Wednesday, June 12, 2013

Like a Love Song

Prompt hari Jumat (dua minggu lalu): Sesak
Kalimat pertama: I love you like a love song

---------------------

I love you like a love song. Tidak selalu manis dan menyenangkan, tapi bagiku tetap terdengar indah.

***

"Katanya kamu sama Shou-kun mau pindah ke Indonesia?"

Aku mengangkat wajahku, menatap si penanya. Wajah cewek itu kelihatan cemas.

"Yep. Gue udah pernah bilang kan tahun lalu? Kenaikan kelas 3 nanti, gue dan Shou bakal pindah ke Indonesia."

Cewek itu kini duduk di kursi yang ada di depanku.

"Nggak inget," katanya sambil cemberut.

"Kenapa? Kesepian ya nggak ada kita?" Aku menyeringai menggodanya, tapi ia malah mendelik.

"Hh...." Ia menarik napas panjang. "Tinggal sekitar dua minggu, dong?" Pandangannya menerawang.

***


Namanya Tsuda Akiko, tetanggaku (dan Shou). Kami sudah kenal sejak SD dan kini aku satu sekolah lagi dengannya, walaupun beda kelas. Sementara itu, Shou, yang kebetulan lebih pintar dari kami, masuk ke SMP yang mutunya lebih bagus.

Sejak dulu, aku sudah tertarik pada Aki-chan. Anaknya agak tomboy, ceria, dan juga penuh perhatian. Makanya aku senang-senang saja saat tidak berhasil masuk ke SMP yang sama dengan Shou dan malah satu SMP dengan Aki-chan, meskipun Aki kelihatannya kecewa karena kami tidak bisa bertiga lagi.

Tinggal dua minggu sampai kepindahanku dan Shou ke Indonesia, negara ibu kami. Apa aku harus mengungkapkan perasaanku pada Aki-chan ya? Tapi, kalaupun diterima, pacaran jarak jauh kan repot....

***

Seminggu sebelum kepindahan kami, Aki-chan jadi sering main ke rumah. Katanya, sebetulnya sih ia ingin mengajak kami jalan bertiga. Tapi pulang sekolah kan sudah sore, mau pergi ke mana? Akhirnya hari Sabtu dan Minggu terakhir kami di Jepang kami habiskan bersama Aki-chan. Ia yang memaksa. Aku sendiri tidak keberatan. Shou juga sepertinya tidak.

Kami menonton film di bioskop, berjalan-jalan keliling Akihabara, sampai-sampai menengok taman di dekat rumah yang menjadi tempat main kami sewaktu masih kecil.

Hari Sabtu dan Minggu terakhir, ya? Rasanya jadi agak menyedihkan.

***

Hari terakhir di sekolah. Menyedihkan, kalau ingat bahwa tahun ajaran baru nanti aku sudah tidak bersama teman-temanku lagi. Tapi karena mereka super bodoh, sampai akhir pun mereka sukses membuatku sakit perut karena terlalu banyak tertawa.

"Kyou-kun..."

Gerakanku terhenti saat sebuah kepala menyembul di pintu kelasku. Aki-chan.

"Pulang bareng yuk?" katanya.

"Yuk! Bentar gue beres-beres dulu." Aku mengangguk dengan antusias. Hari terakhir pulang bareng Aki-chan. Lumayan.

***

"Indonesia tuh kayak gimana, sih?" tanya Aki-chan.

Aku berpikir sejenak. "Kalo Jakarta, kurang tau. Katanya sih, Jakarta biangnya macet," kataku.

"Bukannya tiap tahun kalian ke sana?" tanyanya lagi.

"Biasanya sih ke Yogya, tempat Nenek. Gimana sih? Kan kita sering bilang." Aku nyengir ke arahnya.

"Mana gue tau. Namanya susah disebut." Ia cemberut, membuat cengiranku makin lebar. Letak kota-kota di Jepang saja cewek ini tidak terlalu hapal, wajar kalau ia juga tidak peduli dengan kota-kota di negara lain.

