Friday, May 3, 2013

Rumus 7 Detik

Sebuah flash fiction (ketiga) yang diikutsertakan dalam kuis yang diadakan oleh Mbak Primadonna Angela via twitter. #nulisyuk

---------

 Rumus 7 Detik

---------


7 detik adalah waktu yang ia butuhkan untuk menoleh.

1... 2... 3... 4... 5... 6... 7.

KLIK!

Aku mentekan tombol shutter saat sampai pada hitungan tujuh, tepat saat Mila menoleh. Seperti biasa, ia segera mendelik marah ke arahku sambil berseru, "Hapus!"

Dan seperti biasa juga, aku hanya menjulurkan lidah, berkata "Nggak mau!" sambil menjauhkan kamera dari jangkauannya.

'Sadar kamera', itu istilah yang sering dipakai untuk menyebut orang-orang seperti Mila. Selalu sadar bila ada orang yang mengarahkan kamera padanya. Bedanya dengan orang-orang 'sadar kamera' yang lain, Mila tidak suka difoto. Ia menyadari kamera untuk kemudian menghindarinya.

"Gue bilang hapus! Gue kan udah sering bilang kalo gue nggak suka difoto!" serunya sambil mendelik.

"Foto Nona Mila mahal, tahu. Eksklusif sih," kataku sambil terkekeh.


Ya. Cuma kameraku yang tidak pernah berhasil dihindarinya. Itu karena setelah berkali-kali bereksperimen, aku berhasil menemukan celah. Aku tahu bahwa ia selalu menoleh pada detik ketujuh. Detik ketujuh saja, karena setelah itu ia pasti segera membuang muka.

"Aldi!" Muka Mila semakin merah mendengar ucapanku.

Mila yang cantik, Mila yang ditaksir banyak cowok di sekolahku, Mila yang tidak suka difoto. Manis sekali kalau wajahnya sedang memerah begitu. Rahasia saja, sebetulnya aku juga salah satu orang yang naksir berat padanya.

Aku pertama kali mengenalnya dari desas-desus di klub fotografi sekolah. Mereka mengeluhkan susahnya mendapat gambar seorang primadona di kelas sebelas. Aku yang cinta memotret, khususnya memotret manusia, tentu jadi penasaran. Akhirnya berkali-kali aku mencoba memotretnya sampai aku mendapatkan rumus tujuh detik. Dan gara-gara itu, banyak orang yang mulai mengenalku sebagai fotografer eksklusif foto-foto Mila. Karena itu juga Mila jadi mengenalku yang notabene adalah adik kelasnya.

"Nyebarin foto orang tanpa izin tuh pelanggaran privasi, tahu!" katanya sewot, membuatku kembali nyengir lebar.

Mauku juga menyimpan semua foto-foto ini sendiri. Tapi, banyak yang mau membayar mahal, sih. Tentu saja foto-foto yang terbaik selalu kusimpan untuk diriku sendiri. Hehehe...

***

Akhirnya aku mendapat kesempatan untuk magang sebagai fotografer di salah satu media online. Gajinya tidak seberapa, pekerjaannya juga tidak betul-betul pas dengan minatku, tetapi pekerjaan ini sangat penting untuk menambah pengalamanku. Lagipula aku beruntung karena mereka mau menerima anak sekolahan sepertiku.

Hari ini, untuk pertama kalinya aku akan menemani salah satu reporter senior meliput langsung ke lokasi kecelakaan. Beritanya masih fresh. Kecelakannya baru terjadi sekitar lima belas menit yang lalu. Aku dan Bang Indra yang kebetulan sedang nongkrong tak jauh dari tempat itu segera diutus untuk meliput. Jantungku berdebar-debar karena katanya, si korban yang tewas di tempat masih ada di sana, belum diangkat oleh petugas. Aku dan Bang Indra cepat-cepat kabur menuju lokasi, berharap sampai sebelum korban dibawa pergi.

Kami beruntung. Rupanya petugas belum sampai di lokasi karena terjebak macet. Biasa, Jakarta. Dan aku bersyukur karena artinya aku bisa mendapatkan pengalaman pertamaku memotret mayat yang belum tersentuh.

Aku dan Bang Indra cepat-cepat menguak kerumunan, bergabung degan beberapa pers yang sudah ada di sana.

Saat melihat korban yang tewas itu, aku berhenti bernapas. Kondisinya mengenaskan, dengan kepala yang nyaris hancur. Tapi wajahnya masih bisa dikenali.

"Woi! Di! Cepetan difoto! Petugas udah dateng tuh." Bang Indra menyadarkanku.

Perlahan aku mengangkat kameraku, membidik sang korban.

1... 2... 3... 4... 5... 6.. 7.

KLIK!

Kenapa kamu nggak menoleh, Mila?

2 comments:

  1. Ini Flashfic yang paling eke suka, kenapa? kenapa?
    Gak tau alasanannya, tapi ceritanya beneran eke suka... kenapa? kenapa?

    Tanyakan pada rumput yang bergoyang. *ditimpuk kamera*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih~ Saya juga paling suka yang ini. Wahahaha... Tapi pas masukin di KBM ditanya "pesannya apa?". Er... saya tak memikirkan itu #ditabok. Sepertinya memang harus belajar bikin tulisan yang 'berisi', nggak cuma 'bagus'.

      Delete