Tuesday, June 24, 2014

[Review: Novel] Oishii Jungle


Judul : Oishii Jungle
Penulis : Erlita P.
Desainer sampul : Agrietia Agusti
Penata isi : Yusuf Pramono
Penerbit : Grasindo
Terbit : 2014
Tebal : 194 hlm.
ISBN : 978-602-251-489-3

Sinospsis:

Terkadang kita memerlukan kehadiran wisatawan asing untuk bisa melihat dan menyadari keindahan negeri kita.

Demi menonton drama kabuki di Kabuki-za, Tokyo, Shasa bersusah payah mewujudkan keinginan sekaligus menjawab tantangan Akiko-berpetualang ke tempat yang tidak akan terlupakan seumur hidup.

Dibantu Era, partner in crimenya dan Heru, teman sejak SMP, Shasa membawa Akiko dan Kenji berpetualang melihat kehidupan orang utan di pedalaman Kalimantan. Tepatnya di Taman Nasional Tanjung Puting. Bagi shasa yang terbiasa berlibur ke luar negeri dengan fasilitas bintang lima, liburannya kali ini benar-benar menguji mentahnya. Di pulau Borneo, semuanya serba berbeda.

From a big city to the jungle, apakah sebuah ikatan persahabatan akan mampu menjadi sumber energi bagi Shasa untuk mengatasi semua kesulitannya?

====

Seperti yang tertulis di blurb bukunya, cerita di novel ini dimulai dari tantangan Akiko, 'mantan' tetangga Shasa yang sekarang kembali ke Jepang, untuk berpetualang ke tempat yang nggak akan terlupakan seumur hidup. Gara-gara tantangan Akiko itu (juga karena tergiur dengan 'hadiah' tantangan yang berupa ajakan nonton kabuki), Shasa jadi rajin browsing tentang tempat-tempat wisata Indonesia. Dibantu sahabatnya, Era, Shasa berhasil menemukan tempat wisata yang menarik minat Akiko: Taman Nasional Tanjung Puting.

Demi memperlancar rencananya berlibur ke pedalaman, Shasa yang hobi makan snack Jepang juga mengikuti saran Era untuk membuka bisnis jualan snack Jepang. Untungnya, Shasa punya beberapa kenalan yang bisa membantunya menyuplai snack-snack itu. Ada Tante Novi yang pramugari, tetangga Shasa yang pilot, dan juga Akiko. Melihat anaknya serius pengin liburan ke pedalaman sampai bisnis segala, Mama Shasa yang super duper khawatiran itu akhirnya merelakan anak semata wayangnya berpetualang.

Kira-kira, bisa nggak ya Shasa yang tipikal ojousama (biasa mendapat keinginannya tanpa perlu usaha keras) itu bertahan di pedalaman? Apalagi ditambah keberadaan dua cowok: Heru, teman SMP sekaligus orang yang akan menjadi guide mereka di sana; juga Kenji, kakak Akiko. Era sebetulnya naksir Heru apa Kenji sih? Akiko juga, masa naksir Heru? Terus Shasa sama siapa dong? Sama orang utan aja kali ya? Hehe....

Tema yang diangkat di novel ini ringan banget. Lima orang yang berlibur di tempat wisata yang jarang didatangi orang lokal (Heru nggak diitung ya, dia kan orang sana). Sambil menikmati suasana di Kalimantan, pembaca diajak mengikuti kisah persahabatan Shasa-Era-Akiko yang diselipin cerita romantis juga.

Gaya penulisannya asyik, mengalir, dan nggak bikin mikir. Penjelasan tentang daerah Pangkalan Bun dan sekitarnya juga bikin pengin ke sana. Emang ini bukan novel serius, jadi buat yang lagi cari novel serius, novel ini bukan novel yang kamu cari. Buat yang lagi cari novel yang asyik dibaca sambil ngemil atau bersantai ria, ini pas banget nih.

Rasanya agak kecepetan sedikit di bagian-bagian awal pas ngerencanain liburan sih. Tiba-tiba udah mulai liburan aja gitu. Bisnis snack Shasa cuma diceritain sepintas-sepintas aja. Tapi walau sepintas, masih disebut sih. Jadi pembaca tau kalo Shasa masih ngejalanin bisnisnya, nggak berenti begitu aja pas uang buat berlibur udah kumpul. Mungkin penulis sengaja nggak bahas tentang itu kali ya? Nanti kalo terlalu banyak bahas itu, temanya jadi mirip Miss Bento dong?

Ngomong-ngomong tentang Miss Bento, di novel ini juga muncul karakter dari novel Miss Bento dan Takoyaki Soulmate lho (udah baca dua novel ini belum?). Saku dari Miss Bento muncul waktu Shasa pengin buka stand di acara Gelar Jepang. Tokoh-tokoh Takoyaki Soulmate muncul waktu Shasa dan Era ngajak temen-temennya makan di Kaguya's Corner. Hehe... Bisa banget deh Kak Erlita masukin karakter-karakternya lagi.

Kalau membandingkan antara ketiga novel ini, aku paling suka Oishii Jungle. Alasannya, karena cerita di sini lebih mengalir dan masalah yang dihadapi karakternya juga terkesan alami. Kalau Takoyaki Soulmate menurutku agak komikal gitu masalahnya. Terus kalo Miss Bento malah khas komik 'serial cantik'. Oishii Jungle ini yang lebih realistis konfliknya.

