Monday, May 27, 2013

[Flash fiction] Tes

Okeh. Saya mengaku. Saya inget kalo saya harusnya ngingetin Zu buat nentuin tema hari Sabtu kemaren. Tapi saya sangat amat mengantuk sekali, sampe-sampe males ngapa-ngapain, jadilah saya pikir libur dulu. Minggu mau ngingetin, tapi ternyata saya nggak di rumah seharian. Jadi nggak jadi <===EXCUSE nih! Silakan ditabok

Jadi, mari kita posting flash fiction yang harusnya diposting hari Jumat kemaren. (Haha. Beneran mesti ditabok kayaknya)
Prompt: Tes
Kata yang harus ada di kalimat pertama: Cerah

------------

Biasanya, senyumannya selalu berhasil membuat hariku lebih cerah. Sesuram apapun hari ini, ia selalu berhasil membuatku bersemangat lagi dengan senyumnya. Tapi kali ini berbeda. Aku hanya meringis saat ia menyambutku dengan senyum malaikatnya itu.

"Bunda kenapa?" tanyanya. Raut khawatir terlihat di wajah polosnya. Kedua tangan mungilnya menyentuh pipiku. Matanya yang bulat menatapku lekat.

Aku ingin menangis.

"Nggak apa-apa, Sayang," kataku lembut. "Bia main sama Bi Imah dulu, ya. Tadi Bunda lihat ada odong-odong lewat, lho."

"Odong-odong?" Kali ini matanya kembali berbinar ceria. "Bia mau naik odong-odong! Bi Imaaaaah! Ada odong-odooooong!" Ia berlari ke arah dapur sambil berteriak-teriak heboh.

Aku memandangnya sambil tersenyum kecut, lalu menghempaskan tubuhku ke sofa.


Kubuka kembali amplop yang baru kuterima tadi. Tidak ada yang berubah. Aku tidak salah lihat.

Ponselku berdering, menampilkan caller ID yang paling tidak ingin kulihat sekarang ini. Dengan enggan, aku menekan tombol accept dan segera tersambung ke si penelepon.

"Kau sudah lihat hasilnya?" Tanpa mengucap halo atau semacamnya, suara berat itu menodongku. Tidak mendapat jawaban dariku, ia melanjutkan, "Kau tahu pilihannya, Melinda. Kau ingin aku memberitahukannya langsung pada suamimu?"

"Aku mengerti," kataku dengan suara tercekat. "Akan kukirimkan uangnya hari ini. Jangan dekati Bianca atau suamiku!" Aku berusaha terdengar mengancam, tapi yang kudapatkan malah suara tawanya.

"Itu tergantung berapa banyak uang yang masuk ke rekeningku nanti."

Berengsek! Orang ini betul-betul berengsek!

"Kutunggu uangnya, Melinda Sayang," katanya, lalu sambungan diputus.

Kutatap amplop yang masih kupegang itu dengan tatapan ganas, lalu kurobek-robek amplop beserta isinya hingga sekecil yang kubisa.

Amplop berisi surat hasil tes dna. Surat yang memastikan siapa ayah biologis Bianca. Surat yang mengingatkanku tentang kekhilafanku di masa lalu.

---------------

Ini... baiknya judulnya apa ya? Kayaknya kalo tes aneh... Haha...

2 comments:

  1. Penyampah dataaaang~
    wakakaka

    Coba eke mau tanya sekaligus koreksi, kan jadi sama-sama belajar....

    1. "Dengan enggan, aku menekan tombol accept dan segera tersambung ke si penelepon."
    Setelah enggan gak usah pake koma kayanya gak papa, ya kan?

    2. *mati kutu* *gak dapet celah yang di kritik* *istigfar*

    3. Kalo gitu eke saran judul aja deh ya, gimana judulnya " anakku bukan anakmu" ?
    Kayanya bisa laris di pasaran. :3

    *dibacok*

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1) Iya, kalo nggak pake koma juga bisa. Hahahaha

      2) Wakakakakak...

      3) *tabok bolak balik*

      Ini beneran nyampah ya? =))))

      Delete