Tuesday, April 8, 2014

Jadi Penerjemah Novel Jepang Itu.....

Susah? Gampang? Kalo ditanya gampang atau susah sih jawabannya nggak diragukan: susah! Tapi bukan berarti nggak asyik.

Ru udah tertarik nerjemah novel Jepang sejak mata kuliah honyaku (terjemah tertulis) Jepang-Indonesia di kampus. Waktu itu pernah disuruh terjemah beberapa halaman cerita Jepang (kayaknya cerpen, atau novel? Entahlah, wong cuma dikasih fotokopian beberapa lembar doang). Judulnya "Mama Sibuk". Hahaha.... Inget kan tuh saya. Pokoknya pas terjemah itu jadi mulai sadar kalo gaya tulisan cerpen/novel Jepang beda sama Indonesia.

Mata kuliah metodologi penelitian mempersiapkan skripsi. Waktu itu, Ru mau ambil tema penerjemahan novel Jepang ke Indonesia. Kan kayaknya asyik banget tuh kalo bisa neliti tentang gimana cara penerjemah nerjemahin novel Jepang yang gaya bahasanya beda banget itu. Sekalian cari kenalan penerjemah gituuu.


Tapi, waktu itu dosen Ru bilang kayaknya sulit. Ru juga disuruh mikirin nanti apa aja yang mesti diteliti. Ditambah lagi, pas Ru ngecek novel-novel Jepang yang diterbitin di Indonesia, ternyata sebagian besar diterjemahin dari Inggris, bukan dari Jepangnya langsung. Buku yang diterjemahin dari bahasa Jepang langsung juga--menurut Ru--masih aneh terjemahannya. Kurang enak gitu bacanya. Gagal sudah meneliti tentang itu.

Ngomong-ngomong tentang terjemahan yang agak aneh, sebetulnya nggak heran.

Seperti yang Ru bilang tadi, gaya tulisan Jepang-Indonesia beda. Lepas dari gaya tulisan per penulis yang juga beda, standar penulisan di Jepang emang beda sama Indonesia. Ada kalimat yang isinya satu frase doang. Misalnya "Anak laki-laki yang naik kereta." yang aneh banget kalo diterjemahin gitu aja ke bahasa Indonesia. Ada juga yang kalimatnya panjaaaang bener. Misalnya "Tadi di perjalanan menuju stasiun, ia menatap barisan lampu jalanan sambil berdebar-debar membayangkan lampu itu menyala di malam hari.". Well, contoh kalimat yang tadi masih mending sih. Tapi Ru perhatiin, bahasa Jepang banyak banget pake frase, bikin penerjemah terpaksa sering-sering pake kata 'yang'. orz



Sebetulnya sekarang ini Ru lagi dalam masa-masa sering desperate pas lagi translate. Saat-saat yang bikin desperate itu:

1. Saat menemukan rentetan kalimat yang sebagian besar katanya nggak dimengerti. 
Itu rasanya pengin nangis. Yang akan dilakukan selanjutnya adalah buka kamus sambil nahan nangis sambil mikir, "bodoh banget ya bahasa Jepang saya?"

2. Saat menemukan kalimat yang tiap katanya bisa dimengerti, tapi keseluruhan kalimatnya nggak bisa dimengerti.
Saat-saat seperti ini, yang pertama kali dilakukan adalah cengo. Lalu nanya temen-temen yang belajar bahasa Jepang. Kalo mereka nggak ngerti juga, nanya ke native, minta diterjemahkan ke bahasa yang lebih 'normal'.

3. Saat googling arti suatu kata yang nggak ada di kamus, lalu menemukan kata lain yang tidak dimengerti.
Sering kali ada kata-kata populer yang nggak ada di kamus. Biasanya, Ru bakal nyari artinya di google, pengertiannya dalam bahasa Jepang juga (karena kemungkinan nemu pengertian dalam bahasa Inggris--apalagi bahasa Indonesia--sangat kecil). Lalu bakal kepengin jedukin kepala ke meja kalo di definisi itu ada kata lain yang kita nggak ngerti, dan harus googling lagi. *susut airmata*

4. Saat menemukan istilah-istilah khusus. Lalu DISINGKAT.
Nemu istilah khusus itu pasti sih ya. Udah jadi derita para penerjemah lah. Tergantung tema bukunya, bisa aja tetiba dapet istilah kedokteran, istilah hukum, dll. Yang ngebingungin adalah, saat ada penjelasan tentang sesuatu, abis itu dikasih singkatan. Misal kalimat: "shouhin kanribu (bagian manajemen produksi)" atau yang biasa disingkat "shoukan". Nah, di Indonesia singkatannya apa? (.___.)

