Friday, May 3, 2013

I'm (Not) a Big Brother Complex

Sebuah flash fiction yang diikutsertakan dalam kuis yang diadakan oleh Mbak Primadonna Angela via twitter. #nulisyuk 

--------

I'm (Not) a Big Brother Complex

--------

Banyak orang yang bertanya padaku, bagaimana rasanya menjadi seorang big brother complex. Kukatakan saja, aku bukan salah satu dari mereka. Bukan.

Memangnya apa sih yang membuat mereka menganggapku big brother complex? Karena aku sering nempel-nempel sama Mas Irwan? Ya ampuun. Nggak, aku bukan seorang pengidap big brother complex, kok!

Kulihat sepintas sosok Mas Irwan berjalan melewati ruang tamu. Cepat-cepat aku melompat menghampirinya.

"Mas Irwan! Mau ke mana? Mau jalan-jalan ya? Neila ikut!" kataku seraya menggelayut manja di lengannya.

Iya, memang menggelayut manja. Tapi aku betul-betul bukan pengidap big brother complex, kok! Beneran deh!

Mas Irwan tersenyum, dengan senyum yang sepertinya agak terpaksa. "Jangan sekarang ya, Nei. Aku mau pergi sama Gita."

Mataku segera memicing saat mendengar nama itu. Lagi-lagi dia! Ha? Iya, aku memang cemburu. Tapi beneran! Aku bukan pengidap big brother complex!


"Neila ikut! Pokoknya Neila mau ikut!" Aku mulai merajuk. Biar saja dianggap anak-anak. Selama ini ia memang selalu menganggapku anak-anak, kok. Apalagi dengan perbedaan umur kami yang terpaut delapan tahun.

"Nei...." Mas Irwan menyebut namaku lembut. Aku suka sekali mendengar caranya memanggilku seperti ini. Tapi aku juga tahu, kalau dia menyebut namaku dengan cara begini, kalimat berikutnya biasanya berisi penolakan atau bujukan agar aku menjadi anak baik.

"Aku sama Gita mau milih-milih baju dan segala keperluan buat pernikahan nanti. Lama banget, lho. Bisa seharian," katanya.

Hu-uh! Kenapa juga Mas Irwan harus nikah sama Si Tante? Bukan cuma Si Tante sih. Siapapun yang dekatapalagi menikahsama Mas Irwan juga pasti aku judesin. "Salah satu ciri seorang big brother complex tingkat akut," kata sahabatku, Aliya. Padahal sudah kubilang kalau aku bukan seorang big brother complex.

"Nanti Neila bantu pilihin," kataku masih merajuk. Bohong pastinya. Aku cuma nggak mau membiarkan mereka berduaan.

"Wan, pergi aja sana. Cuekin aja si Neila. Kamu harusnya tegas sama dia." Sebuah suara menginterupsi kami.

"MAMA!" Aku berseru dan cemberut. Kesal mendengar perkataan Mama.

"Nei, kamu tuh udah gede. Malu dong kalo nempel-nempel sama Om kamu terus," kata Mama lagi. Kemudian Mama menyuruh Mas Irwan segera pergi meninggalkan aku yang masih pasang aksi cemberut.

Lihat kan? Aku bukan big brother complex, tapi...apa sebutannya? Uncle complex?

No comments:

Post a Comment