Monday, June 3, 2013

Kecelakaan

Maaaaaaaf..... Ada berbagai hal yang sebagian besar emang excuse belaka jadi baru bisa posting. Saya keasyikan juga nulis ini kayaknya. Berapa hari gitu nggak beres-beres. Wahahahaha....

Prompt hari Selasa yang baru diposting hari ini: Kecelakaan
Kalimat pertama: Akhirnya aku menemukannya.

---------------

Akhirnya aku menemukannya. Benar seperti kata orang di telepon tadi, laki-laki brengsek itu ada di sini. Ia baru saja keluar dari dalam sebuah love hotel dengan sekretarisnya yang berdandan menor itu.

Benar-benar brengsek!

Amira sempat mencoba menahanku, tapi tentu saja ia gagal. Aku segera menghampiri mereka dengan rasa marah yang bergumul di dada.

Kulayangkan tinju ke laki-laki yang dulu sangat kuhormati itu

BUK!


Wanita centil yang menemani laki-laki itu memekik pelan, kaget dengan kelakuanku. Laki-laki itu pun sama terkejutnya. Terlihat jelas raut wajah ketakutannya saat melihatku.

"Gi ... lang?" Laki-laki itu menyebut namaku.

"Lo..." Aku menunjuk-nunjuk ke arahnya dengan kalap. "Beraninya..."

"Gilang. Papa.... Ini cuma ... kecelakaan."

Aku semakin berang mendengar kata-katanya.

"Kecelakaan?! Ngajak cewek ke hotel tuh kecelakaan?!" semburku.

"Bukan... Gilang.... Dengerin papa dulu...."

"Jangan sebut kata papa di depan gue! Gue nggak butuh papa kayak lo!" Aku berseru padanya. Amarah sepertinya sudah benar-benar menguasaiku. Aku sendiri kaget bisa mengeluarkan kata-kata kurangajar seperti itu. Tapi dia yang membuatku begitu! Dia yang tidak pantas disebut sebagai orangtua!

"Lang, udah, Lang!" Amira mengelus-elus lenganku, mencoba membuatku tenang. Ia juga kelihatan sangat ketakutan. Aku yakin mereka ketakutan. Aku yang biasanya dikenal cool bisa meradang seperti ini.

Susah payah, aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.

Aku menatap laki-laki itu tajam. "Nggak usah pulang," kataku datar dan menusuk. Kemudian aku menarik Amira pulang, meninggalkan sepasang manusia menjijikan itu.

***

"Gilang, dari mana, Sayang? Katanya tadi cuma mau nonton, kok udah lewat jam 8 baru pulang?" Suara Mama menyambutku saat aku memasuki rumah.

Sial. Aku benar-benar tidak ingin berhadapan dengan beliau sekarang. Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada orang yang paling kusayangi itu.

"Habis ke toko buku, Tante. Tadi aku minta anterin Gilang ke toko buku." Amira cepat-cepat menjawab.

Untung juga ia mampir dulu ke rumahku sebelum pulang ke rumahnya yang berjarak beberapa rumah dari sini. Sebetulnya ia yang bersikeras menemaniku sampai rumah. Ingin memastikan aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh, katanya. Ia memang sahabat yang paling mengerti aku. Ah, salah. Ia bukan lagi 'sahabat'ku. Sejak bulan lalu statusnya berubah menjadi 'pacar'ku.

"Oh... Ya, tante sih nggak masalah kalau kalian mau ke mana-mana. Tapi kabarin tante, dong," kata Mama.

"Iya, Tante. Maaf, tadi lupa. Hehehehe...."

"Kalau gitu makan dulu yuk. Amira juga ikut makan ya?"

"Gilang nggak laper, Ma." Aku berkata dengan berat hati. Sebenarnya aku tidak tega membiarkan Mama makan sendiri, tapi aku benar-benar tidak ingin melihat wajah Mama sekarang.

Mama terlihat heran dan kecewa mendengar ucapanku, tapi syukurlah lagi-lagi Amira cepat menanggapi.

"Maaf, Tante... Tadi kita udah sempet makan di luar. Tapi Ami masih laper kok, Tan. Lagian Ami kan paling suka masakan Tante. Ami ikut makan di sini boleh ya?"

