Sunday, June 9, 2013

Cerita

Prompt hari Kamis (dua minggu lalu): Cerita
Kalimat pertama: Bajunya merah seperti apel.

Menyicil flashfic selanjutnya.

---------

Bajunya merah seperti apel. Tubuhnya yang gendut membuatnya lebih mirip apel. Apalagi ditambah pipinya yang chubby dan berwarna kemerahan. Betul-betul mengingatkan pada apel merah segar yang sering dijumpai di toko buah.

"Lagi nulis apa, Cher?"

Cepat-cepat aku menutup buku tulisku.

"Danang! Ngagetin aja!" Aku berseru, sedikit berharap ia melupakan perihal tulisanku. Tapi rupanya harapanku tidak berhasil karena cowok itu bertanya lagi.

"Serius banget sih nulisnya. Nulis apaan? Bikin cerita lagi ya?" tanyanya. Aku hanya bisa mengangguk menjawab pertanyaannya.


Sebagian besar teman sekelasku memang sudah tahu kalau aku suka menulis cerita. Beberapa malah seringkali memintaku menuliskan cerita tentang mereka. Kadang aku hanya tertawa hambar menanggapinya. Memangnya menulis cerita semudah itu? Seringkali aku ingin bilang, "Tulis saja sendiri!".

"Lo sering banget nulis ya? Sekali-sekali bikin cerita tentang gue dong," katanya sambil memamerkan gigi-giginya yang rapi.

"Eh?" Aku membelalakkan mata, kaget. Mungkin reaksiku terlalu berlebihan, tapi aku betul-betul kaget.

"Kenapa? Nggak mau ya?" tanyanya. Aku buru-buru menggeleng.

"Bukannya nggak boleh, tapi gue nggak tau mesti nulis apa," kataku cepat-cepat.

"Hm.... Kalau gitu, gimana kalau nanti gue dongengin lo cerita tentang gue. Nanti lo pilih-pilih aja yang mana yang oke buat dijadiin cerita. Gimana?" katanya lagi.

Kalau orang lain yang mengatakan itu, sudah pasti aku akan mencari alasan lebih lanjut untuk menolak. Tapi yang mengatakan itu adalah Danang, cowok yang diam-diam kutaksir sejak kenaikan kelas kemarin. Mendapat kisah pribadinya dari sumbernya langung? Bagaimana mungkin menolak tawaran yang menggiurkan itu!

"Eh? Ya... Boleh aja sih... Tapi nggak janji beres, ya? Cerita buatan gue banyak yang mandek di tengah jalan, lho." Aku berusaha menjawab setenang mungkin, padahal jantungku sudah berdebar tak karuan.

"Oke, santai aja," Ia nyengir lagi. Dan rasanya aku ingin melompat-lompat di tempat karena terlalu senang. Tentu saja itu tidak kulakukan. Ia bisa mengiraku orang gila atau semacamnya.

"Ups, udah bel masuk. Gue mulai dongengin besok, ya," katanya sebelum berjalan ke bangkunya. Aku hanya mengangguk sok cool.

***

Rambut jabriknya meningatkanku pada buah durian. Kalau dipikir-pikir, sifatnya mungkin agak mirip juga. Hati-hati kalau mau dekat-dekat dengannya, ia bisa melukaimu karena berduri. Tapi kalau kau tahu bagaimana caranya, kau bisa mendapatkan manfaat darinya.

Aku menatap tulisanku sejenak sebelum menerawang. Sebetulnya aku ingin merobek-robek tulisan itu karena frustrasi, tapi sayang juga. Aku baru mencoba menulis cerita tentang Danang, tapi menulis memang lebih susah daripada menceritakan secara lisan. Padahal sudah lumayan banyak informasi yang kudapatkan darinya.

Aku baru tahu kalau ia pernah bermasalah dengan anak-anak ekskul basket gara-gara bertengkar tentang siapa yang lebih berhak memakai lapangan hari itu, anak ekskul basket atau bola. Ia memang anggota inti tim sepakbola sekolah. Malah, aku baru tahu kalau cita-citanya menjadi pemain sepakbola profesional dan sekarang ia sudah aktif ikut sekolah bola.

Kembali kutatap tulisanku itu.

Norak! Aneh! Nggak jelas!

Aku mengacak-acak rambutku.

"Cherry! Bima bawa es krim, nih. Kamu mau nggak?" Suara Kak Alvin tiba-tiba terdengar.

"Es krim? Mau!!" Aku cepat-cepat menutup bukuku dan menghambur ke ruang depan.

Lanjutkan besok sajalah.

