Wednesday, March 26, 2014

[Review: Novel] Versus


Judul: Versus
Penulis: Robin Wijaya
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 9789797806705

Sinopsis
AMRI
“Perselisihan ini tidak akan pernah selesai. Dan aku tahu,
kami akan selalu hidup dalam bayang-bayang pertikaian.
Seperti cerita turun-temurun yang diwariskan
dari generasi-generasi sebelum kami.”

CHANDRA
“Menjadi dewasa mengajarkan gue kalau hidup itu nggak pernah
jadi lebih mudah. Lo harus siap menghadapi segala hal
yang sama sekali nggak menyenangkan.”

BIMA
“Saya berkutat dalam masalah mereka yang membenci perbedaan.
Saya tidak sedang berusaha mencari kesamaan atau membuat
persamaan agar kita bisa saling menerima.
Saya berusaha hidup di antara itu semua.
Hidup di antara perbedaan.”

VERSUS adalah kisah persahabatan tiga orang lelaki.
Tiga orang muda yang punya sudut pandang dan prinsip masing-masing.
Mereka berbicara tentang semangat anak muda, Indonesia,
juga tentang cinta dari sudut pandang masing-masing.
Terlepas kamu siapa..., Dengarkanlah baik-baik
karena mereka akan mulai bercerita.
Tentang perbedaan, kebersamaan, dan pemikiran yang satu.

===



Akhirnya menyempatkan menulis review novel yang satu ini.

Novel ini dibuka dengan adegan pemakaman Bima. Adegan pembuka yang 'wah', membuat bertanya-tanya ada apa. Lalu dilanjutkan dengan keresahan Amri dan Chanda menghadapi kematian Bima ini. Kemudian dimulailah flashback dari sudut pandang Amri, bercerita tentang masa lalu mereka hingga selesai satu fragmen. Dilanjutkan dengan fragmen kedua, yang melanjutkan flashback Amri, tapi kini dari sudut pandang Chandra. Terakhir fragmen ketiga yang--sama seperti sebelumnya--melanjutkan flashback kedua temannya. Tapi kini dengan alur utama agak mundur dari awal cerita, karena yang bercerita adalah Bima, orang yang sudah meningal di pembukaan cerita.

Saya sudah tertarik ingin membaca novel ini sejak Koh Robin menuliskan sinopsisnya di blog beliau.

Awal baca, adegan pembukanya menarik sekali buat saya. Rasanya ingin cepat-cepat membaca kisah masa lalu mereka, mencari tahu apa yang terjadi. Kisah yang dituturkan Amri juga. Feel-nya seperti saat saya menonton film Mengejar Matahari atau Serigala Terakhir.

Tapi ternyata ketertarikan saya terhadap novel ini nggak bertahan lama. Beberapa lama di fragmen Chandra, saya mulai bosan....

Sebetulnya cerita yang dituturkan Chandra--juga Bima nantinya--nggak termasuk cerita yang datar juga. Sayangnya, di dalamnya nggak ada yang menggelitik rasa penasaran saya lagi.

Awal saya baca novel ini dengan ekspektasi akan mendapatkan jawaban dari adegan pembuka yang menurut saya 'wah' itu, tapi Chandra nggak memberi clue apapun bagi saya. Walau memang nantinya kisah yang dituturkan Chandra juga berkaitan dengan kejadian-kejadian setelahnya, tapi saya keburu bosan. Sayang sekali, sebetulnya. Sempat agak bimbang apa saya akan melanjutkan baca, atau melepaskannya saja. Dan akhirnya saya putuskan untuk lanjut baca, walau dengan melompat-lompat, asal saya tahu jalan ceritanya (sepertinya mulai bagian akhir Chandra sampai hampir terakhir fragmen Bima).

Lalu, saya menemukan kejutan yang 'wah' lagi di ending! Nah lho!

Ending-nya sangat memuaskan saya. Saya langsung berpikir, "untung saya bela-belain baca sampai habis". Tapi rasanya jadi sayang.... Gimana kalau ada yang keburu bosen dan akhirnya nggak baca adegan akhir itu?

Mungkin ini ciri khas Koh Robin, tapi novel ini pace-nya terlalu lambat buat saya. Mungkin juga ini salah saya, karena saya lebih sering membaca novel-novel penuh intrik dan kejutan, jadi saat baca adegan awal novel ini langsung berekspektasi macam-macam.