Yang aku bingung, katanya Kak Erlita nggak terlalu mendalami 'Jejepangan' lho. Tapi kok tiga novelnya yang terbitan Grasindo ini berbau Jepang semua ya?

Nah, mungkin karena kurang mendalami Jejepangan ini, ada dua hal yang kurang pas tentang dua orang Jepang di novel ini.

  1. Ucapan 'Oishii (enak)'. Emang betul sih, orang Jepang sering banget nyebut kata 'oishii' (selain 'kawaii'), tapi menurutku, lebih pas kalo Kak Erlita pake 3 bentuk dari kata oishii, yaitu:
       a.  Oishisou (keliatannya enak) -- diucapkan sebelum makan, waktu liat makanannya
       b.  Oishii (enak) -- diucapkan saat makanan sudah masuk ke mulut
       c.  Oishikatta ([tadi] enak) -- diucapkan setelah selesai makan.
    Harus dicatat, tiga bentuk oishii ini penting banget lho di kehidupan bermasyarakat di Jepang. Aku pernah denger kalo untuk orang-orang pemerintahan (Indonesia) yang nggak bisa bahasa Jepang, tiga kata ini diajarkan paling dasar setelah salam. Asal pake tiga kata ini saat perjamuan makan, pasti nggak akan dianggap sombong. Hehe.. Seperti yang disebut di novel Oishii Jungle, emang orang Jepang selalu bilang 'oishii' untuk menjaga kesopanan.
  2. Orang Jepang itu mandinya cuma sehari sekali, di malam hari, harus dengan air hangat. Makanya agak aneh pas Akiko mau mandi pagi. Atau mungkin Akiko udah terbiasa sama Indonesia ya? Hehehe....

Selain dua hal tadi, aku mau kasih sedikit trivia tentang snack Jepang. Snack Jepang emang banyak banget jenisnya. Rasanya juga lebih beragam dari di Indonesia. Bentuknya juga banyak yang lucu~ Di novel ini beberapa sempet disebut sebagai barang jualannya Shasa. Beberapa di antaranya ini nih:

KitKat Green Tea
Meiji Bamboo Shoot
KitKat Otona no Amasa
Chocobi
Lucu-lucu dan aneh-aneh ya? Aku juga pernah dapet oleh-oleh kue bentuk ikan. Lucu deh~ Rasanya sih agak-agak mirip serabi.

Wakaayu
Pastinya bentuk lucu-lucu begini bikin ngiler. Tapi sayangnya, di Jepang nggak mementingkan halal-haram. Jadi, untuk yang muslim, kalau mau beli snack Jepang hati-hati ya. Kanji yang pasti harus kita hindarin waktu beli snack Jepang itu kanji 豚 (buta) yang berarti babi, dan kanji 酒 (sake) yang berarti alkohol. Kalau ada kanji kayak gini, udah pasti haram. Lainnya berarti halal? Belum tentu juga... Ada kanji 乳化剤 (nyuukazai)yang berarti emulsifier. Nah, emulsifier kan ada yang dari hewani dan nabati. Kalo nabati, biasanya dari kacang kedelai. Jadi begini nih kanjinya 乳化剤(大豆を含む). Kalo nggak ada tulisan "(大豆を含む)", berarti dari hewani, dan kita juga nggak tau kan hewannya halal apa nggak.

Yang lebih gawat lagi, berdasarkan link ini,  katanya, “Memang perusahaan di Jepang itu tidak begitu memperhatikan masalah halal. Jadi, perusahaan Jepang lebih memperhatikan faktor ekonomis dari pada masalah “halal”. Jadi bahan baku akan berubah-ubah sesuai dengan situasi pada saat produksi.”

Waduh, makin susah dong ya? Yah, pokoknya pesen buat temen-temen yang muslim, kalau mau makan snack Jepang, hati-hati dicek dulu. Jangan lupa ucap basmallah juga. Hehehe... 
Shasa, kalau jual snack Jepang lagi, cek halal nya dulu juga ya~ :p

Yuk baca Oishii Jungle sambil ngemil snack Jepang yang halal~ (kirim-kirim satu buat aku ya. Hihihi)

3 comments:

  1. Wooo, Ruru maunya snack Jepang :p
    Saya juga mau dong, wakkakak *plak

    Ngomong-ngomong dalam review ini saya sebenernya jadi fokus sama snack-snaknya, bukan ke ceritanya, mungkin karena ngga kebayang gambaran ceritanya. Maksudnya sinopsis cerita kaya gini juga biasa aja, nggak ada yang narik apa gitu yang pantes saya 'kejar'. Mungkin karena udah sering juga bersentuhan dengan hal-hal berbau Jepang jadi kurang merangsang mood baca. Bwahahaha

    Tapi kalo cerita yang ringan-ringan gitu, patutlah buat dibaca, buat ngerefresh aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha... Iya Zuu... Kalo udah terbiasa bersentuhan sama Jejepangan, bawaannya emang suka males kalo liat novel dalam negeri yang ke-Jepang-an. Haha.

      Tapi toh kau udah baca Takoyaki Soulmate kan? Ini rasa Indonesianya lebih terasa kok. Terus, kalo Takoyaki Soulmate ceritanya agak komikal (menurut Ru ya) dengan tokoh-tokohnya yang ajaib, yang ini lebih realistis. Tema masih ringan tapi menurut Ru oke. Untuk ukuran novel ringan, ini oke banget :)

      Delete
    2. Kalo begitu bolehlah saya pinjaaaam... wakakakka #gakmodal

      Delete