"Um ... Kyou-kun..." Tiba-tiba saja ia berhenti berjalan. Aku segera menghentikan langkah dan menatapnya heran.

"Ano ne...." Ia kelihatan gelisah. Wajahnya juga agak memerah. Ada apa?

"Ini!" Tiba-tiba saja ia memberikan sebuah amplop kepadaku.

Aku melongo parah. Jantungku berdebar-debar. Mungkinkan...?

"Bisa titip untuk Shou-kun?"

HAH? Jatungku yang awalnya berdebar-debar seolah berhenti tiba-tiba saat mendengar kalimatnya tadi. Aku ... tidak salah dengar, kan?

***

Rupanya Aki-chan sudah menyukai Shou sejak dulu. Masuk akal kenapa ia sangat kecewa saat tidak berhasil satu sekolah dengan Shou.

Sialan. Shou itu sudah sempurna. Pintar, jago olahraga, populer. Kenapa Aki-chan juga harus naksir padanya? Yah, sebetulnya itu pertanyaan yang tidak perlu. Alasannya sudah jelas. Semua orang suka yang sempurna.

Sial. Sial. Sial.

Padahal aku sendiri sudah memutuskan untuk tidak mengungkapkan perasaanku padanya. Padahal aku sendiri yang mengatakan bahwa pacaran jarak jauh merepotkan. Padahal tadinya aku pikir tidak masalah mengubur perasaan ini karena aku mungkin tidak akan bertemu dengannya lagi.

Tapi kenapa rasanya sesak?

Hari terakhir aku melihat Aki-chan, dan aku patah hati.

***

"Ini. Titipan dari Aki-chan." Aku menyerahkan surat dari Aki-chan saat kami sudah di bandara. Shou menatapku beberapa saat. Dari wajahnya, aku tahu sejak tadi ia bertanya-tanya mengenai mataku yang agak bengkak. Tapi kembaranku yang cool itu tidak bertanya apa-apa. Mungkin ia berpikir aku menangis semalaman karena tidak rela meninggalkan Jepang? Biar saja.

Shou menerima surat itu dan bertanya, "Dia nggak nganter?"

"Ada acara keluarga di Nara katanya. Nggak bisa nggak dateng," jelasku. Dan aku benar-benar bersyukur Aki-chan tidak datang. Entah bagaimana aku harus berhadapan dengannya setelah kejadian kemarin. Kemarin, setelah memberikan surat itu padaku, ia cepat-cepat meninggalkanku dan berkata harus menyiapkan barang-barang ke Nara.

Shou hanya bergumam "oh", lalu memasukkan surat itu ke kantongnya sebelum mengikuti Otoosan dan Okaasan untuk boarding.

***

Seperti yang sudah kuduga, aku dapat tempat duduk di sebelah Shou. Sial. Padahal aku sedang benar-benar malas duduk di sebelahnya (biasanya juga malas, sih). Untungnya ia terlalu cool untuk berebut tempat duduk di sisi jendela denganku, jadi aku cukup senang mendapat spot yang bagus itu.

Lampu seat belt sudah dimatikan, semua orang sudah mencari kesibukan masing-masing. Aku sedang mendengarkan lagu yang sengaja kubiarkan diputar secara acak dari mp3-ku saat melihat Shou mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Surat Aki-chan!

Aku pura-pura sibuk memperhatikan layar, padahal aku mencuri-curi pandang ke arah Shou yang sedang merobek amplop surat Aki-chan. Aku mau tahu isinya. Tapi juga tidak ingin tahu.

Jantungku memompa darah terlalu cepat, membuatku merasa sesak.

Lihat? Tidak? Lihat? Tidak? Lihat? Tidak?

Kuputuskan untuk mengintip sedikit, yang segera kusesali kemudian.