Ditambah lagi, karena novel ini (flashback-nya) mengambil setting 1998 dan Chandra yang keturunan Tionghoa, saya berpikir akan ada ulasan (walau sedikit) tentang peristiwa Mei 1998. Dan ternyata harus kecewa karena, walau ada adegan pembakaran toko, saya lihat itu lebih ke masalah pribadi (atau lebih tepatnya kelompok?), yang nggak ada hubungannya dengan kerusuhan Mei 1998.

Tentang kelebihan buku, selain opening dan ending yang keren, saya suka penggambaran ketiga karakternya. Oh ya, saya agak bingung sih karena Chandra yang notabene nggak bisa berantem itu ternyata paling ceplas-ceplos. Kebayang aja betapa dia akan sering kena tonjok gara-gara sikap ceplas-ceplosnya itu. Tapi overall sifat ketiganya bisa tergambarkan dengan baik. Meski agak aneh karena Bima yang keras itu narasinya pake 'saya', tapi sikap kerasnya masih keliatan sih. Jadi nggak begitu masalah buat saya.

Untuk yang suka cerita mellow dengan pace lambat, dan untaian kata yang indah, mungkin akan suka novel ini. Yang tertarik baca novel ini, pokoknya jangan terlalu berekspektasi cerita yang kompleks ya (seperti saya :p).

4 comments:

  1. Sorry nee, baru komen sekarang.

    Kemaren abis matiin kompi, langsung baca blogmu di hape, tapi karena hape bapuk atau saya pake aplikasi bapuk maka saya menerah untuk melakukan komen kemarin. *intro yang nggak guna*
    waakakak

    Sial, karena kau telah beli buku inceran eke. Menurut komen-komen yang ditujukan oleh para review atau orang-orang untuk buku itu, banyak yang bilang itu karya terbagusnya Ka Robi, sehingga saya tergoda untuk memilikinya.

    Namun, kalau menurutmu ternyata bukunya jauh dari ekspetasi dan padahal eke pikir sinopsinya itu memiliki keribetan dalam hubungan tiap-tiap karakter, tapi pas baca reviewmu dan kau kecewa, saya jadi malas.

    Pasalnya, beberapa kali saya baca cerita seperti itu, bertanya-tanya kenapa sekarang banyak banget buku yang kaya gitu, nggak ada cerita yang spesial, alurnya lambat dan nggak mengejutkan. Meskipun kau bilang buku Ka Robin ini ada kejutan dan di awal dan di akhir, tapi yes, sayang banget kalo orang nggak tau cerita belakang ada kejutan dan berenti di cerita tengah yang ngebosenin....

    Beberapa buku yang eke baca, mengecewakan dan membuat eke males meneruskan...
    Rasanya.... Hahh....

    Malah jadi mikir mending cerita yang biasa aja, dari pada cerita yang melelahkan....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Justru ini cerita nggak melelahkan kan karena konfliknya ga jadi rumit. :p

      Kalo tentang 'karya terbagus', no comment. Tiap orang kan beda selera. Kalo disuruh bandingin ini sama Roma, hm.... Ru bingung. Dua-duanya sama-sama punya pace lambat (yang artinya bukan tipe tulisan favorit Ru), tapi udah jelas genrenya beda, jadi susah buat dikomparasiin. Betul kalo dibilang yang ini manly, cuma sayangnya nggak sampe ala komik shonen. Ah, saya bingung menjelaskannya. Hahaha...

      Delete
    2. Melelahkan bukan dalam arti sesungguhnya lho, Ru...
      Melelahkan itu ada yang diciptakan dari konflik rumit, tapi karena kesel, pengen tau akhirnya gimana bacanya jadi lanjut...
      Melelahkan yang eke maksud itu, ketika kita baca, kita tepok jidat, kok begini banget ceritanya... maksudnya apa... karakternya gini banget, protagonis tapi menyebelin banget... sampai pada akhirnya berkesimpulan, ini penulis idealisme dan pandangannya sama eke beda deh. Lalu haaah... *kemudian tutup buku* wakkakaka

      Yee, komik ya komik, novel ya novel... -_-

      Delete
    3. Hahahaha.... Iya, ada juga yang begitu ya.
      Tapi ini nggak sih. Nggak ada yang bikin kau ngernyit karena ceritanya aneh, karakternya aneh, atau semacamnya. Cuma pace yang terlalu lambat aja yang kurang sesuai sama Ru.

      Delete