Wednesday, July 2, 2014

Tradisi Debat Calon Pemimpin

Di Indonesia, kayaknya debat calon pemimpin itu biasa banget ya. Awalnya saya juga merasa tradisi debat capres itu biasa saja. Waktu sekolah pun, pemilihan ketua OSIS suka ada debatnya. Pemilihan ketua BEM di kampus juga sama. Jadi buat saya, rasanya nggak aneh.

Sampai tiba-tiba, waktu lagi ramai bahasan tentang debat capres di twitter, seorang teman online saya dari Negeri Jiran, Malaysia, berkicau yang intinya di Malaysia nggak ada tradisi debat kayak Indonesia.



Respon pertama saya adalah berpikir "enak ya....". Terus saya ingat, dalam Islam pun ada hadist yang melarang berdebat.

Dari Aisyah radhiyallau 'anha, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إلى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ
"Sesungguhnya orang yang paling dibenci Allah Ta’ala adalah orang yang suka berdebat." [HR. Bukhari dan Muslim]

Lalu juga

Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
"Aku akan menjamin sebuah rumah di tepi Surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meskipun dia yang benar. Aku juga menjamin rumah di tengah Surga bagi siapa saja yang meninggalkan kedustaan walaupun dia sedang bergurau. Dan aku juga menjamin rumah di Surga yang paling tinggi bagi siapa saja yang berakhlak baik."
[HR. Abu Daud (no. 4800), dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Jami’ (no. 1464)]

"Tapi debat capres kan bukan debat yang kayak gitu! Debat capres itu elegan!" Mungkin ada yang berpikir begitu? Menurut saya sih, debat capres itu cuma ajang mencari celah untuk saling menjatuhkan lawan. Beda dengan debat OSIS (di sekolah saya sih) yang lebih mirip tanya jawab biasa karena rata-rata calonnya mengajukan diri karena disuruh guru, jadi nggak ada ambisi untuk saling menjatuhkan lawan.

Lalu, waktu melihat (sepintas) debat cawapres hari Minggu kemarin, tiba-tiba adik saya yang baru lulus SMA nyeletuk. Katanya, "Kenapa harus debat capres ya? Kenapa nggak 'diskusi capres' gitu? Jadi, mereka bisa diskusi nentuin program-program yang baik, terus nanti yang kepilih jadi presiden yang ngejalanin deh."

Celetukan yang kedengaran begitu polos, dan langsung membuat saya mikir "iya juga ya". Maklum, sudah terlalu terbiasa dengan tradisi debat, otak saya jadi tumpul.

Seandainya tradisi debat bisa diganti jadi diskusi pasti bagus banget ya. Tapi rasanya nggak akan semudah itu sih. Politik itu keras, Bung!

Yah, bermimpi kan boleh. Siapa tahu betul-betul jadi kenyataan. Yang lagi puasa jangan lupa didoakan negerinya. Katanya doa orang yang berpuasa sampai waktu berbuka itu makbul lho.

Semoga Indonesia jadi negara yang lebih baik, lebih maju, lebih mandiri dengan pemimpin yang amanah. Aamiin....

7 comments:

  1. Baru sempet komen....

    Saya cuma mau bilang, celetukan itu terkadang bukan hanya kata-kata gak jelas yang dikeluarkan, itu buktinya.... yakan? (pembelaan orang yang suka nyeletuk)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya sih. Tapi tergantung celetukanmu dulu kayak gimana lah :p

      Delete
  2. Si Rina yang ngomong ya? Hahahaha~

    Tapi bener juga, mungkin diskusi akan lebih bagus. Tapi mau nggak mau harus punya capres yang bisa besar hati kalo kalah :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Na, Ru kan nulis "tiba-tiba adik saya yang baru lulus SMA". Reina kelas berape? (Reina btw, bukan Rina)

      Nah, justru itu kan poinnya. Kita mencari presiden yang baik, yang bisa menerima kekalahan ga ngotot-ngototan menang. :p

      Delete
    2. Ru........

      Maksud gue temen yang dari Malaysia.... si Rina.
      Soal kebiasaan debat itu......

      Delete
    3. Oh! Wahahahaha... Lina maksudnya? Bukan, bukan dia. Ada coser dari Malaysia yang murni saya belom pernah ketemu

      Delete
  3. susahnya itu lebih ke "berhati lapang" Ru
    apalagi kalo mentalnya masih gini-gini aja, ga mau kalah, ninggiin ego, ga mau denger
    duh negeriku :"(

    ReplyDelete