I love you like a love song. Tidak selalu manis dan menyenangkan, 
tapi bagiku tetap terdengar indah.

Kata-kata simpel yang sempat kubaca itu membuatku merasa semakin sesak, karena aku tahu kata-kata itu bukan ditujukan padaku.

Aku membuang muka, menatap ke arah gumpalan awan di luar jendela. Dan saat itu, lagu di mp3-ku berganti.

It's been said and done 
Every beautiful thought's been already sung 
And I guess right now here's another one 
So your melody will play on and on, with best of 'em 

Sial! Kenapa harus lagu ini? Tuhan pasti sedang ingin bercanda denganku.

Kupejamkan mata. Kubiarkan saja lagu menyebalkan itu tetap mengalun. Saat lagu itu mencapai reff, aku ikut bernyanyi, berteriak dalam hati meski tidak ada yang dapat mendengar.

I, I love you like a love song, baby
I, I love you like a love song, baby
I, I love you like a love song, baby

Sesak.

"Lagunya bagus, ya?"

Aku teringat Aki-chan pernah berkomentar seperti itu saat aku memilih lagu itu untuk kuterjemahkan di pelajaran bahasa Inggris belum lama ini.

Sial! Kenapa aku harus mengingat itu?

Kuarahkan wajahku ke jendela supaya Shou tidak bisa melihat. Kubiarkan mataku tetap terpejam semetara lagu itu tetap mengalun memenuhi telingaku, memenuhi otakku, membuatku sesak.

Tanpa dapat kucegah, mulutku ikut bersenandung, menemani Selena Gomez menyanyikan bait terakhir lagu itu.

"I love you...like a love song..."

------------
.
.
.
.
Akhirnya beres jugaaaa.... Ini tulisan sependek ini bikinnya 4 hari gara-gara kepotong-potong mulu. orz
Lagi agak ribet di kantor akhir-akhir ini. (bukan sok bikin excuse, tapi kalo nggak ngerjain di rumah karena cape sih emang excuse *kemudian ditabok*)

Dan sepertinya flashfic tentang bocah-bocah dari calon novel Ru ini sampe sini dulu. Selanjutnya giliran bocah-bocah yang lain, dari bakal calon novel Ru. (Udah bakal kok pake calon? Iya, soalnya yang satu ini belum Ru tulis sama sekali *dihajar*)

Ya ampun... Saya dan Zu betul-betul menumpuk tema. Osh. Ganbarimasu!

3 comments:

  1. Uwaaaawww~ Kyouuuuuuu, sini ama kaka aja :3
    Gimana yaaa, ama si Kyou manis, sama si Shou dingin-dingin-menggigit... *apaseh*

    Secara cerita, saya suka banget neee! Simple dan manis, penggambaran ceritanya remaja banget, kaya baca potongan tenlit.

    Apa? EYD? Talk to my hand *digampar*
    Gak ada.... gak ada keaslahan eyd yang saya dapettt!
    Mungkin karena saya menikmati ff-nya... *alasan*

    Terakhir, semoga calon novelmu segera jadi ya! Aamiin

    Ciao~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benarkah? Wakakakak... Padahal Ru kurang puas, sama 'like a love song' nya (lagian kau pillih prompt aneh-aneh aja sih =___=)

      Ini kisah masa lalunya Kyou kok. Kan sekarang udah naksir yang lain XDD

      Delete
    2. Yang eke suka Kyou dengan emosinya (saat lagi konflik di dalam dirinya), tapi Shou yang kemunculannya hanya beberapa scene itu juga bikin greget.

      Kalau ceritanya karena promptnya aneh, udah bisa normal kaya gini udah keren, menurut saya. Tapi yappari 'olahan' cerita biasamu selalu bikin saya, ih... sial, bisa juga dibikin kaya gini.

      Kyou naksir sama aku? *mainin jari* Jadi enak... hihihi

      Delete