Friday, May 30, 2014

Yang Terlupa

"Nyerah?" tanyanya.

Kau mengangguk. "Udah nggak sanggup," katamu pelan. Tapi aku yakin, ia bisa menyadari ekspresi tidak rela yang tergambar di wajahmu.

"Kamu yang bilang kan kalau ini mimpi kamu?" Ia kembali mengingatkan.

Ah.... Wajahmu kenapa berubah jadi sendu begitu?

"Kalau ini mimpi kamu, kamu mestinya seneng ngelakuinnya," tambahnya lagi.

Kamu masih diam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku tahu, sudah beberapa lama ini kamu tidak merasakan kesenangan itu lagi. Kau sering menggerutu padaku, juga memasang wajah kesal. Kalau senang melakukannya, kau tidak akan menggerutu atau berwajah seperti itu kan.

Diammu lama sekali, tapi ia tidak berkomentar lagi, masih menunggu. Lalu, saat kau membuka suara, ekspresi wajahmu sudah kembali berubah. Begitu pula nada bicaramu.

"Aku nyoba lagi deh." Kali ini kau tersenyum tipis. Masih terlihat sedikit keraguan di matamu, tapi nada bicaramu sudah mantap. Kau tidak jadi menyerah rupanya.

"Naaah, gitu dong!" Ia tersenyum sambil mengacungkan jempol, membuatmu tertawa kecil.

Sudah jarang sekali aku melihat wajahmu seperti itu saat aku ada di dekatmu.

Tiba-tiba kamu menoleh ke arahku, lalu mengulurkan tanganmu untuk mengelusku lembut.

"Aku hampir lupa kalau ini salah satu impian aku," katamu seraya mengangatku, kemudian menimangku.

Kau tersenyum lembut ke arahnya. "Makasih ya, udah diingetin...."

Aku juga harus berterima kasih padanya. Kelihatannya mulai sekarang, aku tidak akan teronggok lagi di sudut tasnya atau malah melihat wajah kesalnya saat menarikku keluar dari sana.

Terima kasih ya.

2 comments:

  1. Cieee.... terinspirasi dari Mas Andry nih yeee....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahahaha.... Kagalah. Kenapa jadi Mas Andry? lol

      Delete