Mama tersenyum senang dan mengangguk, "Tentu boleh dong. Yuk!" Beliau menggiring Amira ke ruang makan. Aku menghembuskan napas lega, sempat menatap Amira dengan tatapan penuh terima kasih.

"Ma..." Aku memanggil Mama dan memberikan sebuah ponsel pada beliau. "Handphone Mama ketinggalan di mobil," kataku.

"Ya ampun! Mama kira hilang!" Mama menerima ponselnya dengan wajah sumringah.

Sebuah kebetulan bahwa Mama meninggalkan ponselnya di mobil dan aku meminjam mobil mama hari ini. Sebuah kebetulan yang sangat aku syukuri, karena kebetulan itu membuat aku yang mengangkat telepon dari orang yang tidak mau menyebutkan namanya tadi, bukan Mama.

"Oh iya, Sayang," Suara Mama menghentikan langkahku ke kamar. "Tadi dua kali Papa telepon nanya kamu udah pulang apa belum. Kayaknya papamu khawatir gitu sama anak kesayangannya." Mama tertawa kecil. "Nanti kamu hubungi Papa tuh, kasih kabar kalau kamu udah sampai rumah. Biar papamu nggak khawatir lagi," pesan Mama sebelum aku masuk ke kamar. Aku hanya mengangguk sepintas.

***

Saat aku mengecek ponselku, sudah ada 8 miscall dari nomor papa.

'Papa', eh? Apa aku masih harus memanggilnya papa?

Sebuah telepon masuk. Aku segera menekan tombol reject. Tak lama setelah itu ada dua telepon lagi dari nomor yang berbeda. Aku tidak kenal nomornya, tapi aku yakin telepon-telepon itu dari orang yang sama. Keduanya ku-reject, lalu aku menekan tombol switch off sebelum memejamkan mata.

Masa bodo dengan laki-laki sialan itu.

***

"Gilang! Amira mau pulang nih, Sayang." Kudengar suara Mama memanggilku. Rupanya tadi aku sempat betul-betul ketiduran selama beberapa menit. Aku ingin mengantar Amira pulang, mengingat hari sudah cukup malam. Tapi toh rumahnya hanya berjarak beberapa rumah saja. Kuputuskan untuk tidak menjawab.

"Mungkin Gilang udah tidur, Tante. Nggak apa-apa. Ami pulang sendiri aja. Kan deket. Hehehe...." Kali ini aku mendengar suara Amira. Setelah itu suara mereka terdengar semakin jauh dan tidak dapat kudengar lagi.

Aku segera meraih ponselku dan menyalakannya lagi. Baru beberapa saat, ada lima pesan masuk ke inbox-ku. Pemberitahuan panggilan yang tidak terjawab dan sebuah SMS dari laki-laki itu. Aku mengabaikannya dan mengetik pesan untuk Amira.


Thx berat ya. Sori gue ga nganter pulang.

Selesai mengirim pesan itu, kuletakkan lagi ponselku dan kembali memejamkan mata. Sampai aku mendengar notifikasi pesan masuk.

Amira.

Santai aja kali. Kayak rumahku jauh aja. :p
Btw, jgn marah2 mulu. Dinginin kepala, nanti ajak ngomong Om baik2.
Aku ga bilang apa2 ke Tante. Kamu jg mending ngomong baik2 dl ama Om.

Aku terdiam membaca SMS itu. Mengajak laki-laki itu bicara baik-baik? Apa yang perlu dibicarakan? Semuanya sudah jelas. Iya kan?

Aku teringat masih ada SMS dari laki-laki itu yang belum kubaca. Dengan enggan, dan sedikit rasa berdebar karena penasaran dan sisa emosi yang ada, aku membukanya.

Gilang, papa mnt maaf. Tp papa mau blg kalo td itu papa betul2 khilaf. Papa ga tau apa yg mrassuki papap tad. Kalo ini menbuatmu lega, papa bru skali ini malakukannya. Papa betul2 khilaf.
Papa akan pulang secepatnya stlh mengantar Stevi. Biar gmnpun papa ga bs ninggalin dia malam2 sendirian di sana. Papa hrp kt bs bicara ddgn kepala dgin. (blh papa berharpa kamu blm cerita pada mamamu?)

SMS panjang dengan beberapa typo itu menunjukkan kalau laki-laki itu sedang panik. Biasanya ia tidak pernah menulis SMS sepanjang itu, dan hanya menyingkat beberapa kata saja.

