Wednesday, May 22, 2013

Percaya

Hari kedua tantangan sehari satu flash fic bersama Zuu (yang sayangnya semalam saya menyerah karena diserang virus super ganas bernama kantuk).

Prompt hari ini (eh, maksudnya kemaren): PERCAYA
----------------

Percaya

"Percaya, deh! Kamu itu satu-satunya cewek yang aku cintai di dunia ini."

Pertama kali mendengar kalimat yang diucapkan Agus, pacarku, aku melambung. Aku percaya.

Tatapan lembutnya, perhatiannya, kasih sayangnya. Aku merasa sebagai pacar paling beruntung di dunia.

Tapi itu dulu.

Kini, setelah tahu bahwa ia mengucapkan kalimat itu pada semua mantan pacarnya--yang omong-omong aku baru tahu kalau jumlahnya diatas sepuluh!--aku sudah tidak percaya lagi. Apalagi setelah melihat sendiri kalau ia masih jalan dengan beberapa wanita yang katanya adalah mantannya.


Ia sudah mengkhianati kepercayaanku! Padahal kupikir ia sungguh-sungguh mencintai aku saja!

Aku jadi teringat kata-kata Rani, temanku yang tegas dan bertekad tidak akan pernah pacaran.

"Lo jangan percaya sama kata-kata cowok, Ra! Mereka gombal. 'Kaulah satu-satunya dalam hidupku' lah, 'kaulah pujaan hatiku' lah. Iih!" Rani memasang tampang jijik sebelum melanjutkan, "Kalo mereka serius, mestinya mereka langsung lamar."

Saat itu aku mencibir. Kupikir Rani hanya sirik karena aku punya pacar yang sempurna--ini penilaian pribadiku, sih. Tapi sekarang aku tahu Rani benar.

Laki-laki tidak bisa dipercaya.

***

"Aku akan membahagiakanmu, Ra. InsyaAllah. Kamu mau, kan?"

Laki-laki itu menatapku dengan wajah serius. Menunggu responku. Saat itu kami sedang berada di rumahku, dikelilingi orangtuanya dan orangtuaku.

Aku terdiam sejenak sebelum mengangguk.

Teringat percakapanku dengannya beberapa waktu yang lalu.

"Kita emang nggak boleh terlalu percaya sama manusia, Ra. Manusia itu makhluk pelupa. Hari ini bilang A, belum tentu besok mereka ingat," katanya. "Yang harus kita percaya sepenuhnya cuma Tuhan. Allah." Ia memberi jeda sebelum melanjutkan, "Tapi yang namanya manusia kan pasti butuh sesamanya. Jadi menurutku sih, percaya pada sesama makhluk itu penting. Baik cewek, maupun cowok."

Kata-katanya itu yang membuatku berpikir. Logika sederhana, tapi entah kenapa terasa begitu mengena bagiku. Dan sejak saat itu, aku memutuskan untuk percaya padanya. Sedikit saja. Karena manusia adalah makhluk pelupa.

"Aku mau."

Ya. Kuputuskan untuk percaya. Bukan padanya, tapi pada Sang Khalik. Aku percaya pada-Nya yang selalu menciptakan sekenario indah dalam hidup makhluk-Nya. Dan aku percaya, pertemukanku dengan laki-laki ini adalah salah satunya.


_Fin_

-----------

Kok rasanya geje gini ya? *tiba-tiba pundung*

4 comments:

  1. Aduh Mba Editor, ampun deh...
    emang saya yang gak jeli, apa emang gak ada kesalahan penulisan?
    Jangan-janagn intinya adalah, kalau nulis dikit, kesalahan penulisan juga dikit? :v

    Tapi ko saya mencium-cium bau colongan juga ya?? Jangan-jangan udah ngebet banget ya 'percaya sama dia yang bisa membahagiakanmu kelak' Ihiiiiy~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bwahahaha... Colongan ape? *tapuk*

      Beda jauh gini kok ceritanya. Wahahaha...

      Anyway, komen tentang ceritaya? Kalo kesalahan penulisan, entah ya.. Kan kau yang mestinya ngecek :p

      Delete
    2. Ceritanya sih alurnya oke aja, cuma kurang khas aja. Entah kenapa kalo cerita ini menurut eke kurang kuat...
      Yang ini kurang bikin 'ohok' punch linenya. *ini ngomong apa sih?* Cerita sebelum n yang sesudah ini bikin 'ohok', jadi yang ini keliatan lebih biasa aja... eee...*patrik : on*

      Yah, tapi menurut eke aja sih... Mungkin orang lain gak. wakkaka

      EYD mash kekontrol laah :D *padahal gak jeli*

      Delete
    3. Ini ngomong apa sih? =)))))))

      Wakakakakak... Okaay~

      Delete