Friday, May 3, 2013

Kotak Mimpi yang Hancur

Sebuah flash fiction (kedua) yang diikutsertakan dalam kuis yang diadakan oleh Mbak Primadonna Angela via twitter. #nulisyuk 


--------

Kotak Mimpi yang Hancur

--------


Kotak mimpiku menghantam tanah. Hancur berkeping-keping.

Bukan orang lain yang menghancurkannya, tapi aku sendiri. Sengaja kotak itu kulempar sejauh-jauhnya, kuhancurkan sampai aku tidak bisa melihat wujud awalnya. Supaya aku tidak lagi terpaku pada kotak itu. Supaya aku tidak mengingat lagi isi kotak itu.

Demi mereka...

Aku hanya ingin membahagiakan orangtuaku. Dan itu bisa terjadi kalau aku menutup kotak mimpiku rapat-rapat, atau membuangnya jauh-jauh. Kupilih yang kedua, karena kotak mimpi yang terjaga dengan segel hanya akan menggelitik rasa penasaran, seperti kotak pandora.

Karena itu, kupilih untuk membuangnya. Menghancurkannya. Menjauhkannya dari hidupku.

"Memaksakan hidup atas pilihan orang lain hanya akan membuatmu menderita."

Kalimat itu seringkali kudengar dan kubaca. Dari sahabat-sahabatku, dari motivator-motivator kondang di TV, dari buku pengembangan diri. Biasanya aku mengacuhkan mereka. Ini pilihanku. Aku memilih untuk mengikuti pilihan orangtuaku.


Bertahun-tahun kemudian, kotak yang hancur itu masih menghantuiku. Memaksaku melirik pecahan-pecahan mimpi yang sudah tidak berbentuk.

Apa? Mau kalian apa?

Kalian sudah hancur. Sudah kubuang. Sudah tidak berbentuk. Kenapa kalian masih mengejarku? Kalian ingin aku menyatukan kalian lagi menjadi sebuah kotak yang utuh, dengan mimpi-mimpi manis di dalamnya? Kalian tidak akan berhasil. Kalian sudah hancur.

Aku terus meyakinkan diri bahwa jalan yang sekarang kupilih adalah jalan yang tepat. Meski aku melaluinya tanpa membawa kotak mimpiku. Meski kotak mimpi yang hancur itu terkadang masih menghantuiku.

Lalu tiba-tiba kamu datang...

"Kamu hebat. Orangtuamu pasti bangga," katamu saat pertama kali kita bertemu. Lalu kamu melanjutkan, "Maukah kamu bekerjasama denganku? Aku punya banyak mimpi yang ingin kukejar. Dan aku yakin, dengan bantuanmu, mimpi-mimpiku pasti semakin mudah kudapatkan."

Kamu menceritakan banyak hal padaku. Membagi mimpi-mimpimu.

"Mana mimpimu?" tanyamu.

Dan saat aku mengatakan bahwa aku sudah menghancurkannya, kau malah tersenyum. Kau membantuku mengumpulkan pecahan-pecahan dari kotak mimpiku, lalu menatanya dalam kotak mimpimu.

"Mulai sekarang, ini kotak mimpi kita," katamu.

Aku tersenyum dan yakin, mulai saat itu kotak mimpi yang hancur tidak akan pernah menghantuiku lagi.

No comments:

Post a Comment