Segera pulang, eh? Dia bahkan masih sempat mengantar wanita centil itu dulu. Cih. Dan harapannya itu ... memangnya ia pikir aku tega memberitahukan mama?

"Sialan...." Aku bergumam sebelum memejamkan mata lagi, mencoba tidur.

***

TOK! TOK! TOK!

Sebuah ketukan di pintu membuatku terbangun.

"GILANG! BANGUN GILANG! Huhuhu..."

 Hah? Siapa yang menangis? 

TOK! TOK!

"GILAAANG! Huhuhuhu..."

Mama!

Saat menyadari bahwa suara tangis yang terdengar itu adalah suara mama, aku cepat-cepat bangun dan membuka pintu. Sempat kulirik jam digital di dinding yang menunjukkan pukul 10.19. Ada apa?

Wajah Mama yang bersimbah air mata yang menyambutku saat aku membuka pintu. Otakku langsung menghubungkan semuanya dengan laki-laki brengsek itu. Jangan-jangan ia sudah mengaku pada Mama?

"Kenapa, Ma? Dia, ya? Ngapain dia? Dia bilang apa?" semburku langsung. Amarahku yang sempat mereda setelah tidur kembali menyeruak saat melihat mata sembab Mama.

Mama sempat menatapku dengan wajah heran sebelum berkata sambil menahan tangis. "Papamu, Lang... Papamu.... Huhuhu...."

Segera kurengkuh tubuh wanita yang paling kusayangi itu. "Kenapa, Ma? Mama jangan nangis. Dia emang..."

Aku sedang memilih kata yang tepat saat tiba-tiba Mama memotong, "Papamu kecelakaan."

HAH?!

"A-apa, Ma?"

Kecelakaan yang mana? Maksudku, tadi ia juga bilang kecelakaan, kan? Soal membawa wanita centil itu ke love hotel.

"Papamu kecelakaan, Gilang.... Tadi mama dapat telepon dari RS. Katanya.... Katanya..... Papa meninggal di tempat."

Jantungku seakan berhenti saat mendengar kata-kata Mama. Benarkah? Papa....

***

Mama menaburkan bunga di makam lelaki itu. Matanya sembab, tapi syukurlah tangisnya sudah berhenti. Sejak tadi Amira tidak pernah jauh dari sisi beliau. Aku juga, tapi Amira yang lebih berjasa meredakan tangis Mama.

Dari yang kudengar, setelah mengantar sekretarisnya pulang, laki-laki itu segera menuju rumah. Saksi mata bilang ia ngebut parah, lalu oleng dan menabrak pembatas jalan.

Bodoh.

Benar-benar bodoh.

Katanya ia mau berbicara denganku. Kita kan belum bicara dengan kepala dingin.

Mataku basah saat mengingat kata-kata terakhir yang kuucapkan padanya.

Bukan ini maksudku. Bukan ini.

Kutatap makam di hadapanku.

Aku tidak akan bilang apa-apa pada Mama. Aku janji. Tapi ini bukan demi kamu. Ini demi Mama. Akan kuanggap kemarin hanya kecelakaan saja. Lalu....

"Maafkan Gilang juga, Pa...."

-------------


.
.
.
Erm... Endingnya aneh? Yah, sepertinya begitu. Ah, sudahlah. Lanjut saja.


-Edited: 09/06/13 pukul 21.52

2 comments:

  1. Tadinya mau komenin penulisan smsnya, "meskipun disingkat-singkat jangan typo dong, ntar orang susah nebaknya itu maksudnya apa"

    gak taunya emang sengaja di-typo-in..... *pundung*
    Susah Ru, nyari kesalahan EYD di ceritamu, kaya nyari jarum di tumpukan jerami...
    *aseek

    Tapi ngomong-ngomong, ini drama indonesia banget ya....(berasa udah pernah nonton sinetron yang kaya gini) wakakakakka
    *disembur*

    ReplyDelete
  2. Hahaha... Ya udah ga usah cari yg EYD. Secara cerita aja.


    *sembur*

    Emang sih, standar. Nggak tau kenapa jadi begini ceritanya. Padahal awalnya cuma 'bokapnya Gilang meninggal' aja intinya. haha... #plak

    ReplyDelete