***

Tulisanku sudah bertambah menjadi satu halaman. Masih berupa draft, sih. Kutuliskan saja beberapa ceritanya yang menarik, tapi belum kuramu secara detail dan runtut kejadiannya. Pelan-pelan. Yang penting ada kemajuan. Aku sendiri tidak tahu akan menulis tentangnya sampai mana. Memangnya ia akan bercerita padaku sampai mana? Biarlah. Toh aku sangat suka mendengar cerita-ceritanya.

"Gue ... naksir seseorang," katanya tiba-tiba. Aku mendongak, menghentikan tulisanku.

"Anak sekolah ini juga, sih. Angkatan kita. Anaknya mungil, tapi dewasa."

Aku tertegun mendengar ceritanya. Lamat-lamat, aku bisa kembali mengumpulkan kesadaranku dan kembali  merespon dengan normal, kembali menuliskan potongan ceritanya di buku catatanku.

Sayangnya, cerita tentang cewek yang dia taksir itu hanya berhenti di sana. Aku hanya mendapatkan sedikit gambaran saja.

Seangkatan, mungil, dan dewasa. Bolehkah aku berharap?

Aku masuk kategori pertama, jelas. Yang kedua juga sudah pasti. Semua orang selalu mengatakan badanku terlalu pendek--yang lebih baik hati menyebutnya mungil--untuk anak-anak seumurku. Kalau dewasa ... di rumah, sudah pasti semua orang setuju untuk menyebutku kekanakan, tapi aku selalu berusaha terlihat dewasa di sekolah. Dan rasanya itu berhasil ... kan?

***

Aku sedang melanjutkan ceritaku tentang cewek yang mirip apel saat Danang tiba-tiba menghampiriku dengan wajah sumringah.

"Cher! Tebak!" katanya. Aku mengernyit.

"Dateng-dateng udah nyuruh orang nebak-nebak. Tebak apaan?"

Danang masih memasang wajah sumringahnya. Ia membiarkanku mengernyit beberapa lama sebelum berkata, "Gue udah jadian."

DEG!

"Ja ... dian?" Aku mengulangi.

Ia mengangguk dengan penuh semangat. Kemudian, dari bibirnya mengalir cerita tentang proses pendekatannya pada Tanya, anak kelas sebelah, hingga proses penembakannya kemarin sepulang sekolah. Aku hanya bisa tersenyum kecut.

"Eh, sori. Gue gangguin lo lagi nulis ya?" katanya tiba-tiba. Aku bahkan tidak bisa sekadar berkata tidak.

Ia melirik tulisanku sepintas dan berkata, "Oh, tentang Si Apel itu lagi ya? Yang tentang gue, dong. Lo boleh lho nulis tentang PDKT yang gue ceritain tadi. Proses nembaknya juga oke, kan?" katanya sambil nyengir.

Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Sori, Nang.... Kayaknya gue nggak bisa lanjutin cerita lo, deh. Gue ... mau fokus sama cerita Si Apel ini."

Danang menatapku beberapa saat, tapi tidak terlihat raut curiga sama sekali di wajahnya. Akhirnya ia mengangkat bahu, "Ya, apa boleh buat. Nggak apa-apa, kok. Gue kan cuma iseng aja. Lagian Si Apel ini kan emang udah duluan. Hehehe..."

Aku membalas ucapannya dengan senyum, lalu memberi gesture agar ia meninggalkanku karena aku ingin kembali bekerja.

Saat ia sudah pergi, aku menambahkan tulisan di bagian bawah bukuku,

Apel diam-diam menangis. Untuk pertama kalinya ia menyadari kalau ia tidak akan pernah bisa bersanding dengan Durian. Ia adalah Durian, Raja dari Segala Buah. Kau mengharapkan apa?

-------------------

.
.
.
Lagi-lagi ending yang aneh.

Ah, sudahlah....

4 comments:

  1. Siapa bilang aneh ending-nya?
    Saya suka ko!
    wakakkaka

    Ruru tulisannya makin lama makin asik, dari hal simple bisa dibikin kaya gini, itu yang gak pernah kepikiran sama orang yang selalu mau heboh kaya saya.

    Ternyata tulisan itu terkadang bukann dari ide cerita yang beda aja, bahkan dari hal yang common dan biasa bisa asik kaya gini.

    Apa lagi? Eyd? Minta aja sonoh sama editor lain *disiram es kelapa*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih. Awawawawa~ #plak

      Bagian mananya ya yang asyik? Biar bisa nulis begitu lagi. Haha...

      Delete
    2. Kalau bagaian mana yang asik emang gak bisa terlihat secara satu kesatuan, tapi secalara keseluruhan setelah dibaca ada nuansa asik yang tercipta.

      Penggambaran si tokoh dengan karakternya, kadang cara pandang dan pikir si tokoh yang buat eke suka. Padahal, bukan tokoh yang punya keunikan atau karakter yang kuat...

      Delete
    3. Sorry lagi ngantuk. Banyak typo, wakakkaka

      Delete