nyoba chat via emailnya, ga direspon-respon. Curiga udah nggak aktif. Ru juga tau nomer hapenya, tapi kayaknya udah nggak aktif juga. Pernah juga Ru kirim kartu pos lagi. Tapi tetep nggak ada respon. Bikin bertanya-tanya....

Ini kenapa jadi curhat juga? lol. Sudahlah....

2 comments:

  1. Ciee udah berapa novel yang direncanakan... ushishishi

    Temen-temen di dunia maya itu kalo nggak akhirnya ketemuan (ketemuan cuma beberapa kalipun) ujungnya pasti pada akhir yang kurang lebih sama. Nggak ada kabar, lost contact. Yah, emang sangat disayangkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sial *sepak Zu* =))))
      Ini masih berhubungan sama novel yang itu, kok. Sekarang lagi fokus ke novel yang itu doang. Haha #itumana

      Kalau lost contact nya pas hubungannya udah agak renggang sih masih mending. Miris itu kalo ilang pas lagi deket-deketnya.

      Delete