5. Saat menemukan kata-kata ajaib, kita mencarinya di google, tahu benda yang dimaksud, tapi nggak bisa menemukan namanya di dalam bahasa Indonesia.
JEDEEER! Ini adalah saat yang paling menyebalkan. Rasanya tuh pengin ngomel-ngomel. "Aku tau benda itu! Aku sering liat! Tapi aku nggak pernah tau itu sebutannya apa di dalam bahasa Indonesia! Dalam bahasa Inggris pun nggak tau!". Lalu frustasi.
Contohnya gambar di bawah ini. Dua jenis botol. Tipe"nadegata" dan "ikarigata".
Jadi, bagaimana seharusnya saya menjelaskan tipe botol ini? "Kata" (atau gata) berarti bahu. Sebetulnya arti dari nadegata adalah bahu miring/turun. Dan ikarigata adalah bahu tegap. Kalau saya mengartikannya sebagai "botol berbahu miring/tegap", apa orang Indonesia bakal ngerti?



Begitulah... Dan di novel yang sekarang saya kerjakan, saya banyak menemukan saat-saat yang sudah disebutkan di atas. Tapi asyiknya nerjemah novel itu, selain belajar bahasa Jepang, seringkali kita juga nambah kosakata bahasa Indonesia lho. Kayak yang Ru bilang tadi, banyak kata-kata ajaib, dan kita harus cari padanannya sendiri. Juga jadi (cari) tau nama benda-benda yang mungkin sampai sebelumnya sering kita liat tapi nggak pernah kita tau namanya.

Yang masih agak Ru sayangin sih, Ru pribadi masih terseok-seok nerjemah. Jadiii, agak merasa bersalah karena nggak sempet mencari dan memasukkan gaya bicara unik tiap karakter. Tau lah ya, di Jepang kan ada cewek-cewek yang sering ngomong pake 'wa' (terkesan anggun, atau kadang angkuh) dan semacam itu. Sebetulnya pengin banget bisa nerjemah sambil memberi keunikan juga buat karakter-karakter yang unik itu. Tapi kalo inget deadline dan betapa pusingnya dalam translate, mana sempeeeet. Makanya, mungkin ada bagian-bagian yang bikin orang ngerasa, "ini karakter kok kesannya sama semua ya? (cara ngomongnya)". Kemaren si Nana sempet ngomong semacam itu pas baca salah satu novel, dan langsung Ru samber sekalian curhat. Hahaha... Yah, emang gitu sih. Bukannya Ru nggak sadar dan nggak menyayangkan hilangnya keunikan gaya bicara para karakternya, tapi ya, yang tadi itu......



Udah ah. Bel pulang kantor sudah berbunyi. Hahaha... Mari pulang~

5 comments:

  1. Biar susah, dinikmati ajalah, hahahaha :D
    Lama-lama nanti juga terbiasa sama bahasa novel.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selese novel pertama, Ru pikir novel kedua bakal lebih gampang. Tapi demi apa yang ini lebih susah cobaaa

      Delete
  2. Kesimpulan: setiap bahasa punya gaya menulis yang berbeda.

    Haha, semnagat ya, Ruru! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo Inggris nggak beda2 amat kan Dah? Jepang itu bedanya banget. Jadi suka aneh gitu diterjemah.

      Siiip!

      Delete
    2. Iya ga beda-beda amat sih, tapi tetep aja kalo dilihat sebenarnya novel terjemahan itu ada aja susunan bahasa yang jadi ga baku. Bahasa Indonesia kan bakunya SPOK atau KSOP. :|
      Eh tapi kalo buat tulisan fiksi emang ga sekaku tulisan non-fiksi sih. ._.

      Dan lagi kalo bahasa luar diterjemahin ke bahasa Indonesia tetep aja ribet. Kalo di luar kan orang ketiga aja dibedaan, misal ada "he" sama "she". Kalo bahasa Indonesia mah adanya "dia" doang. Kadang hal-hal kayak gini yang bikin bahasa terjemahan juga rasanya ga enak(?). IMO sih.

      Delete